Tips Mengatasi Generasi “Home Service”

Membangun peradaban yang besar tentu kita membutuhkan Sumber daya manusia yang besar dan berkualitas. salah satu basis pendidikan SDM yang berkualitas adalah di keluarga. Dalam sejarah peradaban manusia, saya mengamati bahwa banyak orang-orang besar lahir dari bimbingan orang tua mereka yang sabar menumbuh kembangkan potensi anaknya, mengasuh raga dan jiwa mereka menjadi pahlawan di masa mendatang.

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya sedang mengajar mengaji anak-anak, tanpa sepengetahuan saya, ada salah satu Anak yang berkelahi. Lalu kami segera melerainya. Dan saya memintanya untuk saling bermaafan lalu segera pulang. Beberapa menit kemudian orang tuanya datang dan memarahi anak yang berkelahi dengan anak. Walaupun saksi mata, para orang tua yang menunggu anaknya di teras rumah menyaksikan bahwa anaknya yang sebenarnya salah karena mengganggu kakak tingkatnya. Dari sinilah saya tertarik untuk mengangkat Topik ini yang saya kolaborasikan materinya dengan kiriman WA dari seorang teman, tulisan dari Deassy Marlia Destiani (Preschool on Line). semoga bisa menjadi bahan renungan untuk orang tua dan calon orang tua.

Itu adalah sekelumit gambaran, bagaimana generasi Home service ini didik, sehingga bisa bertingkah seenaknya di luar rumah, karena terbiasa serba boleh oleh Ibu atau Bapaknya. Sejak kecil, saya sangat senang sekali dengan anak-anak, bahkan ketika SD beberapa orang tuanya menitipkan anaknya kepada saya untuk bermain, dan menemani mereka makan. Jadi saya, pengalaman 15 tahun berinteraksi dengan anak-anak membuat saya memiliki daya tahan untuk menghadapi berbagai macam pola dan tingkah laku mereka.

Saya bersyukur, ternyata Alloh mendidik saya untuk belajar bagaimana bisa bersabar dan bersahabat dengan pola pikir mereka yang beragam. Kesabaran memang tidak bisa dibangun hanya satu malam, oleh karena itu, para orang tua yang tidak terbiasa menghadapi anak, pasti akan kewalahan mengikuti ritme gerak dan imajinasi mereka. Saya mengamati di masyarakat ada yang terlalu ekstrim kanan dengan memanjakan dan ada juga yang terlalu ekstrim kiri dengan melarang segala sesuatu yang dilakukan anak. Lalu apa dan bagaimana generasi Home service itu?

Apa itu generasi “Home Service”?

Generasi “Home Service” adalah generasi yang selalu minta dilayani. Ini terjadi pada anak-anak yang hidupnya selalu dilayani oleh orang tuanya atau orang yang membantunya.
Mulai dari lahir mereka sudah diurus oleh pembantu, atau orang yang punya kekayaan berlebih diasuh oleh Babysitter yang 24 jam siap disamping sang anak. Kemana-mana anak diikuti oleh babysitter, bahkan sampai umur 9 tahun saja ada Babysitter yang masih mengurus keperluan si anak karena orangtuannya sibuk bekerja. Anak tidak dibiarkan mencari solusi sendiri.

Contoh kecil saja, membuka bungkus permen yang akan dimakan anak. Karena terbiasa  ada babysitter atau ART, anak dengan mudahnya menyuruh mereka membukakan bungkusnya. Tidak mau bersusah payah berusaha lebih dulu atau mencari gunting misalnya.

Contoh lain memakai kaus kaki dan sepatu. Karena tidak sabar melihat anak mencoba memakai sepatunya sendiri maka orang dewasa yang disekitarnya buru-buru memakaikan kepada anak.

Saat anak sudah bisa makan sendiri, orang tua juga seringkali masih menyuapi karena berpikir jika tidak disuapi makannya akan lama dan malah tidak dimakan. Padahal jika anak dibiarkan tidak makan, maka anak tidak akan pernah merasa apa namanya lapar. Dan pada saat lapar datang seorang anak secara otomatis akan memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Bagaimana dia akan belajar makan sendiri jika dia tidak pernah merasakan apa itu namanya lapar?

Bagaimana dia akan belajar membuat minuman sendiri jika dengan hanya memanggil ART atau babysitter atau orangtuanya saja minuman itu akan datang sendiri kepadanya.

Saya mengutip perkataan seorang Psikolog dari Stanford University, Carol Dweck, beliau menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, “Hadiah terpenting dan terindah dari orang tua pada anak-anak adalah tantangan”. Tapi beranikah semua orangtua memberikan hadiah itu pada anak?

Faktanya saat ini banyak orangtua yang ingin segera menyelesaikan dan mengambil alih masalah anak, bukan memberikan tantangan. Saat anak bertengkar dengan temannya karena berebut mainan, orangtua malah memarahi teman anaknya itu dan membela sang anak.

