Rabu, 17 Januari 2018

Riba Lisan


Sahabat, kemajuan teknologi dewasa ini membuat orang mudah mengakses sumber informasi. Informasi mengenai islam dan kajian keislaman dengan mudah kita akses di genggaman. Begitu juga sebaliknya, hal-hal yang berkonten negatif berlalu lalang.

Pesan Nabi saw pada orang yang punya mulut dan tangan:

لا تقل بلسانك إلا معروفا ولا تبسط يدك إلا إلى خير

Artinya: "Janganlah kamu mengucapkan dengan lisanmu kecuali yang baik. Dan janganlah kamu membentangkan tanganmu kecuali kepada kebaikan." [HR. Ath-Thobroni]

Jumat, 12 Januari 2018

Sahabat yang Sholeh


Sudah puluhan tahun berlalu, si otong tampak tidak mengalami perubahan. sekarang umurnya sudah menginjak 18 tahun dan baru masuk semester 1 di perguruan tinggi ternama di jakarta. Belum tampak, tanda-tanda yang berarti dari sikap, cara berpikir, dan tutur katanya. Sang ibu, akhirnya dilema, antara pasrah atau terus mengasah asa di tengah kondisi si buah hati semata wayangnya untuk tampil bak arjuna.

Sahabat, akhir-akhir ini saya sering menerima keluhan para orang tua yang bertanya, bagaimana cara mengubah anaknya agar menjadi anak yang sholeh. ada yang bertanya tipsnya apa? Bagaimana cara keluarga dulu mendidik saya hingga menjadi seperti ini.

Selasa, 09 Januari 2018

Al-Anshar: Lebih Mementingkan Orang Lain disaat Sangat Butuh


Shahih Bukhari 3514:  Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau datangi istri-istri beliau.

Para istri beliau berkata; "Kami tidak punya apa-apa selain air".

Maka kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada orang banyak: "Siapakah yang mau mengajak atau menjamu orang ini?".Maka seorang laki-laki dari Anshar berkata; "Aku".

Sahabat Anshar itu pulang bersama laki-laki tadi menemui istrinya lalu berkata; "Muliakanlah tamu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ini".

Istrinya berkata; "Kita tidak memiliki apa-apa kecuali sepotong roti untuk anak kita".

Sahabat Anshar itu berkata; “Suguhkanlah makanan kamu itu lalu matikanlah lampu dan tidurkanlah anakmu".

Ketika mereka hendak menikmati makan malam, maka istrinya menyuguhkan makanan itu lalu mematikan lampu dan menidurkan anaknya kemudian dia berdiri seakan hendak memperbaiki lampunya, lalu dimatikannya kembali.

Suami- istri hanya menggerak-gerakkan mulutnya (seperti mengunyah sesuatu) seolah keduanya ikut menikmati hidangan. Kemudian keduanya tidur dalam keadaan lapar karena tidak makan malam.

Ketika pagi harinya, pasangan suami istri itu menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Maka beliau berkata: "Malam ini Allah tertawa atau terkagum-kagum karena perbuatan kalian berdua".

Maka kemudian Allah menurunkan firman-Nya dalam Q.S. al-Hasyr ayat 9 yang artinya: ("Dan mereka (kaum anshar) lebih mengutamakan orang lain ( kaumMuhajirin) dari pada diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan apa yang mereka berikan itu. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung").

Sahabat, itulah gambar orang-orang ansor; pembela dan penolong rasul dan yang menampung beliau dan saudara-saudaranya yang hijrah dalam kemiskinan. Mereka menetap dalam kota madinah dan tetap teguh dengan imannya, lalu menunggu saudaranya yang hijrah dan meninggalkan kampung halamannya.

“Mereka itu mencintai orang yang berhijrah kepada mereka”. Tidak ada rasa benci/ muak atau bosan dengan saudara seiman yang baru datang itu, melainkan rasa kasih yang ada. “Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin)” Artinya tidaklah ada rasa dengki atau iri hati kaum Anshar melihat Allah dan Rasul-Nya memberikan anugrah berlebih kepada saudara-saudara kaum Muhajirin itu. “dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).”

Sahabat, apakah Anda pernah merasakan, melihat, atau mendengar ada orang yang mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, padahal mereka sangat memerlukan sesuatu yang mereka berikan itu hari ini? mungkin ada, tapi tentu jarang. Semua itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang hatinya telah diterangi cahaya iman, mengenal siapa Rabb yang Maha Melihat dan berhak disembah, mengenal akhirat, dan mencintai Rasul-Nya.

Bisakah Anda membayangkan, kecintaan mereka kaum anshor kepada muhajirin tidak diikat oleh tali kekeluargaan, mereka bukan sedang menunggu anak, bapak, paman, bibi, atau saudara sedarah, tetapi mereka diikat dengan tali yang lebih kokoh yaitu tali keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Tentu, peristiwa ini mengajarkan kepada kita bahwa hanya karena dorongan imanlah kita bisa menyatu, senasip seperjuangan, rela berkorban untuk berbagi.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...