PENANTANG WAKTU

Aku berlari terus, meski nafasku tersengal-sengal. Otot-otot lututku pun telah lelah, namun tekadku telah membulat, apapun yang terjadi. Aku tak boleh kalah.

Sejak dulu aku selalu benci. Aku selalu benci pada makhluk bernama waktu itu. Dia selalu mentertawakanku. Dia selalu mencemoohku. Dia selalu menghinaku. Aku benci!

Orang-orang yang kusayangi semuanya menjadi korban makhluk itu. Masih teringat aku pada wajah pucat kuyu ibuku dan rapuhnya tulang-tulang ayahku serta darah yang mengalir dari tubuh istriku. Masih pula terngiang di telingaku bacaan talqin yang mengalir di bibir saat penguburan dilaksanakan. Saat itulah waktu mencibir padaku. Dia mencemoohku, bahkan mengancamku.

Tidak! Aku tak boleh kalah dalam persaingan ini. Aku sudah tak tahan pada ejekannya dan ejekan orang-orang yang menjadi hamba-Nya. Mereka terlihat seperti menelanjangi diriku dengan cercaan yang menyakitkan. Mereka menyalahkanku karena aku selalu gagal dalam setiap aktivitas yang memerlukan waktu. Bahkan mereka menghinaku karena terlambat menyelamatkan istriku yang kecelakaan mobil. Bukan. Bukan aku yang salah. Waktulah yang membuat semua terjadi. Andai tak terburu-buru mengejar waktu, istriku takkan mengalami kecelakaan itu. Andai waktu tak menguasai ayah ibuku, pasti mereka masih hidup di sisiku sekarang. Dan andai tak ada waktu, pastilah aku tak kehilangan masa mudaku. Ya! Waktulah yang bertanggung jawab atas semua kesedihanku. Maka patutlah bagiku untuk mengalahkannya dan membalasnya.



Nafasku makin berat saat aku menanjaki pegunungan Himalaya. Aku duduk. Beristirahat sebentar. Memandangi jejeran anak-anak gunung yang bermain riang. Menikmati keindahan bunga-bunga dan pepohonan. Menyapa bayu dingin yang menyelimuti keringatku. Ini ada tempat yang bebas, di mana semua orang bisa menikmati apa saja semaunya, tanpa diganggu oleh waktu, bagiku sendiri.

Aku kembali belari. Berlari menyusuri jalan-jalan setapak dan hutan-hutan tak terjamah. Ujung dunia tinggal setengah jalan lagi. Aku tersenyum. Waktu takkan bisa mengejarku.

Masih kuingat tatapan sinisnya saat aku dan waktu bertemu. Aku menantangnya. Ia hanya tertawa mengejek.

''Apa untungnya bagiku? Toh, aku selalu menang,'' katanya angkuh.

''Kita lihat saja,'' balasku, ''Kalau kau yang menang, aku akan akui kehebatanmu.''

''Hanya itu?''

''Tidak. Kau juga boleh menguasai jiwa dan ragaku.''

Dia tertawa angkuh. Tampaknya ia yakin sekali akan menang.

''Tapi jika kau kalah, kau harus menuruti kemauanku,'' kataku memotong tawanya.

''Apa? Apa yang kau inginkan, Ha?''

''Kau harus kembalikan semua yang kau ambil dariku.''

''Apa itu?''

''Kembalikan ibuku, kembalikan ayahku, kembalikan kemudaanku, kembalikan istriku yang amat kucintai.

Waktu tertawa terbahak-bahak. Aku meringis, menatapnya dengan penuh kebencian.

''Itu sih, bukan tanggung jawabku…'' katanya meremehkan.

''Bohong!'' sahutku setengah berteriak. ''Kaulah yang telah merampas mereka dariku. Dan kini kau pun berusaha menggerogoti ragaku.''

''Baiklah. Kuakui itu semua adalah tugasku, walau tak sepenuhnya. Aku setujui perjanjian ini. Jika kau mampu melawan, terserah. Tapi resiko tanggung sendiri. Dan yang jelas aku pasti menang. Akan kuraih matahari lebih dahulu daripadamu. Ha…ha…ha….!''

''Sombong!'' sahutku, ''Aku takkan kalah…''

Aku sudah bertekad akan mengalahkannya, demi kebencianku, demi hari-hariku yang hilang, demi orang-orang yang telah meninggalkanku, dan demi semua milikku yang dirampasnya. Sungguh, kebencian telah mengurat akar dalam jiwaku. Hingga jiwa yang tadinya lemah digrogoti waktu menguat dengan seluruh emosi dan ambisi yang mencuat.

Aku akhirnya telah sampai di tepi pantai. Batinku merasa puas. Sedikit lagi. Sedikit lagi ujung dunia akan tiba di hadapanku. Matahari akan kuraih. Lalu akan kutertawakan waktu, seperti ia mentertawakanku dulu.

