AL ‘AFWU DAN AL GHADHAB (PEMAAF DAN PEMARAH)

Dalam pergaulan antar sesama manusia, kekeliruan atau kesalahan mungkin saja terjadi, karena manusia memang tidak luput dari kekhilafan atau kesalahan. Karena itu salah satu sifat yang harus kita kembangkan adalah al ‘afwu yakni memaafkan, karenanya sifat ini merupakan salah satu sifat orang yang bertaqwa kepada Allah Swt. Perintah memaafkan terdapat dalam firman Allah yang artinya: 

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS 3:133-134).

Disamping itu, perintah memaafkan juga dirangkai penyebutannya dengan perintah melakukan perbuatan yang ma’ruf dan tidak melayani orang yang bodoh, karena kemarahan sebenarnya dipicu oleh tindakan orang yang bodoh, Allah Swt berfirman yang artinya: 

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh (QS 7:199).

Karena itu, meskipun Rasulullah Saw mendapat tantangan dan gangguan dari orang-orang kafir, beliau mampu memberikan maaf kepada para penentangnya itu yang justeru membuat mereka menjadi bersimpati kepada Rasulullah Saw, Allah Swt berfirman yang artinya:

Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu (QS 3:159).

AL GHADHAB
Ada beberapa bahaya dari sifat marah,
Pertama, merusak iman, karena semestinya bila seseorang sudah beriman dia akan memiliki akhlak yang mulia yang salah satunya adalah mampu mengendalikan dirinya sehingga tidak mudah marah kepada orang lain, Rasulullah Saw bersabda:

Marah itu dapat merusak iman seperti pahitnya jadam merusak manisnya madu (HR. Baihaqi).
Kedua, mudah mendapatkan murka dari Allah Swt terutama pada hari kiamat, karena itu pada saat kita hendak marah kepada orang lain mestinya kita segera mengingat Allah sehingga tidak melampiaskan kemarahan dengan hal-hal yang tidak benar, Allah Swt berfirman sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Qudsi:

Wahai anak Adam, ingatlah kepada-Ku ketika kamu marah. Maka Aku akan mengingatmu jika Aku sedang marah (pada hari akhir).

Ketiga, mudah marah juga akan menyulut kemarahan orang lain sehingga hubungan kita kepada orang lain busa menjadi renggang bahkan terputus sama sekali. Oleh karena itu, seseorang baru disebut sebagai orang yang kuat ketika ia mampu mengendalikan dirinya pada saat marah sehingga kemarahan itu dalam rangka kebenaran bukan dalam rangka kebathilan

 Rasulullah bersabda:
Orang kuat bukanlah yang dapat mengalahkan musuh, namun orang kuat adalah yang dapat mengontrol dirinya ketika marah (HR. Bukhari dan Muslim)

KIAT MENGATASI MARAH
Pertama, merubah posisi badan, misalnya dari marah dalam keadaan berdiri ia duduk bahkan hingga berbaring, Rasulullah Saw bersabda :
Jika salah seorang di antaramu terhentak amarah, dan saat itu dia sedang berdiri, maka duduklah. Jika rasa amarahnya hilang (dengan cara duduk), cukuplah. Namun jika tidak, maka berbaringlah”. (HR. Abu Daud).
(60 penyakit hati 94-97)

Kedua, berwudhu sehingga tensi kemarahan bisa diredakan, Rasulullah bersabda:
Susungguhnya rasa marah itu dari setan, sesungguhnya setan itu dibuat dari api, dan sesungguhnya padamnya api dengan air. Maka jika salah seorang di antaramu marah, berwudhulah.” (HR. Abu Daud).

Ketiga, menundukkan kepada, mengkhusyu’kan hati dan bertawakkal kepada Allah dan meminta perlidungan-Nya, Rasulullah Saw bersabda:
Dari Abu Dzar Al-Ghifari r.a.; berkata, “Telah terjadi dua orang saling cerca di hadapan Rasulullah, dan kami(pun) berada di dekatnya. Tatkala salah seorang sedang memarahi yang lainnya dengan wajahnya yang memerah, Rasul bersabda, ‘Sesungguhnya aku mengetahui suatu kalimat yang jika dia mengucapkannya, akan hilang rasa amarah (yang dideritanya); yakni jika dia mengucapkan kalimat ‘Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk’. Maka perasaan marahnya itu hilang’”. (HR. Bukhari Muslim).

Keempat, berdo’a kepada Allah agar dihilangkah sifat kemarahan yang berasal dari syaitan, do’a yang diajarkan oleh Nabi adalah:

Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah amarah di hatiku dan selamatkanlah diriku dari kejahatan syaitan (HR. Ibnu Sina).

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...