Inferiority Complexs

  Apakah anda merasa berkelas jika makan Hamburger dan Hot dog dari pada makan ketoprak ? Apakah anda merasa film Harry Potter lebih bagus dari pada film – film yang dibuat dan disutradarai oleh orang Indonesia ?. Apakah anda merasa PEDE dengan menggunakan jeans merk terkenal dari pada sarung samarinda ? apakah anda merasa lebih terhormat menggunakan jam buatan swiss dari pada buatan cibaduyut ? apakah anda merasa buku yang ditulis oleh orang barat selalu lebih unggul dari pada buku buatan orang Indonesia yang membahas topic yang sama ?. jika jawaban ya, berhati – hatilah mungkin anda termasuk orang yang sudah terkena virus Inferiority complex.

    Berdasarkan arti yang saya dapatkan dari kamus John M. Echols dan Hassan Shadily inferiority Complex dapat diartikan kurang harga diri, perasaan rendah diri. Arti yang kedua tampaknya lebih tepat disematkan dalam masalah yang kita bahas pada saat ini. Inilah salah satu penyakit yang sekarang diidap oleh lebih kurang dua ratus juta lebih masyarakat Indonesia. Baik pemimpin ataupun masyarakat, baik orang kaya maupun orang melarat dan baik ilmuwan maupun pelajar. Semua merasa dirinya rendah dan bertekuk lutut dibawah tekanan budaya luar yang terus menerus menggempur kehidupan kita sehari –hari.

    Rasa rendah diri inilah yang kemudian membawa sikap tidak menghargai. Tidak menghargai karya anak bangsa walaupun orang luar justru berdecak kagum dan memuji, tidak menghargai produk dalam negeri yang berakibat pada lesunya pasar produk domestik yang didominasi oleh industri rumah tangga, tidak menghargai bahasa Indonesia malah lebih senang dan pede ber cas cis cus dengan menggunakan bahasa asing (Inggris), lebih suka ngedance dari pada tari piring yang berujung pada musnahnya budaya bangsa.

    Bangsa kita yang hidup 350 tahun dibawah ketiak kolonial ternyata belum bisa merdeka sepenuhnya dari rasa rendah diri. Dahulu pemerintah kolonial Belanda membagi masyarakat ke dalam tiga golongan kelas. Yaitu kelas 1 masyarakat eropa, kelas II kulit berwarna, Kelas III pribumi dimana mereka beranggapan kurang pantas (kalau tidak mau dibilang najis) jika berkomunikasi dengan penduduk pribumi. Yang selalu terpatri dalam benak masyarakat Indonesia adalah Londo lebih hebat dari masyarakat bangsa kita. 

Dan orang belanda pun berfikiran bahwa masyarakat pribumi memang berada dibawah mereka. Rasa rendah diri inilah yang kemudian membuat masyarakat kita “Ngalap bekah” dengan Belanda dengan menjadi pegawai rendahan ataupun centeng Belanda. Belanda lebih hebat dari pada kita. Senapan api selalu menang lawan keris atau bamboo runcing. Orang yang “Ngalap berkah” dengan belanda kemudian menjadi penjilat kelas wahid yang sangat hapal dengan pameo “Asal Bapak Senang”.

    Beruntunglah bangsa ini memiliki orang-orang terpelajar (hasil trias politica yang salah satunya adalah edukasi) yang memegang erat ideology, yang tidak terpengaruh dengan bujukan Belanda untuk menjadi pegawai rendahan. Orang-orang seperti ini sangat langka dan minoritas. Mereka menggebrak nusantara dengan idenya yang gila jika dinilai pada masa itu yaitu “Merdeka”. Mereka tidak berteiak-teriak demonstrasi di depan kantor gubernur Belanda yang mereka lakukan sesuai dengan apa yang mereka bisa lakukan dengan tindakan rill bagi masyarakat Nusantara pada masa itu. Sebut saja KH. Ahmad Dahlan yang membuat geger kampung Kauman dengan ide pembaharuan Islamnya. Ia menyatukan ilmu keislaman dan ilmu – ilmu keduniaan, mengajar Islam pada sekolah Belanda yang banyak menampung anak-anak Muslim yang rendah diri dengan kemuslimannya walau hanya sekedar menjawab salam. Menyantuni fakir miskin dan terjun dalam bidang sosial. 

Puncaknya adalah pendirian Muhammadiyah yang masih bisa kita lihat amal usahanya hingga saat ini. Ada juga Ir. Soekarno seorang insinyur yang terjun dalam bidang politik dan bergaul dengan tokoh-tokoh seperti Cokroaminoto yang merupakan titik mula perjuangannya. Lidahnya tajam dan pedas di dengar bagi orang belanda dan anteknya namun menyadarkan masyarakat bahwa pribumi sama dengan belanda sama-sama punya hak merdeka. Ada juga Hatta yang dijuluki bapak koperasi, tidak hanya berkecimpung dalam bidang politik namun juga berusaha menggerakkan ekonomi kerakyatan. Jenderal Sudirman dengan aksi-aksi gerilyanya, Syahrir dengan komunikasi politiknya dan banyak lagi. Mereka adalah orang yang telah terbebas dari virus Inferiority Complex dan telah putus urat takut terhadap penjajah.

    Almarhum Des Alwi dalam bukunya Sejarah Banda Naira menyebutkan bahwa ketika Bung Hatta di buang ke Boven Digul, kepala sipir belanda yang mengetahui talenta bung Hatta menawarkan Bung Hatta pekerjaan dengan gaji yang cukup. Namun hal itu ditampik dengan berkata jika dirinya ingin jabatan, pemerintah Belanda dahulu telah memberikannya pekerjaan denan gaji yang jauh lebih tinggi. Inilah seorang pemimpin yang berani mendongakkan kepala mengajak duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Adakah sikap ini dimiliki pemimpin zaman sekarang ?

