Perubahan Adalah Keniscayaan

Perubahan
Banyak orang mengambil sikap untuk mempertahankan kebiasaan-kebiasaan lama, perilaku dan pola berfikir yang sama, serta cara pandang yang lama. Mereka enggan berubah karena sudah merasa nikmat. 

Bisa diibaratkan seperti manusia gua yang sudah terbiasa dengan lingkungan gelap, lembab dan pengap, tidak mau hidup di bawah mentari meski sebetulnya itu menyehatkan. Yang Paling Besar Dapat Merubah Diri Kita Adalah Diri Kita Sendiri “  Sedangkan sebagian orang lagi tidak mau berubah karena takut menghadapi lingkungan. 

Mereka tidak mau berbeda dan tidak mau memperbaiki apapun, termasuk diri mereka sendiri. Selamanya mereka hidup dalam bayang-bayang ketakutan untuk berubah meski sebenarnya mereka merasa ada sesuatu yang salah dengan pola hidup mereka selama ini.  

Ada beberapa langkah yang harus dilakukan untuk menuju perubahan dalam menghadapi kehidupan dan pendidikan:

1.      Membangun kepekaan diri sehingga muncul kesadaran (awareness) terhadap diri sendiri dan lingkungan

               Manusia, siapapun termasuk mahasiswa, tidak akan pernah bisa mengalami metamorfosa atau perubahan, jika tidak menjadi insan yang peka terhadap sistem mereka. Kesadaran awal yang harus dimiliki manusia adalah mengenai visi dan misi hidup; darimana saya berasal? untuk apa saya hidup? Kemana saya akan kembali? Tiga persoalan besar ini bila terjawab dengan benar akan menguak jawaban-jawaban atas persoalan cabang lainnya. Karena semua permasalahan hidup yang lain di tentukan oleh visi dan misi hidup. Jika tiga persoalan itu terjawab maka akan terbentuklah kedewasaan berpikir dan bersikap.

               Sayang, banyak orang yang telah terkepung dengan gaya hidup hedonistik yang datang dari ideologi kapitalisme, akhirnya hilangnya kepekaan diri. Kita terjebak di dalam arus rutinitas, kerja, belajar, tanpa tahu pasti tujuan yang hakiki. Ujungnya dia tidak pernah tahu visi dan misi hidupnya untuk apa. Seperti sebatang kayu yang terbawa air mengalir, ia tidak pernah tahu ke mana akan berakhir karena tak pernah bisa dan tak mau berbuat apa-apa. 

Sadar bahwa kita mempunyai potensi, dapat membuat kita maju 

Jika kita hubungkan ini dengan pendidikan, banyak sekarang para siswa terutama mahasiswa tidak menyadari hal ini. Dalam menghadapi pendidikan diperlukan tujuan yang jelas untuk apa saya sekolah atau kuliah, kalau hal ini sudah hilang di dalam pikiran mereka maka bisa di bayangkan bahwa mereka akan kehilangan jati diri mereka. Dengan mempunyai tujuan atau visi yang mulia, pada dirinya sendiri mengandung energi pendobrak yang mampu memerdekakan potensi. 

2.      Menjadi Manusia Pembelajar  
               Tugas pertama manusia dalam proses menjadi dirinya yang sebenarnya adalah menerima tanggung jawab untuk menjadi pembelajar bukan hanya di gedung sekolah dan perguruan tinggi, tetapi terlebih penting lagi dalam konteks kehidupan. Tugas, tanggung jawab, dan panggilan pertama seorang manusia adalah sebagai pembelajar. Iqrobismirobbika (Bacalah dengan nama Tuhanmu). Jadi hendaklah kita membaca, belajar, bekerja, melakukan penelitian, menulis dan aktivitas lainnya bismirobbika (Dengan Nama dan atas nama Tuhan).

Kebanyakan orang mengeluh tentang aktivitas yang dilakukannya karena pekerjaan itu tidak dilakukan atas dan untuk Tuhan yang menciptakannya. sehingga, belajar dan bekerja dianggap sebagai beban dalam kehidupan. padahal jika kita dapat melihat dari kaca mata yang berbeda, maka kita akan selalu bersemangat dan antusias dalam menjalani kehidupan.

