Mengapa Doaku Belum Juga Dikabulkan?

Beberapa minggu yang lalu ada salah seorang teman yang bertanya melalui SMS tentang Doanya yang belum dikabulkan. Masalah doa ternyata sering membuat kita bertanya tentang eksistensi Allah swt. Lalu pertanyaannya, sudahkah kita mengetahui tata cara berdoa yang baik dan sikap apa yang harus dimiliki oleh seseorang yang sedang meminta kepada Allah? Maka kita akan membahas pada kesempatan kali ini tentang Doa.

Ketika ku buka inbox di HP ternyata ada pesan yang berisi “Kenapa Allah mengabulkan doa orang yang tidak pernah sholat, walaupun pernah itupun kadang-kadang, tapi pada umat yang menjalaninya malah belum dikabulkan do’anya seakan-akan Allah itu Jauh. Adilkah Allah Pada Umatnya, orang kaya tambah kaya dan orang miskin tambah miskin padahal sudah berusaha dan berdo’a ?”
Semoga beberapa keterangan di bawah ini dapat menjadi bahan renungan kita bersama yang mengalami perasaan yang sama ketika dihadapkan dengan situasi yang sama.

Pertama harus diluruskan, bahwa ada beberapa ulama yang mengatakan bahwa inti dari sholat itu adalah Doa, jadi tidak mungkin orang hanya berdoa tanpa melakukan sholat. Karena hakikat dari sholat adalah kita sedang berdoa (menjalin hubungan dengan Allah dalam rangka tetap diberikan petunjuk dalam hidup). 

merupakan sunatullah bahwa setiap manusia akan diberikan ujian dalam kehidupannya, baik berupa keburukan, bencana, ataupun kesenangan dan kebaikan (QS 21:35). Biasanya, manusia sangat mudah kembali dan mengingat Allah SWT ketika diuji dengan kesulitan dan bencana. Sebaliknya, manusia sering terlupa dengan Allah ketika diberikan kenikmatan dan kemudahan.

Sifat inilah yang Allah gambarkan dalam firman-Nya, ''Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) sebelum itu ....''(QS 39:8).

Dalam ayat yang lainnya Allah menjelaskan pula, ''Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.'' (QS 10:12).

Sebagai seorang Muslim, sifat yang digambarkan pada kedua ayat di atas jelas harus dijauhi. Sifat yang harus dimiliki oleh seorang Muslim adalah harus senantiasa terkait dan ingat pada Allah dalam setiap aktivitasnya, terutama dalam waktu diberikan kelapangan hidup. Rasulullah memerintahkan dalam sabdanya, ''Barangsiapa yang menginginkan doanya terkabul pada saat sedih dan susah, maka hendaklah memperbanyak berdoa pada saat lapang.'' (HR Tirmizi dari Abu Hurairah).

Hadis di atas jelas menunjukkan bahwa berdoa di kala lapang merupakan prasyarat agar doa kita terkabul di saat sedang ditimpa kesusahan. Tegasnya, doa kita pada saat kesusahan akan sangat sulit dikabulkan Allah jika kita sendiri lalai dalam keadaan lapang. Sedikitnya ada dua hal yang dapat dilakukan agar kita tidak terlena oleh kelapangan hidup. Pertama, mengingat keadaan ketika susah. Sikap ini bertujuan agar kita tidak lupa bagaimana keadaan kita sebelumnya. Sikap ini pula yang akan mengikis sikap sombong dan akan membuat kita semakin tawadhu.

Perhatikan peringatan Allah dalam firman-Nya, ''Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahim. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan.'' (QS 102:1-8).

Hidup ini terlalu singkat jika kita gunakan untuk berbuat yang sia-sia, menyakiti orang lain, dan melakukan keingkaran kepada Allah Swt. Oleh karena itu, seorang muslim meyakini bahwa balasan kebaikan yang dilakukannya selama di dunia akan dibalas secara sempurna di akhirat nanti.

Kedua, menyadari bahwa kelapangan hidup merupakan anugerah dan kenikmatan yang Allah berikan baik itu berupa kesempitan dan kelapangan, kesedihan dan kebahagiaan, susah dan senang. Sikap seperti ini mengajarkan kepada kita untuk mensyukuri semua fasilitas kelapangan tersebut.

