Jumat, 18 Oktober 2019

Takkan Dibiarkan Sendiri


Abduldaem Al Kaheel, ulama pakar ilmu mukjizat Al Qur'an dan sunnah bercerita, "20 tahun lalu, saya mulai melakukan pendalaman Al Qur'an. Sedikit demi sedikit, saya menguak jawaban berbagai tanda tanya yang belum pernah saya peroleh sebelum itu.

Salah satu hal yg penting dari jawaban itu adalah, bahwa di antara kemukjizatan Al Qur'an yaitu kemampuan mencetuskan iiqaazh quwwat at  taghyiir bi daakhil, pembangkitan kekuatan untuk berubah dari dalam diri. Kekuatan itu, ada dalam diri manusia, tapi ia tersembunyi dan dalam kondisi tertidur. Hingga datang ayat-ayat Al Qur'an yang membangunkannya, lalu mendorong langkah untuk memfungsikannya.

Kekuatan untuk berubah itu, adalah kekuatan raksasa yang ada dalam diri setiap orang. Saya istilahkan dengan "quwwatu at taghyiir" atau kekuatan perubahan. Kekuatan itulah yang bisa menjadikan seseorang memiliki harta, berpikir, inovatif, menjadi pemimpin, seniman, para ilmuwan dan sbgainya..."

Kita semua, pasti ingin berubah. Berubah menjadi yang lebih baik. Berubah menjadi yang lebih sempurna. Berubah meninggalkan keburukan. Berubah menjauhi segala yang telah atau pernah menyulitkan.

Kita semua, pernah memiliki keinginan untuk berada di ranking pertama, dalam urusan tertentu. Kita semua, pernah memimpikan sesuatu yang ideal, untuk kita capai dalam hidup. Kita semua, pernah menginginkan kehidupan ini tidak berjalan stagnan, tapi berkembang kepada sesuatu yang lebih baik.

Tapi, pernahkah kita berpikir serius untuk melakukan persiapan untuk mencapai perubahan yang pernah kita inginkan itu ? Pernahkah kita berusaha serius untuk menduduki posisi nomor 1 dalam urusan tertentu yang kita inginkan itu ?

Pernahkah, kita melakukan langkah demi langkah yang teratur dan terus menerus hingga kita mencapai keinginan itu ?

Hampir sama, pertanyaan kita umumnya adalah, mengapa tahun demi tahun berlalu, dan kondisi kita tidak berubah seperti yang kita inginkan ?

Menjadi yang Terbaik

Bukan kesenangan dan bukan penderitaan yang menjadi tujuan akhir atau jalan kita.

Namun untuk bertindak supaya setiap hari kita bergerak maju lebih jauh daripada hari ini.

Mungkin saat ini Anda tidak berada di tempat seharusnya.

Mungkin Anda tidak menjadi seperti yang Anda inginkan. Anda juga tidak harus menjadi Seperti keadaan Anda dahulu. Dan Anda tidak harus mencapai posisi tertentu.

Anda harus belajar menjadi yang terbaik yang dapat Anda lakukan sekarang ini.

Mungkin Anda tidak dapat mengubah dimana Anda harus mulai, tetapi Anda bisa mengubah Arah yang Anda tuju.

Bukan soal apa yang Anda lakukan, tetapi apa yang sedang Anda lakukan itulah yang memiliki arti.

Metro, 12 Safar 1441 H

Sabtu, 28 September 2019

Diabolisme Intelektual

Oleh: Dr. Syamsuddin Arif*

Diábolos adalah Iblis dalam bahasa Yunani kuno, menurut A. Jeffery dalam bukunya The Foreign Vocabulary of the Qur’an, cetakan Baroda 1938, hlm. 48. Maka istilah “diabolisme” berarti pemikiran, watak dan perilaku ala Iblis ataupun pengabdian padanya. 

Dalam kitab suci al-Qur’an dinyatakan bahwa Iblis termasuk bangsa jin (18:50), yang diciptakan dari api (15:27). Sebagaimana kita ketahui, ia dikutuk dan dihalau karena menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada Adam. Apakah Iblis atheist? Tidak. Apakah ia agnostik? Tidak. 

Iblis tidak mengingkari adanya Tuhan. Iblis tidak meragukan wujud maupun ketunggalan-Nya. Iblis bukan tidak kenal Tuhan. Ia tahu dan percaya seratus persen. Lalu mengapa ia dilaknat dan disebut ‘kafir’? Di sinilah letak persoalannya.

Kenal dan tahu saja, tidak cukup. Percaya dan mengakui saja, tidak cukup. Mereka yang kafir dari kalangan Ahli Kitab pun kenal dan tahu persis siapa dan bagaimana terpercayanya Rasulullah Shalaullahhu 'alaihi wassalam, sebagaimana orang tua mengenali anak kandungnya sendiri (ya’rifunahu kama ya’rifuna abna’ahum). Namun tetap saja mereka enggan masuk Islam.

Jelaslah bahwa pengetahuan, kepercayaan, dan pernyataan harus disertai dengan kepatuhan dan ketundukan, harus diikuti dengan kesediaan dan kemauan untuk merendah, menurut dan melaksanakan perintah. “Knowledge and recognition should be followed by acknowledgement and submission, ” tegas Profesor Naquib al-Attas.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...