Sepatu yang kupakai untuk belari tadi kulepas. Kuikat talinya dan kugantung di bahuku. Lalu aku mulai melompat ke air dan berenang sekuat-kuatnya. Tak kupedulikan ombak-ombak yang mengejekku dan angin-angin kencang yang menghambat jalanku, juga badai-badai dahsyat yang mencoba menakut-nakutiku. Mereka adalah utusan waktu. Aku tahu mereka diutus untuk merintangiku. Aku tak boleh kalah!

Aaaahh! Rupanya karena tak berhasil mencegahku, waktu mencari cara lain. Sekarang salah seorang utusannya menggigiti kakiku hingga kakiku terasa kejang. Yang lainnya menghimpit dadaku hingga nafasku terasa sesak. Aku berjuang keras melawan rasa sakit ini. Daratan sudah tampak di depan mata. Aku tak boleh berhenti dan tenggelam di laut ini. Aku harus berenang.

Ah, akhirnya! Tubuhku berhasil mencapai daratan. Aku bernafas selega-leganya sambil mengurut kakiku yang masih terasa kejang. Kalau kaki ini tak bisa bekerja maka aku akan kalah. Aku takkan bisa meneruskan perjalananku. Padahal beberapa mil lagi aku akan sampai di ujung dunia. Syukurlah perlahan-lahan rasa sakit mulai hilang. Aku kembali berlari dengan sepatu yang telah bertahun-tahun mendampingku.

Orang-orang yang kulewati menatap sinis padaku, seolah-olah mereka berkata, ''Lihatlah! Si Penantang waktu akan menikmati kekalahannya. Sungguh pekerjaan yang sia-sia.''

Akan kubuktikan. Akan kubuktikan ucapanku. Biarlah mereka mengejekku sekarang. Tapi jika aku menang, akulah yang akan mengejek mereka. Tunggu saja!

Dengan langkah terseok-seok aku terus memandang ke depan. Senyumku melebar. Gapura ujung dunia telah ada di ujung pandangan. Di atasnya matahari telah menunggu. Sementara itu orang-orang berkerumun di sana, menonton siapa yang menang dan siapa yang akhirnya kalah. Aku terus melangkah ke arah gapura itu dan mereka mulai bersorak-sorak dan bertepuk tangan.

Kini aku telah sampai di gapura itu. Aku memeluk gapura itu sambil melepaskan lelahku. Orang-orang mengelu-elukanku dan memujiku. Sekarang untuk menyempurnakan kemenanganku aku harus meraih matahari.

Tapi tunggu! Mana waktu yang congkak itu? Rupanya ia belum datang. Biarlah ia kan kutunggu dulu sebentar, supaya aku bisa melihat wajahnya yang hancur dan nista saat aku mendekap matahari. Waktu akan kutunggu.

Aku berpaling pada orang-orang yang bersorak. Aku melambaikan tangan pada mereka. Mereka senang karena aku berhasil menjadi orang pertama yang mengalahkan waktu. Namaku nanti akan mencuat menjadi bahan utama buah bibir masyarakat. Gambarku akan terpampang di tiap koran seluruh dunia. Aku akan terkenal dan lebih mudah menapaki hidupku. Ah, senangnya!

Mereka meminta aku berpidato. Aku naik ke atas podium dan menceritakan seluruh perjalananku yang hebat dengan gembira. Aku pamerkan kebolehanku dalam menghadapi segala tantangan dan rintangan. Mereka kubuat terkagum-kagum padaku.

Tiba-tiba teriakan seseorang mengagetkanku. Ia berteriak sambil menunjuk ke arah matahari. Aku mengikuti pandangannya. Sontak kering tenggorokanku. Mukaku pucat pias dan lututku gemetar saat kusaksikan apa yang kulihat. Sang waktu telah datang dan memakan matahariku!

***

Untuk sejenak aku merasa tak sadar. Aku bangun dan memandang sekeliling. Orang-orang yang tadi ada telah lenyap dari sisiku. Hanya kesunyian yang kudapati. Gapura ujung dunia masih berdiri kokoh, tanpa matahari. Waktu telah berlalu. Tubuhku lunglai. Kekalahan ini begitu menyakitkan. Aku menangis tersedu-sedu. Tiba-tiba terdengar suara lembut. Aku menoleh. Sang bulan tersenyum lembut padaku.

Aku kembali menangis. Tak peduli pada Bulan yang mungkin mentertawakanku karena kecerobohan dan kekalahanku.

Ternyata aku salah. Bulan tidak mentertawakanku, tapi ia turun dari singgasanannya dan membelaiku dengan penuh kasih sayang. Belaiannya membuatku merasa lebih tenang. Aku menumpahkan seluruh kekesalanku padanya. Dia mendengarkannya. Dia simpati padaku.