BERUSAHA DAN BERDOA
  Ibnu Abbas berkata pada suatu hari ia duduk di belakang Rasulullah SAW di atas suatu kendaraan. Rasulullah memberinya nasihat, ''Wahai pemuda, saya akan mengajarkan beberapa kalimat (keterangan). Yaitu: peliharalah Allah (pelihara segala perintah dan larangan-Nya), niscaya Allah akan memeliharamu. Jadi, jika kita. Ingin dipelihara oleh Allah, maka berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah bukan hanya pada saat-saat tertentu, tetapi pada setiap saat, dimana saja, kapan saja, dan pada situasi apa saja.

Jika kamu tetap memelihara-Nya, tentulah kamu akan tetap mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah di waktu senang, niscaya Ia akan mengenalimu di waktu susah. Bila kamu memohon sesuatu hajat, bermohonlah (langsung) kepada Allah.'' Rasulullah melanjutkan, ''Ketahuilah, walaupun berkumpul seluruh manusia untuk mendatangkan suatu kemanfaatan untukmu, tiadalah mereka dapat berbuat apa-apa, kecuali sekadar yang Allah telah tetapkan kamu memperolehnya.

Dan, walaupun berkumpul seluruh manusia untuk mendatangkan suatu kemudharatan kepadamu, tiadalah mereka dapat berbuat apa-apa, melainkan hanya sekadar yang Allah telah tetapkan jua. Telah diangkat kalam dan telah kering segala lembaran tulisan. Ketahuilah, pertolongan Allah hanya diberikan kepada orang yang sabar, dan bahwa kelapangan diberikan kepada orang yang dalam kesusahan.'' (HR Turmudzi).

Doa merupakan sumber kekuatan dan harapan yang paling besar dalam kehidupan manusia. Prof Affiff At Tabbarah dalam Ruhud Dienul Islam menyatakan berdoa merupakan fitrah dan naluri yang tumbuh dalam diri setiap manusia. Setiap orang senantiasa ingat dan rindu kepada Tuhan yang akan memberikan perlindungan kepadanya di waktu kesulitan atau untuk menghindarkan sesuatu kejahatan. Berhadapan dengan peristiwa-peristiwa kehidupan ini, manusia sangat lemah.

Tidak ada sandaran bagi kelemahannya itu, kecuali doa. Allah SWT berfirman, ''Berdoalah kepada-Ku, akan Kupenuhi (doamu).'' (Al-Mukmin: 60).

Rasulullah banyak menjelaskan kedudukan doa. Kata beliau, ''Doa itu adalah otak ibadah.'' (HR Turmudzi). Dalam hadis yang lain, beliau menjelaskan,

''Doa itu mendatangkan manfaat atas sesuatu yang sudah atau yang belum diturunkan Allah. Tak ada yang dapat menolak qadha (ketetapan Ilahi) kecuali doa yang mustajab (terkabul).'' (HR Turmudzi).

Islam mengajarkan pentingnya doa di samping ikhtiar. Doa bukanlah pengganti usaha dan ikhtiar, tapi memperkuat usaha dan ikhtiar. Doa satu-satunya kekuatan dan harapan orang beriman tatkala segala ikhtiar telah dijalankan. Semua peristiwa di alam ini tidaklah diserahkan begitu saja kepada hukum-hukum alam seperti mesin yang bergerak otomatis, tetapi di balik hukum-hukum itu ada hukum lain yaitu iradah Allah yang Maha Menentukan.

''Kulihat tangan (kekuasaan) Allah ada dalam setiap peristiwa dan segala masalah,'' kata Sayid Quthub dalam pengantar tafsir Fi Zhilalil Quran. Setiap orang menginginkan doanya terkabul. Syarat terkabulnya doa ialah hati yang ikhlas. Pada akhirnya Allah yang menentukan saat terbaik bagi hamba-Nya untuk menerima apa yang dimohonkan. Doa dari hati yang ikhlas tidak akan disia-siakan Allah asal menempuh jalan hidup yang benar.

 UJIAN DALAM KEHIDUPAN 
  Kebanyakan manusia menganggap bahwa ujian dan cobaan dari Allah adalah berupa derita, kesulitan, kegagalan, bencana, dan sejenisnya yang lazim disebut musibah. Jarang dibayangkan bahwa kelapangan hidup, kekayaan, popularitas, dan kesuksesan meraih cita-cita merupakan ujian Allah. Mungkin inilah maksud pertanyaan sahabatku di atas.

Allah berfirman, "Setiap ruh akan mengalami mati. Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan, sebagai cobaan. Kepada Kami kamu akan kembali." (QS al-Anbiya: 35). 

