Senin, 30 April 2012

ANAK ILALANG

Buku 'Anak Ilalang"
Senja itu merajuk. Perlahan-lahan ia merunduk pilu hingga yang hanya kulihat di ufuk barat sana ialah percikan keemasan yang indah saja. Aiihh..dan hatipun terhanyut dengan potret diri beberapa saat lalu, saat kutumpahkan semua ketegangan jiwa ke hamparan horizontal yang tiada ujung.

Arrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrggghhhhhhhhhh..
Hiks..hiks..
Akhirnya kusadari pipi ini telah basah. Basah dengan luka-luka yang berdarah. Namun aku tahu, pekikanku tadi nyatanya tak lebih hebat daripada deburan geram sang ombak yang memecahkan diri di tepian. Tapi setidaknya perasaan lega sedikit mampu kucicipi. Sejenak melupakan semua masalah yang terekam jelas dalam memori.

Kutumpahkan tetesan pilu dari genangan air mata yang merapuh. Sejurus kurasakan balutan kakikupun basah, dijilati buih yang terhempas di tepian Pasir Putih. Sesaat kupejamkan mata hingga setelah kubuka, tak kutemukan lagi sinar keemasaan yang menaburi lautan. Ia pergi, membawa ceritaku ke singgasananya yang hanya Tuhanlah yang Tahu.

Aku mundur perlahan, menjauhi medan yang mulai pasang. Lamat-lamat kudengar satu suara yang memanggil namaku. Ia pasti Arya, lelaki tujuh belas tahun yang begitu menyayangiku. Tampak sosok adik kandungku itu mulai mendekat ke lokasi berdiriku. ia mengatur napasnya yang sengal, seperti ada berita baru lagi yang akan ia obral.

“Kak, ayah sudah pulang. Tapi bersama seorang wanita yang kata ayah sebagai ibu tiri buat kita. Aku sampai tak percaya, terlebih saat ayah dan wanita itu begitu mesra dihadapanku. ” bebernya kian menghantam jiwaku yang rapuh. Aku hanya bisa terdiam, mencari napas dan menahan asmaku yang sepertinya mulai kambuh. sebenarnya masalah semacam ini ingin sekali kuanggap sebagai pecutan geli saja hingga membuat diri kian kebal, sama seperti sebelumnya saat ayah gila khomer dan aku harus selalu sabar mengurusinya. Tapi kali ini bendungan yang telah kutahan bertahun-tahun itu, akhirnya jebol juga. Kesensitifanku mencuat. Air mata ini jatuh dan jatuh lagi. sejenak, kuhela lukaku hingga akhirnya aku mampu tersenyum juga,

“Arya udah sholat maghrib sayang?”

Ia mengangguk dan balik bertanya padaku, “kakak?”

Aku hanya tersenyum, memberi isyarat ‘tidak’ padanya.

Kami pulang menyusuri sederetan anak ilalang yang jinak. Aku terkadang terlalu sering membelai mereka, karena aku suka sekali melihatnya saat dilambai angin. Lihatlah teman, bahkan mereka begitu tunduk pada titah Robb-nya, seakan tak pernah perduli kemanapun angin menghembusnya, ia akan tetap bertahan dan memainkan skenario Tuhan dengan bahagia. Meskipun mereka tak pernah diperhitungkan banyak orang.
Rumah sederhana itu terasa kian sempit saja saat ayah mengajak ibu baru kami untuk tinggal bersama. Satu hal yang ironis, kami tak pernah diberi tahu kapan mereka menikah. Dan aku yang  selalu berusaha sabar memahami ayah, hanya bisa berlaku sebaik mungkin agar bakti padanya  takkan memudar. Semoga, ada harapan baru bersama ibu tiri, pengganti emakku yang telah wafat dua tahun lalu.