''Sudahlah, sobat,'' hibur Bulan, ''Menangis takkan menyelesaikan masalah.''

''Kau benar,'' sahutku sambil menghapus air mataku, ''Aku terlalu cengeng. Tapi…tapi kekesalanku takkan hilang jika aku tak menangis.''

''Bodoh!'' kata Bulan lembut,'' manusia seberani kau masih bisa sedih juga, ya?''

''Aku tak seberani yang kau kira,'' jawabku perih.

''Tidak. Seorang penantang waktu pastilah seorang yang sangat berani.''

Aku diam saja.

''Namun sebenarnya kau salah menggunakan keberanian sebesar itu.''

Kata-kata Bulan yang terakhir membuatku tersentak. Aku bertanya, ''Apa maksudmu?''

Bulan tersenyum hangat. Ia mengelus kepalaku sambil berkata, ''Kau menggunakan cara yang salah dalam menantang waktu, Sobat. Tak heran kau terkalahkan karena terlena dengan keberhasilanmu. Segala pujian dan sanjungan, serta sorotan orang-orang, juga ketenaran hanya tipuan dunia. Sobat. Kau telah tertipu dan terbuai dengan tipuan itu. Dan waktu? Waktu terus berjalan apapun yang terjadi. Ia tak terpengaruh dunia, karena ia diciptakan untuk melengkapi kehidupan dunia, sedangkan manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi dan berjalan di atas waktu. Mereka lahir, hidup, dan mati. Waktulah yang menjelaskannya.''

''A…Aku tak mengerti…''

''Manusia yang tak bisa mempergunakan waktunya untuk berbuat ibadah kelak akan menyesal dan merugi. Tuhan telah memberi kesempatan pada manusia yang hidup untuk mendepositokan pahalanya sebagai bekal kehidupan selanjutnya. Adapun orang-orang yang terlalu terbuai dengan dunia yang sia-sia berarti telah kehilangan kesempatan mengisi deposito itu. Karena itu, jika kita tak bisa membunuh waktu, dalam artian mengisinya dengan hal-hal yang berguna, niscaya kitalah yang dibunuhnya. Pikirkanlah, sobat!''

Aku tertegun. Apa yang dikatakan Bulan memang benar. Semua kegagalan hidup yang kualami bukanlah salah sang waktu, tapi karena aku selalu terlena dan terbuai. Bahkan demi dendam dan kebencian semu itu aku telah menelantarkan kewajiban hidupku, melupakan Tuhan, dan menyusahkan diri dengan perbuatan sia-sia. Sungguh perbuatan yang teramat bodoh.

''Mintalah ampun pada-Nya, Sobat!''

''Apakah Tuhan masih mau memaafkan?''

''Tentu saja, Sobat. Tidakkah kau tahu, Dia Maha Pengampun dan Pengasih, walau dosa hamba-Nya lebih besar daripada bumi dan langit.''

Aku tersenyum pada bulan sambil bertekad di dalam hati untuk memperbaiki diri. Selagi nafas masih berhembus dan jantung belum berhenti berdetak, masih ada waktu untuk berbuat lebih baik. Tuhan Maha Bijaksana.

''Kelihatannya kau lelah sekali, Sobat. Tidurlah di pangkuanku. Semoga kau merasa lebih tenang karna aku akan menemanimu malam ini.''

Aku merebahkan diriku di pangkuannya sambil memejamkan mata. Sementara itu bulan membelaiku sambil menyenandungkan surah Wal-Ashr dengan suaranya yang merdu. Aku hanyut dan mulai tertidur.

Penulis: Raudhatul Jannah

Komentar

  1. ya, Tuhan memang sebaik-baik tempat kembali.

    memang jika salah, atau berbuat buruk segera bertaubat kepadaNya

    BalasHapus
  2. Duhai waktu...betapa kami harus memahamimu, sedang engkau tak akan pernah bisa kami hentikan.

    Wahai waktu,
    Kau melaju,
    kami berpacu
    terus majuuu

    Thanks berbaginya...

    BalasHapus
  3. mantab artikelnya, terima kasih atas infonya

    BalasHapus
  4. Waktu sebagai tempat berpacu untuk melakukan sesuatu,....

    Walau waktu terlalu sulit dipahami, tapi dengan waktu kita menjadi lebih tau.....

    BalasHapus
  5. nice share,
    setuju juga, karena waktu adalah uang, jadi harus di manfaatkan betul waktu itu.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima Kasih telah singgah! Semoga kita segera berjumpa lagi. Saya memberi hormat atas dedikasi dan komitmen Anda untuk terus tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Saya menantikan suatu waktu untuk dapat berjumpa dengan Anda suatu hari.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...