Setiap manusia akan menerima ujian dari Allah. Bentuk ujian itu ialah bisy-syar dan bil-khair. Bisy-syar ialah segala yang tidak disenangi oleh semua orang, sedangkan bil-khair ialah segala yang disenangi oleh semua orang. Ujian bisy-syar dan bil-khair berjalan dua-duanya, bersamaan atau bergantian.

Kadang manusia diuji dengan nasib baik, kekayaan, dan kesenangan, adakalanya diuji dengan kesulitan dan rasa putus asa. Tak ada orang senang saja sejak masa lahirnya, tanpa merasakan sedikit pun kesusahan atau keguncangan. Sebaliknya, tak ada orang yang susah saja sepanjang hidupnya, tanpa pernah mengalami kesenangan dan kegembiraan. Kehidupan di dunia terdiri atas hal-hal yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan.

Banyak orang lulus dalam ujian bisy-syar, tetapi jatuh dalam ujian bil khair. Lebih banyak orang yang gagal menghadapi ujian dalam bentuk kebaikan daripada ujian yang berwujud kesulitan atau musibah. Kata orang bijak, lebih banyak semut yang mati lantaran manisan, daripada lantaran cuka. Oleh karena itu, tidak ada kebaikan walaupun segala yang diinginkan seseorag terkabul dan kebaikan yang di dapat oleh seseorang jika ia lupa kepada Allah.

Sabda Rasulullah SAW, "Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian, akan tetapi aku justru khawatir (kalau-kalau) kemegahan dunia yang kalian dapatkan, sebagaimana yang diberikan kepada orang-orang sebelum kalian. Lalu, kalian bergelimang dalam kemewahan itu sehingga binasa, sebagaimana mereka bergelimang dan binasa pula." (HR Bukhari).

Tabiat manusia yang lupa diri ketika menghadapi ujian kebaikan dan kenikmatan diungkapkan dalam Alquran, "Adapun manusia apabila diberi ujian oleh Tuhannya yaitu diberi tempat yang mulia dan diberi kenikmatan kepadanya, lalu berkata: 'Tuhanku telah memuliakan aku' (QS al-Fajar: 15)". Sebaliknya; "Bila Tuhan mengujinya dengan membatasi rezekinya, dia berkata: 'Tuhanku telah menghinakan aku' (QS al-Fajar: 16)".

Setiap Muslim selayaknya meneladani sikap Nabi Sulaiman ketika diberi anugerah kekayaan dan kekuasaan yang luar biasa oleh Allah, sebagaimana diungkapkan dalam Alquran, "Ini termasuk karunia dari Tuhanku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau kufur atas nikmat-Nya (QS al-Naml: 40)".

Kesimpulan, dalam hidup kita memiliki misi atas penciptaan kita di dunia ini. Kemuliaan seseorang bukanlah ditentukan oleh banyak atau sedikitnya harta yang dimiliki, rumah yang mewah, anak yang banyak, akan tetapi, kemuliaan seseorang sangat di tentukan oleh kedekatan dan kesungguh-sungguhan manusia untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah Swt baik di kala senang maupun di kala susah. Karena kita bukan hanya hidup di dunia, tetapi kita sedang dipersiapkan untuk menuju keabadian (kebahagiaan yang lebih kekal) yaitu Negeri Akhirat.

Rosululloh juga bersabda “Luar Biasa perkara seorang muslim itu, jika ditimpa musibah ia bersabar maka itu kebaikan baginya, jika diberi nikmat kemudian ia bersyukur maka itupun kebaikan baginya”.

Jadikan Hidup kita berorientasi kepada Apakah Allah sedang ridho atau murka kepada kita. Dan kita harus yakin bahwa segalanya berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah, terus jaga dan bersabar  dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah. Jangan lupa untuk membaca Al-Qur’an, akan lebih baik jika dibaca terjemahannya, sehingga kita lebih memahami hakikat kehidupan ini.

Allah Maha Mengetahui keadaan hamba-Nya. Satu Pesan saya untuk mengakhiri Tulisan ini, doa ini juga bisa dibaca ketika selesai sholat. Karena sebaik-baiknya doa adalah yang berasal dari Al-Qur’an dan Hadis Nabi.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya dan dia mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya. Mereka berdoa “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau Hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir. “ (Q.S.Al- Baqoroh : 286)


Wallohu'alam.

Baca Juga: Bersabarlah menunggu terkabulnya doa dan Kebaikan Dibalik Tertundanya  Doa

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...