Orang-Orang Yang Bangkrut

Siapa yang ingin hidupnya kaya raya???   Siapa yang ingin hidupnya selalu untung???  Tentu kita semua mengharapkan memliki kehidupan yang bahagia, sukses, dan tentunya tidak merugi. Benar gak?? Kesuksesan adalah dambaan kita bersama, jika kita sebagai pedagang tentunya ingin mendapatkan untung dan tidak merugi.

Bagi anda yang ingin sukses dan tidak merugi dalam hidup, WAJIB membaca tulisan ini. Berkaitan tentang Untung dan Rugi, ada sebuah kisah menarik yang dapat kita renungi tentang hakikat orang-orang yang bangkrut.

Rosululloh saw pernah suatu hari pernah bertanya kepada para sahabatnya,

Taukah Anda siapa orang yang bangkrut?”tanya Rosululloh
Para sahabat menjawab “ orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki uang dan barang - barangnya habis tidak ada sama sekali”
“Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat (pada kehidupan di akhirat) dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat (dan ibadah-ibadah lainnya), tetapi ia juga datang dengan membawa dosa karena mencela orang ini danmembawa dosa karena mencela orang ini dan itu, menjatuhkan kehormatan orang ini dan itu, makan harta orang ini dan itu, membunuh ini dan itu, memukul (menyakiti) ini dan itu. Maka, diberikanlah kebaikannya kepada ini dan itu. Sehingga kebaikannya habis dan itupun belum lunas, maka kepadanya diberikan dosa dosa dari orang-orang (yang telah dia sakiti) itu, lalu dilemparkan ke dalam neraka.” (Hr. Muslim).

Dalam kehidupan kita sering kali terjebak dengan segala sesuatu yang bersifat materi atau ukuran keduniaan. Padahal jelas dunia ini bukanlah tujuan utama kita, tetapi sebagai sarana dalam mempersiapkan bekal untuk memasuki kehidupan selanjutnya.

Lalu pertanyaannya, apa tolak ukur seseorang dikatakan beruntung dan merugi???? Kita tentu sepakat bahwa kesuksesan seseorang itu dilihat di akhir bukan di awal. Contoh : seorang siswa yang memiliki kepintaran selama sekolah, tiba-tiba dinyatakan tidak lulus. Kenapa? Bukankah pada kelas 1, 2, 3 dia selalu berprestasi? Terkait dengan Pro dan Kontra akan UN (Ujian Nasional), secara umum manusia sepakat bahwa kesuksesan selalu di ukur di Akhir bukan di awal.

kehidupan sejati adalah kehidupan di Akhirat.
Maka beruntung atau rugi harusnya selalu diukur dengan pandangan
 kehidupan di Akhirat.


“Orang yang cerdas adalah orang yang selalu menghitung-hitung dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah mati. Sedang orang bodoh adalah orang selalu mengikutkan dirinya terhadap hawa nafsunya dan menginginkan (keberungan) dari Allah hanya dengan berangan-angan.” (Hr. Tirmdzi)

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...