Hari terus berlalu dan aku masih saja memendam luka goresan sang ayah. Masih segar dalam ingatan, saat ia terlalu suka untuk memukul tubuh mungilku dengan ikat pinggangnya karena sebab yang sederhana, aku lupa menyetrika pakaiannya. Kali lain, saat ia tengah bermandikan khomer, serasa ingin muntah namun tetap kubopong jua tubuh ayah yang baru pulang dini hari. Ia terlihat sangat letih, berkali-kali kusaksikan buih mendidih dari mulutnya yang menghitam. Dan ketika setiap hari aku harus selalu menyempatkan diri mengajar privat anak SD, terkadang ayah lebih rajin pula untuk tidak menghargaiku. Membiarkan aku luntang lantung dalam kepahitan bak tak lagi ber-orang tua. Namun, dari honor sedikit sebagai guru les itulah, akhirnya aku bisa belanja kebutuhan makan di rumah dan bisa kuliah di salah satu PTN Bengkulu, yang sungguh berbaik hati telah memberiku beasiswa. Sejujurnya kebutuhan makan sehari-hari di rumahpun harus aku yang menanggung karena ayah tak lagi ingin bekerja, dengan sebab yang tak terlogika. Dan aku, sudah terlalu kenyang dengan noktah hidup yang tak begitu bersahabat ini, hingga terkadang saat melihat perilaku ayah, aku tak pernah tega untuk menentang titahnya.

“ayah ini sudah bosan membesarkan kalian. Jadi kalau kalian ingin sekolah, cari sendiri. Salahkan juga mengapa emakmu begitu cepat mati!” celetuknya suatu ketika. Aku hanya bisa menelan ludah. Berbekal segenggam tabah, aku mencoba yakin dan bertahan dengan pertolongan Tuhanku.
***
“tolong cucikan jugalah baju ibu. Masa dibiarkan begitu  saja!” kata sang ibu tiri suatu hari saat aku tengah mencuci. Aku mengangguk. Mencoba tersenyum manis sebagai anak sholehah.

“itu sarapan buat bapakmu. Kalau kamu dan Arya mau makan, beli sendiri yah.”  Katanya padaku di minggu pagi.

Arya yang mendengar celotehan ketus itu langsung menjawab;
“eh ibu ini gimana. Katanya sudah jadi ibu kami, tapi kok cuma ngurusin ayah. Kami ini dianggap apa?” protesnya dengan nada tinggi. Aku langsung menenangkan Arya. Ia menolak, dan kian mendekat pada ibu.

“buk,,ibu pikir kakak pembantu? Selama ibu disini, selalu kakak yang nguciin semua baju, manual lagi. sarapan dan makan tidak pernah ada porsi yang cukup untuk kami berdua. Padahal, kakaklah yang selalu belaja kebutuhan rumah. Apa ibu dan ayah pernah ngasih kami uang? Bahkan untuk sekolah kami harus cari sendiri!” bentaknya kian menjadi. Suasana mendadak panas,

“eh Arya. Kamu ini benar-benar tidak menghargai saya yah?! Kamu pikir kamu itu siapa, berhak bentak-bentak-bentak saya!”

“ibu itu tidak tahu diri! Benar-benar tidak tahu diri!”
Suasana kian tak terkendali. Mereka berdua saling pelotot, sedang aku hanya bisa melerai semampuku.

Tiba-tiba ayah keluar dari kamarnya, ia nampak geram dengan keributan sengit itu dan mulai melototi kami berdua, aku segera menghampiri Arya yang wajahnya telah memerah. Kutuntun ia untuk keluar rumah sebentar. Saat telah diluar, ia menumpahkan kekesalannya dengan membentur kepala pada dinding rumah. Aku banar-benar tak tega melihat adik kesayanganku, yang seharusnya diliputi bahagia diusia remajanya, kini harus menanggung beban seberat ini. Aku memeluk Arya, ia membenamkan diri dalam dekapanku.

Ya Alloh. Sampai kapan kami harus bertahan? Akankah semua usai sebatas ini?

Tiba-tiba aku ingat satu nasehat Qur’an;

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.(Az zumar; 10)



***
Bersambung.....
Untuk Pemesanan Buku, SIlahkan Hubungi No Ini : 081919494619

2 komentar:

  1. atasnya okeh, tapi ke bawah biasa banget, tentang ibu tiri yang jahat, dan anak yang berbakti, dan deskripsi by dialog yang biasa aja, pasaran. Gak tahu kalo continuationnya

    BalasHapus
  2. Makanya segera miliki bukunya, rahasianya sengaja digantung penulis

    BalasHapus

Terima Kasih telah singgah! Semoga kita segera berjumpa lagi. Saya memberi hormat atas dedikasi dan komitmen Anda untuk terus tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Saya menantikan suatu waktu untuk dapat berjumpa dengan Anda suatu hari.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...