Sabtu, 18 November 2017

Gejala Afluenza : Demam Kemewahan dan Solusi Mengatasinya

Hidup di kota metropolitan kita akan melihat, mendengar, dan merasakan kesunyian di tengah berlimpahannya materi yang datang menghampiri. Tidak sedikit orang yang memiliki penghasilan yang tidak berlimit itu merintih, terasing, dan diliputi kecemasan dalam hidupnya.

Kita mungkin akan salut dan bangga mendengar orang yang berjuang dan merintis usaha dari zero to hero. Akan tetapi, yang perlu diperhatikan juga adalah mengenali gejali penyakit sosial yaitu Afluenza. Apa itu?

Perpaduan affluence (kemakmuran) dan influenza (flu), affluenza adalah istilah yang digunakan oleh pengritik konsumerisme. Ia diduga telah pertama kali digunakan pada tahun 1954 namun mendapatkan pijakan sebagai konsep dengan sebuah film dokumenter PBS tahun 1997 dengan nama yang sama dan buku berikutnya, Affluenza: The All-Consuming Epidemic (2001, direvisi tahun 2005, 2014).

Karya-karya ini mendefinisikan affluenza sebagai "kondisi beban berlebihan, hutang, kegelisahan, dan pemborosan yang menyakitkan dan menular secara sosial, yang disebabkan oleh pengejaran lebih banyak hal". Istilah "affluenza" juga telah digunakan untuk merujuk pada ketidakmampuan untuk memahami akibat-akibat dari tindakan-tindakan seseorang karena keistimewaan keuangan.

Jumat, 17 November 2017

Apa Sebenarnya Problematika yang dihadapi Umat Islam saat ini?

Kurang lebih 1,5 milyar Jumlah umat Islam atau sepertiga penghuni bumi ini, tersebar di berbagai negara, baik di negera-negara Islam maupun non Islam. Mengacu pada tingkat kesuburan perempuan Muslim yang saat ini mencapai 3,1 bayi per perempuan, jumlah populasi kaum Muslim di dunia pada 2050 akan meningkat sebanyak 70%, menjadi 2,8 miliar orang atau 30% dari penduduk Bumi. Jumlah tersebut sekaligus menyamai populasi umat Kristen di dunia. Selain itu kaum Muslim juga akan mewakili sebanyak 10% dari total populasi penduduk Eropa.

Namun sangat disayangkan jumlah yang begitu besar ini tidak dibarengi dengan kualitasnya. Hampir semua negara Islam bergantung pada negara barat, sehingga berdampak pada kurang pengaruhnya peranan kaum muslimin dalam kondisi politik dunia. Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi, umat Islam di berbagai negara hanya menjadi objek segala kepentingan barat, merekalah penentu segala kebijakan, baik dibidang politik, ekonomi, sosial, budaya, ilmu pengetahuan bahkan agama.

Ketika mata dan pikiran kita di bombardir dengan informasi dari berbagai media, baik elektronik maupun cetak. Ketika orang benar dikriminalisasikan, yang salah merasa nyaman dengan kesalahannya. Kudeta, konflik yang tidak berkesudahan di berbagai belahan dunia (Khususnya negara-negara yang mayoritas berpenduduk islam). Di tengah berbagai fenomena itulah hendaknya kita kembali bertanya, apa problematika yang sebenarnya sedang dihadapi umat islam saat ini?

Sesungguhnya problema yang dihadapi umat Islam pada saat ini bersumber dari berbagai pengaruh negatif yang dipropagandakan musuh di tengah umat Islam. Pengaruh-pengaruh negatif itu belakangan sukses meracuni pola pikir umat Islam, akidah dan akhlak mereka. Musuh senantiasa melakukan segala upaya untuk mempengaruhi umat Islam.

Ada pun yang menjadi beban pikiran kita dalam persoalan akhir-akhir ini adalah apa yang menimpa para ulama kita. Tidak bisa dipungkiri, para ulama seolah lambat dalam menyikapi persoalan yang membelit umat. Mereka kurang sigap dalam mengemban tugas dakwah dan mengentaskan umat manusia dari ketidak-tahuan. Wawasan mereka sempit tatkala berinteraksi dengan kelompok di luar mereka sehingga tidak ada ikatan kerja sama yang erat di antara para ulama.

Rabu, 15 November 2017

Kisah Hikmah: Sepele

Seorang wanita muda tengah duduk santai di dalam bus yang melaju ke tengah kota.  Di satu pemberhentian bus, seorang wanita tua yang cerewet dan berisik naik ke dalam bus dan duduk di samping wanita muda tadi.  Tas-tas bawaannya yang berat dia tumpuk begitu saja di atas kursi, membuat wanita muda itu harus menggeser duduknya sambil setengah terjepit di antara tas-tas berat dan jendela bus.

Seorang pemuda yang duduk di bangku sebelah melihat kejadian itu dengan kesal, dan bertanya kepada wanita muda itu, "Kenapa kamu tidak bicara saja, katakan pada wanita tua itu bahwa kamu jadi terganggu..."

Wanita muda itu menjawab sambil tersenyum:

 "Aku rasa tidak perlu bersikap kasar dan beradu argumentasi untuk sesuatu yang sepele seperti ini, perjalanan bersama kita ini terlalu singkat.  Saya juga akan turun di perhentian bus berikutnya di depan nanti"

Jawaban wanita muda tadi sangat pantas untuk ditulis dengan huruf emas:

 "Kita tidak perlu berdebat untuk sesuatu yang sepele Perjalanan kita bersama amat singkat."

Sahabat, Alangkah indahnya kalau masing-masing kita busa menyadari bahwa perjalanan hidup kita di dunia ini  sangat singkat sehingga kita tidak akan membuang waktu untuk membuat perjalanan hidup kita jadi suram dengan macam-macam perdebatan, atau dengan adu argumentasi yang sengit dan tajam. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...