Catatan Seorang Relawan 1

Gempa Sumbar, menghentakkan mata dan hati Indonesia.
Melalui TV aku melihat Kota yang penuh sejarah itu porak poranda, lalu terbesit dalam hati Untuk dapat melihat dan dapat membantu korban

Kondisi SUMBAR 1 minggu setelah GEmpa

Gempa di sana.
Mimpi itu, seperti tak mungkin, karena tersiar berita untuk menjadi relawan. kita harus melalui proses seleksi yang ketat.
tapi, aku selalu membayangkan untuk dapat berdiri di Hotel Ambachang yang remuk di goncang gempa.
dan Inilah Mimpi yang terwujud karena landasan niat untuk berbagai.

Perjalanan kami ke padang hanya membutuhkan waktu yang lama. Karena keputusan untuk pergi ke padang hanya membutuhkan waktu 5 menit sebagai pertimbangan. Karena kami diberitahu siang untuk berangat besok pagi. Tiba-tiba rencana berubah dan kami harus berangkat malam itu juga. Awalnya kesulitan mencari mobil travel yang berangkat malam. Karena rata-rata mobil tidak ada yang berangkat malam. Tapi, Alhamduliilah akhirnya negosiasi dengan pemilik travel di izinkan. Kebetulan pemilik travelnya adalah orang padang.

Perjalanan dimulai setelah isya dan sampai di padang pukul 8 pagi. Sesampai di padang kami dihadapkan dengan suasana kota padang yang sebagian besar rusak berat. Awalnya tujuan kami ke naggalo tapi karena posko pertama itu tempatnya sedikit terpencil sehingga kesulitan mencari titik posko pertama. Setelah lama mencari, akhirnya posko pertama di temukan di kuaro pangang, kec. Nanggalo.

Ketika baru tiba di posko pertama kami langsung bergegas terjun ke lapangan untuk membagikan sembako kepada para warga. Dan kami menggali lobang di sekitar tenda untuk saluran air hujan. Pengalaman yang seru dan mengangkan ketika ada warga yang rebut ketika pembagian sembako.

Hari-hari kami di sana diisi dengan penuh KECERIAAN karena tim yang ceria dan programmnya pun “RUMAH CERIA” khusus untuki trauma healing. Relawan yang ikut bergabung kemarin dari bandung 2, kang hakmal dan kholik, 4 orang dari Bengkulu, saya, meri, rei, dan fitri, padang 3, ghani, rafit, dan uni Rila…..
Ada yel-yel yang menjadi pembuka di setiap kegiatan kami yaitu,
Tepuk Halo (RUMAH CERIA)


Tim bertanya “BAA KABARNYO HARI KO?”
Lalu anak-anak akan menjawab “
TUBUH WAK (sambil mengangkat kedua tangannya di samping)
PIKIRAN WAK (sambil memegang kepala bagian kiri)
HATI WAK (mendekapkan kedua tangannya ke dada)
SAJUK BANA SAJUK BANA (menggayunkan tangannya ke kiri dan kanan)
KAMILA KAMILA (tangan maju dan mundur)
ALLAHHUAKBAR (tangan di angat ke atas)

Sebenarnya yel-yel itu awalnya diperkenalkan ke anak-anak dalam bahawa Indonesia, tetapi atas inisiatif salah satu relawan dari padang akhirnya di translate.

Awalnya kami harus kerja keras untuk mempersiapkan program yang akan dijalankan. Hingga tidur larut malam, dan pagi harus ke lapangan. Tapi, itu semua dillakukan dengna penuh kegembiraan jadi tidak terasa. Oh ya, ternyata ada sedikit kekeliruan tentang posko pertama kami. Posko yang kami tempati sebenarnya tidak sesuai dengan rencana awal. Karena itu kami tidak enak sebenarnya dengan tuan rumah karena harus memenuhi rumah beliau dengan barang persiapan ke lapangan.

persediaan sembako yang hampir memenuhi rumah beliau. Beliau sangat baik kepada tim. Dan sering memberikan nasehat. Kembali ke Program kegiatan, karena anak-anak sudah masuk sekolah jadi kami terpaksa merubah haluan kerja. Dan akhirnya, kami bekerja sama dengna pihak sekolah untuk memberikan pelatiahn kepada anak-anak di sana. Suasana sekolah san gat memprihatinkan, hancur total, hanya 2 ruangan yang masih layak huni, itu pun bukan ruang kelas, hanya ruang sempit.

Di sela-sela aktivitas sebagai relawan ketika itu kami juga ada program Recovery alias jalan-jalan.

Recovery pertama kami manfaatkan untuk keliling kota padang, dan luar biasa bangunan-bangunan besar banyak yang roboh dan retak-retak. Dari posko kami naik angkot dan tiba di kota padang kami jalan kaki. Ranca bana kota padang, kota yang sangat bersejarah. Di sana kami sempat meninjau hotel ambachang yang hancur.
Agenda recovery ke dua kami ke bukit tinggi, ke lubang jepang, ngarai sianok, dan jam gadang.

Lalu kami beraktivitas satu minggu full. Kegiatannya beruapa outbond, pembinaan kerohanian anak-anak di masjid, perlombaan, pengadaan perpustakaan mini untuk anak-anak.

Setelah beberapa minggu di kurao pagang, akhirnya ketua yayasan Rahmania Foundation datang ke posko dan terjadilah evaluasi besar-besaran, kesimpulannya kami harus membuka posko kedua. Lokais yang dipilh adalah Padang Pariaman. Di sana 97 % bangunan hancur.

Relawan dari Bengkulu tidak lama di posko ke dua karena kami harus ke Bengkulu, tugas kuliah sudah menunggu. Dan baliknya satu persatu. Di posko ke dua relawan dari bandung di kirim lagi 3 orang, kang Adrian, kang gendri dan teh syifa.
Sekian mungkin yang bisa kami ceritakan dari sekelumit perjalanan ke padang.

Terima kasih dan Rasa Syukur atas Kemaha Besaran Allah atas Mimpi-Mimpiku Yang satu Per satu yang telah Terwujud.

Pelepasan dengan Guru di Kuaro Pagang
.
Terus melakukan perbaikan diri, tingkatkan motivasi belajar…

bersambung....

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...