Sedangkan pelajaran pertama dan terutama yang perlu dipelajarinya adalah belajar menjadikan dirinya semanusiawi mungkin.lalu apa pedoman kita agar menjadikan diri kita lebih manusiawi? Dalam teori sastra, salah satu fungsi sastra adalah dulce et utile (mendidik dan menghibur), karya sastra mampu memanusiakan manusia. membaca karya sastra, dapat melembutkan hati, mengolah rasa, menguatkan tekad, dan olah rasa lainnya.

Tapi, ada satu bacaan yang lebih dahsyat, yaitu Al-Qur'annul Qarim. Saya sendiri, merasakan betapa dahsyat pengaruhnya dalam kehidupan yang saya jalani hingga hari ini. dan jika kita melihat sejarah panjang umat manusia (khususnya generasi muslim) maka mereka semua hebat karena Al-Qur'an. Kitab ini mampu merubah dan menyentuh sisi terdalam dari jiwa manusia. Untuk lebih lengkapnya kita akan bahas di judul tersendiri.

“Tuhan akan menolong orang yang berusaha menolong dirinya sendiri” 

Mudah-mudahan pernyataan di atas dapat membuka pikiran kita dalam menghadapi pendidikan baik itu di lembaga maupun pendidikan dalam konteks kehidupan. Menjadi manusia pembelajar adalah alternatif yang sangat bagus dalam menghadapi pendidikan. Ingat : Manusia adalah satu-satunya makhluk ciptaan yang di bekali kemampuan untuk  belajar tentang (pengajaran) agar ia dapat belajar menjadi (pembelajaran) dengan cara belajar. ia adalah subyek sekaligus objek bagi dirinya sendiri, 

               Tak ada pengajaran dan pelatihan yang dapat membuat seseorang menjadi dirinya sendiri, yang ada mungkin hanyalah guru sejati,. Cara menjadi diri sendiri  tidak mungkin datang dari luar, tetapi sepenuhnya dari dalam. Artinya setiap orang  harus menjadi guru bagi dirinya sendiri. 

 “Mereka bisa karena mereka yakin bisa” Kita harus sadar bahwa intelektualitas dan pengetahuan itu sendiri belum sepenuhnya mewakili diri manusia. Masih ada berbagai potensi diri lainya yang tidak dapat diasah atau dikeluarkan lewat proses pengajaran, seperti budi pekerti dan pembentukan karakter yang memiliki sifat seperti kerendahan hati, tenggang rasa, menahan diri, keadilan, kejujuran, kesabaran, kesederhanaan, tetapi hanya bisa di lakukan lewat proses pembelajaran.

3. Membangun kecerdasan emosi dan spritual.
            Telah terbukti bahwa kekayaan alam bagi suatu bangsa termasuk indonesia bukanlah hal yang terpenting dalam mencapai keberhasilan suatu bangsa. Sumberdaya insanilah kunci dari kemajuan dan keberhasilan. Namun membangun mutu insani yang berkualitas tidaklah cukup dengan hanya mengandalkan kecerdasan intelektual semata, harus didukung oleh kecerdasan emosi kecerdasan tersebut harus pula didasari oleh kesadaran akan kebenaran sejati yang di dorong oleh kekuatan dan kesadaran untuk mencari  ridho Allah, sehingga terbentuk suatu pribadi yang memiliki komitmen dan integritas yang tinggi serta ketagwaan. Inilah jawaban untuk mengatasi krisis multidimensi yang sedang melanda indonesia saat ini.

Orang yang berhasil secara lahir dan batin adalah orang yang memilki tingkat kecerdasan emosi dan spritual yang tinggi secara seimbang, di samping kemampuan intelektualitasnya. Kita semua berharap agar terjadi suatu perubahan yang revolusioner, khususnya dalam kurikulum pendidikan di indonesia, sehingga tercipta suatu kekuatan sumberdaya manusia yang mampu memadukan unsur intelektualitas, emosional dan spritual secara komprehensif yang pada akhirnya terbentuk suatu pondasi masyarakat yang kokoh dalam menghadapi tantangan zaman.

Untukmu Sahabat Yang ingin Berubah.
Semoga Hari ini dan Esok Kita Semakin Baik.

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...