TIDAK SEMUA ORANG INDONESIA SUKA AKAN KEMERDEKAAN
    Satu hal yang dihapus dalam lembar sejarah adalah bahwa tidak semua orang suka jika Indonesia merdeka dan berpemerintahan sendiri. Ini adalah realita yang sampai saat ini walaupun tidak tampak namun masih bisa kita rasakan. Raganya mengikuti upacara bendera 17 agustusan tapi hatinya masih memiliki sifat rendah diri terhadap negara lain. Rata – rata orang yang tidak senang Indonesia merdeka adalah orang-orang yang hidup mewah dan berkecukupan di bawah asam ketiak penjajah. Ketika Indonesia merdeka mereka kehilangan kemewahan yang selama ini mereka dapatkan. Namun sayangnya negara yang baru merdeka ini masih merekrut tenaga-tenaga birokrasi dari orang-orang yang dalam dirinya masih mendekam inferiority complex ini. Hasilnya dapat dilihat birokrasi kita saat ini yang memiliki motto “jika bisa susah ngapain bikin mudah”.

PASCA PERANG SALIB
    Perang salib jika ditinjau dari beberapa aspek yang lebih lengkap bukan hanya perang agama. Tapi lebih luas dari itu adalah perang antara timur dan barat. Timur diwakili oleh ummat Islam dan barat diwakili oleh gereja. Sebelumnya pertempuran antara timur dan barat pun kerap terjadi. Yang tercatat dalam sejarah adalah perang antara Persia yang mewakili pihak timur dan Romawi yang mewakili pihak barat. Namun ada yang unik dari perang ini, yaitu proses belajar dan mendalami sudut pandang masing-masing pihak. Ummat Islam mencoba mendalami sudut pandang barat dan barat banyak belajar dari Islam tentang ilmu pengetahuan dan pendidikan serta budaya timur. Mereka belajar ke pusat-pusat peadaban Islam seperti di Cordova dan Sevilla ataupun damaskus dan bagdad. Kitab-kitab ilmu pengetahuan Islam mereka sadur ke dalam bahasa mereka. 

Hal inilah yang memantik semangat Rennaisance yang berujung pada gugatan-gugatan pada gereja yang doktrinnya dinilai tidak sesuai dengan fakta ilmu pengetahuan yang ada. Harus diakui Islam meyumbangkan peran dalam renaissance lebih banyak dari pada yang diketahui masyarakat barat. Namun satu sikap yang harus dicontoh dari mereka, ketika mereka ketinggalan mereka jauh-jauh menghapus sikap inferiority complex terhadap umat Islam (Timur). Mereka tetap pada identitas kebaratan mereka yang tidak terkooptasi dengan identitas timur. Sekarang posisi terbalik, kita yang ketinggalan dari mereka dan kita belajar dari mereka. Namun kita harus kehilangan identitas kita selaku orang timur, orang islam dan orang Indonesia dan terkooptasi dengan identitas barat. Jika seperti ini maka pemenang sejati perang salib jangka panjang yaitu barat.

BARAT PUN BELAJAR PADA BANGSA BESAR INI

    Al-kisah ketika penjelajahan samudera mulai digalakkan oleh kerajaan –kerajan Eropa, banyak dari pelaut Eropa yang harus menderita kelaparan karena tidak ada persediaan makanan diatas kapal yang dapat bertahan lama hingga berbulan-bulan. Ketika tiba di Nusantara, mereka terkagum-kagum dengan tekhnologi pengawetan makanan diatas kapal yang dilakukan oleh pelaut Nusantara. Seperti ikan asin, rendang kering, tempoyak dan lain-lain. Pengawetan makanan secara alami ini lambat laun diikuti oleh pelaut Eropa sehingga korban kelaparan dapat diminimalisir.

    Negeri kita sesungguhnya negeri yang kaya. Kaya akan bermacam-macam jenis sayuran, buah-buahan maupun rempah-rempah sebagai bahan makanan. Berbeda dengan barat yang hanya makan roti hambar dan daging rebus yang rasanya pun hambar. Lidah kita sudah tentu merasakan bermacam-macam rasa rempah-rempah sebagai bumbu masakan. Sehingga jika ada makanan khas barat yang memiliki rasa, maka dipertanyakan kelayakan konsumsinya.

    Anda tahu mengapa masakan khas jepang rata-rata adalah masakan mentah atau rebus ?. hal ini bukan berkaitan dengan makanan meteka yang berkelas. Bukan !. karena mereka tidak memiliki perkebunan sawit seluas yang dimiliki Indonesia. Itulah negara kita yang kekayaan alamnya dapat mengenyangkan tidak hanya tujuh keturunan tapi tujuh ribu keturunan namun tidak mampu menyatakan diri sebagai negara yang terbebas dari rasa inferiority complex itu baik pemimpin maupun masyarakatnya.

Ahad, 25 September 2011
Penulis : Hardiansyah

Komentar

  1. excellent

    tapi nggak bisa naif juga sih, film-film merekalebih oke daripada film indonesia :), itu kenyataan yang belum bisa dibantah. Walau film Indonesia tentu juga ada yang bagus, at least dari content-lah...

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima Kasih telah singgah! Semoga kita segera berjumpa lagi. Saya memberi hormat atas dedikasi dan komitmen Anda untuk terus tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Saya menantikan suatu waktu untuk dapat berjumpa dengan Anda suatu hari.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...