Menerima Nasihat

Kremalogi, Tahura
Sebagai orang yang sering bergelut di majelis ilmu, training dan pelatihan. Saya mengamati bahwa ketika seseorang diperdengarkan tentang nasehat-nasehat dan motivasi pengembangan diri seringkali tiba-tiba muncul suatu kesadaran spontan dalam dirinya, namun ketika ia keluar dari kelas, ruangan, atau majelis ilmu hatinya kembali mengeras dan membatu.

Saya selalu bertanya apa yang membuat perbedaan seseorang mudah menerima nasehat dan orang lain sulit sekali menerima. Bagaiamana dengan kemampuan mereka menindaklanjuti ilmu yang telah didapat? Sebagai orang yang konsen di bidang pengembangan sumber daya manusia, tentu saya selalu berusaha mencari tahu, membaca, dan merenungi sebabnya, saya akhirnya berkesimpulan, bahwa manusia sangat berbeda-beda kondisinya dalam menerima nasehat. Umumnya manusia tidak berada dalam kondisi yang sama, saat menyimak nasehat maupun setelah mendengarkannya.

Renungan dan refleksi saya sampai kepada dua kesimpulan walaupun dalam teori menyimak kita akan mendapati banyak sekali penyebabnya. Pertama, nasehat-nasehat itu ternyata laksana cemeti, ketika seseorang habis dipukuli dengan cemeti itu, ia seringkali tidak merasa sakit. Kedua, ketika mendengar nasehat, ia sedang berada dalam kondisi jiwa dan pikiran yang prima. Dia terlepas dari segala ikatan duniawi. Ia diam dan menghadirkan hatinya. Akan tetapi, ketika disibukkan dengan urusan dunia, penyakit lamanya kambuh kembali. Bagaimana mungkin ia bisa kembali seperti saat mendengarkan nasehat-nasehat itu?

Kondisi demikian dapat menimpa siapa setiap orang. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa menerima nasehat dengan baik? Hanya mereka yang memiliki kesadaran tinggilah yang bisa mengatasi pengaruh-pengaruh duniawi tersebut. Ada yang bertekad kuat dan kokoh berpegang pada prinsip yang sudah diyakininya, lalu ia berjalan tanpa menoleh-noleh lagi. Ia memiliki standar baru bagi kehidupannya, ia akan memberontak jika perilakunya tidak lagi sesuai dengan tabiar dirinya. Salah satu contoh digenerasi sahabat adalah Hanzalah ra yang pernah mengecam dirinya sendiri, “Hanzalah telah munafik!”

Ada pula orang yang terkadang masih terbawa-bawa oleh kelalaian akibat pengaruh tabiat dirinya atau hawa nafsunya, namun pada saat yang sama nasehat itu masih mempengaruhi dirinya untuk beramal. Mereka laksana cabang-cabang pohon yang gampang goyah diterpa hembusan angin. Ada pula golongan manusia yang tidak terpengaruh apa-apa, hanya sekedar mendengar, mereka laksana batu-batu yang diam.

Di beberapa sudut kota ini saya masih melihat, ceramah hanya dijadikan rutinitas. Pesertanya sudah tua, terkadang hanya beberapa orang, yang bersender di sudut masjid sambil berselonjor. Ada dua kemungkinan, bisa jadi kita yang tidak bijak dalam menyampaikan nasehat karena  lebih banyak humornya atau hati kita yang mendengar sudah keras membatu?

Semoga Alloh selalu melapangkan dada kita untuk menerima nasehat.


Bengkulu, 18 Jumadil Akhir 1436 H

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...