Pendidikan, Kelulusan dan Budaya Corat-Coret

Dalam konteks budaya di indonesia, jika kita berbicara pendidikan kita juga akan bebicara tentang kelulusan, dan akhirnya hasil kelulusan hampir selalu diikuti dengan budaya corat-coret. Banyak timbul pro dan kontra mengenai budaya ini. Akan tetapi, hendaknya sebagai orang-orang yang terpelajar hendaknya kita dapat bijaksana memandang segala sesuatu.

Realitas pendidikan di negara kita semakin mengindikasikan bahwa pendidikan belum dapat menyentuh dimensi dasar fitroh manuisa. Pendidikan tidak lagi memanusiakan manuisa. Akan tetapi, pendidikan hanya menciptakan orang-orang yang semakin cemas akan kehidupan mereka di hari yang akan datang. Pendidikan tidak mampu lagi menciptakan generasi yang berani menatap masa depan dengan mandiri. Pendidikan sekarang telah menjadi racun yang dapat menghancurkan negara ini. Karena, pendidikan tidak mampu lagi membentuk generasi yang kreatif, berani, dan mandiri.

Kelulusan itu bukanlah akhir dari segala-galanya. Kelulusan itu hanyalah teori yang bersifat kognitif yang menjadi tolak ukur bangsa kita selama ini. Kita tidak pernah belajar dari perkembangan ilmu yang semakin pesat. Bahwa kecerdasan intelektual hanya berperan 6 – 20 % terhadap kesuksesan seseorang. Lalu pertanyaannya bagaimana dengan pengajaran di sekolah-sekolah. Bukankah kita hanya dibentuk dengan berbagai sistem yang mengagung-agungkan kognitif. Sedangkan 80 % yang membuat orang sukses adalah jika ia memiliki kecerdasan emosional dan kecerdasaan spritual. Mari sejnak kita renungkan cara pembelajaran kita sekarang. Apakah anak-anak kita selama ini hanya dituntut untuk mampu mengejar nilai tinggi atau kita membentuk generasi bangsa yang mempunyai akhlak dan moral yang tinggi.

Indonesia sangat kaya akan tetapi, yang kita lihat sekarang, negeri in belum makmur dan sejahtera. Bukankah sudah banyak lulusan pendidkan, tetapi kenapa, mereka malah memanfaatkan kepintaran mereka untuk mengambil manfaat sebesar-besarnya dari negara dan alam. Jika ingin mencari jawabannya karena selama ini kita hanya dibentuk oleh sistem pendidikan yang hanya mementingkan kecerdasan intelektual.

Jika kita berbicara mengenai kelulusan maka ada yang perlu dikritisi tentang cara pengukuran tingkat keberhasilan siswa melalui angka. Lagi-lagi pendidikan sekarang hanya mementingkan kecerdasam intelektual. Kecerdasan ini penting, tetapi porsinya harus tetap diperhatikan. Maka dari itu, hendaknya setiap kita yang merasa terpanggil dengan keterpurukan pendidikan kita sekarang ini untuk berbenah diri. Memperbaiki keluarga kita bagi yang ada di rumah. Memperbaiki siswa-siswi kita bagi yang berada di sekolah. Memperbaiki sistem birokrasi kita yang berada di pemerintahan.

Ketika mendengar kelulusan maka banyak yang menangis karena bahagia dan ada yang menangis karena bersedih. Ketika mendengar kelulusan maka tidak sedikit budaya corat-coret itu semakin semarak. Apakah hal ini benar untuk dilakukan? Di satu sisi tidak ada salahnya karena itu kepunyaan merekan akan tetapi, di sisi lain ada baiknya kita mencoba untuk prihatin dengan kondisi saudara-saudara kita yang ada di daerah lain yang sangat membutuhkan bantuan. Jadi hendaknya kita dapat berbagi kebahagian dengan mereka. Hal ini penting dilakukan untuk mengasah kecerdasan emosional dan spritual yang sudah kita bicarakan tadi.

Kemampuan untuk berbagi dengan sesama dan meninggalkan budaya hura-hura hendaknya mendapat perhatian yang cukup besar bagi para orang tua, guru dan pelajar. Coba kita bayangkan jika ada 2000 siswa yang lulus di suatu provinsi maka ada 2000 baju yang terbuang tidak terpakai. Ingatlah sesuangguhnya budaya boros itu adalah budayanya setan. Sebagai umat yang mengerti beragama dan mayoritas penduduknya beragama islam hendaknya kita dapat memperhatkan hal itu dengan sebaik-baiknya.

Selamat Kepada Sahabat Yang Lulus dan Tetap Berjuang Bagi yang Belum Berhasil, Karena Sang Pemenang bukanlah ia yang selalu berada digaris depan, akan tetapi, Orang yang selalu berkata bahwa Ia Bisa.

Sumber Gambar : Halo Semarang

Komentar

  1. yaa memang sih itu seakan sudah menjadi budaya kalo lulus ya corat-coret. perlu ada tindakan ytang berani buat ngubah budaya.. misal emang ada peraturan dari sekolah : jangan pake baju SMA pas kelulusan.. atau, sumbangkan semua baju SMA sebelum kelulusan.. pasti bajunya nggak dcorat-coret,

    entahlah, hanya opini saya..

    BalasHapus
  2. Ide bagus phe, memang semuanya mesti di atur kelihatannya, menumbuhkan kesadaran membutuhkan kerja keras dari berbagai pihak.

    Semoga Orangtua, Siswa, Kepala Sekolah dan pihak yang berwenang dapat membaca hal ini.

    BalasHapus
  3. setuju gan, seharusnya bisa untuk dimanfaatkan yang lebih baik

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima Kasih telah singgah! Semoga kita segera berjumpa lagi. Saya memberi hormat atas dedikasi dan komitmen Anda untuk terus tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Saya menantikan suatu waktu untuk dapat berjumpa dengan Anda suatu hari.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...