Membangun Integritas

Beberapa minggu ini saya banyak belajar tentang pentingnya integritas. Dalam beberapa kunjungan kerja ke Yayasan dan organisasi, saya melihat integritas memiliki peranan penting dalam membangun kepercayaan dan kesolidan tim. Permasalannya, apa integritas itu? Mengapa integritas itu penting? Bagaimana membangunnya? Inilah yang akan kita bahas.

Beberapa waktu yang lalu, kita sudah membahas bahwa jatuh bangunnya suatu organisasi karena kepemimpinan, dan jatuh bangunnya kepemimpinan karena komunikasi. Kejatuhan keduanya, dapat saya simpulkan karena kita tidak memiliki integritas.

Apa itu integritas? 

Integritas adalah suatu bentuk kejujuran yang diimplementasikan secara nyata dalam tindakan sehari-hari. Nilai-nilai integritas sangat penting untuk diterapkan dalam sebuah organisasi atau perusahaan, agar semua orang di dalamnya biasa saling percaya dan pada akhirnya biasa lebih cepat untuk mencapai tujuan bersama. Jika nilai-nilai integritas tidak dijalankan, maka kerja sama tim yang dilakukan akan menjadi lebih sulit akibat tidak terbangunnya kepercayaan yang komprehensif di antara mereka.

Sebenarnya sudah hampir beberapa bulan saya selalu mencoba menjembatani komunikasi antara pimpinan dan anggota disebuah organisasi  agar harmonis. Saya melihat, ada hubungan timbal balik yang dilakukan pemimpin terhadap anggotanya, dan sikap anggota terhadap pemimpinnya. 

Contoh sederhana, ketika saya tanyakan dan berdialog kepada pemimpin tersebut mengenai sikapnya ternyata jawabannya karena melihat anggotanya yang kurang semangat, cuek, dan jarang ada kabar. Ketika saya berdialog dengan dari sudut pandang anggotanya, maka jawaban mereka, mereka bersikap seperti itu karena pemimpinnya yang kurang menunjukkan komitmen dan integritas dalam setiap pertemuan.

Setelah menjembatani komunikasi antar keduanya saya menyadari, saya hanya bisa meluruskan persepsi dan menjalin komunikasi antar keduanya. Tetapi, kata kuncinya, apakah masing-masing ingin memperbaiki diri (Pemimpin dan Anggota) sehingga mereka dapat segera lepas landas untuk terbang menuju tujuan organisasi.

Saya bersyukur kepada Alloh, dapat belajar bagaimana jika saya berada di posisi anggota, saya harus optimis, memiliki inisiatif, memahami tipe pemimpin, membangun komunikasi (tidak menunggu), kreatif, dan tidak putus asa. Begitu juga sikap seorang pemimpin, mampu menginspirasi, peduli, santun, jujur dalam kata dan perbuatan, memiliki integritas, menjalin komunikasi yang intens dengan bawahan dan yang pasti tidak boleh defisit energi (Keep Connecting to Alloh).

Sebagai pemimpin kita mungkin akan melihat kondisi yang tidak nyaman, diuji dengan berbagai berbagai karakter orang yang dipimpinnya. Tetapi, Seorang pemimpin mutlak menjalankan nilai-nilai integritas, karena dialah yang akan di pandang orang lain terlebih dahulu, dijadikan contoh dan teladan terutama bagi bawahannya. Integritas ini juga penting bagi image si pemimpin itu sendiri. Karena di saat pemimpin menerapkan nilai-nilai integritas, ia akan diterima sekaligus di percaya oleh bawahannya sebagai sosok panutan. Ia akan biasa mempengaruhi orang lain karena ketegasan dan keselarasannya atas pikiran dan perkataan. 

Hal yang berbeda terjadi jika di dalam sebuah organisasi atau perusahaan, para pemimpinnya tidak dipercaya bahkan tidak mendapat respek dari bawahannya. Mereka akan berjalan sendiri-sendiri tanpa mengikuti arahan dari pimpinannya. Organisasi atau perusahaan tersebut akan menjadi kacau dan tidak biasa mencapai tujuan dengan baik. Itulah yang akan terjadi jika pemimpin tidak menanamkan nilai-nilai integritas.

Sering kali kita menemukan ada bawahan yang justru memiliki nilai integritas yang lebih tinggi dibandingkan pimpinannya. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana menjaga konsistensi dari bawahan tersebut setiap waktu, sehingga hal ini mampu menyadarkan secara pribadi kepada pimpinannya. Tidak perlu harus memberikan koreksi secara langsung, menampilkannya terus menerus dari waktu ke waktu akan memberikan dorongan bagi pemimpinnya itu untuk berubah menjadi lebih baik. 

Faktanya, bawahan atau anggota yang memiliki integritas yang lebih tinggi itu saya lihat mulai kehilangan energi karena melihat inkonsistensi pemimpin. Oleh karena itu, sebagai bawahan yang memiliki dan menginginkan perbaikan pada organisasi dan perusahaannya harus menjaga integritas tersebut, sehingga bisa membangun kepercayaan dan memberikan dorongan bagi pemimpinnya yang mulai tidak bersemangat.

Kuncinya adalah menciptakan environment (lingkungan) yang selalu konsisten untuk menjalankan nilai-nilai integritas, sehingga diharapkan nilai-nilai itu akan tumbuh dan mengakar dalam diri setiap orang yang berada di dalamnya. Lingkungan yang menghargai perbedaan pendapat, lingkungan tempat orang bisa nyaman bertukar cerita, ide, lingkungan yang membuat iman kita bertambah, membuat ilmu kita bertambah, dan ladang amal kita meluas. Lingkungan dimana setiap orang merasakan kenyamanan. 

Bagaimana merubahnya dan Siapa yang menciptakan lingkungan seperti yang kita harapkan di atas? Mulailah dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, dan mulai dari sekarang.  

Jawaban itu semua adalah cinta. Jika tujuan kita mencari ridho-Nya, untuk masuk ke surga-Nya, kenapa harus dikalahkan oleh rintangan-rintangan kecil yang menghadang.

Setiap orang yang melakukan perjalanan akan bertemu pada titik tertentu. Dan orang-orang yang menuju tujuan yang sama akan berjalan bersama. Itulah gunanya visi. Baik itu dalam membangun keluarga, organisasi, perusahaan, bangsa dan negara.

Mari kita asah dan asuh Integritas kita hari ini. karena Alloh telah menjanjikan,
Alloh telah menjanjikan kepada orang-orang diantara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhoi. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik."
(Q.S. An-Nur:55)

Saat kau membuat janji, kau telah membangkitkan harapan. Saat kau memenuhi janji, kau telah membangun kepercayaan.
 
Saya mempercayaimu sahabat, bersama-Nya Anda pasti bisa menyelesaikan seluruh tantangan dan ujian dari-Nya. 

Bengkulu, 29 Jumadil Awal 1436 H
Rio Saputra

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...