Ada pula yang langsung membawanya pulang dan bilang, “Udang nanti Ibu belikan mainan seperti itu yang lebih bagus dari yang punya temanmu, gak usah nangis”.

Padahal Ibu tersebut bisa mengatakan, “Oh kamu ingin mainan seperti yang punya temanmu ya? Gak usah merebutnya sayang. Kita nabung dulu ya nanti kalau uangnya sudah cukup kita akan sama-sama ke toko mainan membeli mainan yang seperti itu”.

Kira-kira bagaimana jika Ibu mengatakan demikian? Ada tantangan yang diberikan pada anak bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan maka dia harus berusaha untuk menabung dulu. Tidak lantas mengambil alih bahwa everything oke, ada ibu dan ayah disini yang akan mengatasi segala masalahmu nak.
Dalam keseharian Generasi “Home Service” semua pekerjaan rumah tangga tak pernah melibatkan anak. Saat anak membuat kamarnya berantakan langsung memanggil asisten untuk segera merapikan kembali.
Anak menumpahkan air di lantai, di lap sendiri oleh ibunya. Anak membuang sampah sembarangan, dibiarkan  saja menunggu ART menyapu nanti.

Dalam hal belajar saat anak sulit belajar, orang tua telpon guru les untuk privat di rumah.

Dalam hal bersosialisasi saat anaknya nabrak orang sampai mati di jalan karena harusnya belum punya SIM malah sudah bawa kendaraan sendiri. Orang tuanya langsung menyuap polisi agar anaknya tidak diperkarakan dan dipenjarakan. Beres kan. Bahkan tetangga saya seorang polisi di salah satu kebupaten Provinsi Bengkulu, mengatakan dalam satu bulan kurang lebih ada 3-5 anak yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas, semuanya dibawah umur dan meninggal semua. Inilah salah satu dampak kasih sayang yang kebablasan.

Hidup ini tidak susah nak. Selama orang tuamu ada di sampingmu.

Iya kalau orang tuanya kaya terus, iaya kalau orang tuanya hidup terus, semua kan tak pernah bisa kita duga.
Generasi inilah yang nantinya akan melahirkan orang dewasa yang tidak bertanggung jawab. Badanya dewasa tapi pikirannya selalu anak-anak, karena tak pernah bisa memutuskan sesuatu yang terbaik buat dirinya.

Mau gimana lagi?

Memang didikannya begitu, sekolah yang carikan orangtua. Jodoh yang carikan orang tua. Rumah yang belikan orang tua, kendaraan yang belikan juga orang tua. Giliran punya cucu yang mengasuh dan menjadi pembantu di rumahnya juga ya si orang tuanya.

Kasihan banget ya, sudah modalin banyak ternyata orang tua tipe begini hanya akan berakhir jadi kacung di rumah anaknya sendiri.

Maaf kalau saya menggunakan istilah “kacung” karena saya betul-betul prihatin kepada orang tua yang terlalu menjadi pelindung bagi anaknya, bahkan nanti buat cucunya juga. Kapan bisa mandirinya tuh anak.
Sahabat Nabi Ali bin Abi Thalib ra sudah memberikan pandunan dalam mendidik anak: “Ajaklah anak bermain pada tujuh tahun pertama, disiplinkan anak pada tujuh tahun kedua dan bersahabatlah pada anak usia tujuh tahun ketiga.”

Jadi anak umur 7 tahun ke bawah memang dididik sambil bermain. Berikan tanggung jawab pada mereka meski masih harus didampingi seperti misalnya mandi sendiri, membereskan mainan, makan sendiri, membuang sampah dll.

Untuk usia anak 7 s.d. 14 tahun mulailah mendisiplinkannya. Misalnya menyuruhnya sholat tepat waktu, belajar berpuasa, mengerjakan PR sepulang sekolah, menyiapkan buku untuk esok pagi, membantu mencuci piring kotor, menyapu halaman rumah dll. Apabila anak umur 7 s.d. 14 tahun itu tidak melakukan kewajibannya maka perlu diingatkan agar dia menjadi terbiasa dan disiplin.

Untuk anak usia 14 s.d. 21 tahun maka orang tua harusnya bisa bersikap sebagai sahabat atau teman akrab. Orang tua perlu menolong anak untuk belajar bagaimana menggunakan waktunya dan mengajari anak tentang skala prioritas. Dalam hal ini terkadang orang tua sering merasa kasihan. Karena semakin besar usia anak, maka semakin sibuk dia dengan kegiatan akademiknya.

Anak ikut les ini dan itu, kegiatan ekstrakulikulernya yang menyita waktu, kerja kelompok, dll. Merasa anaknya tidak punya waktu, lalu orang tua, membebeaskan anak dari pekerjaan rumah tangga. Padahal skill yang terpenting dalam kehidupan itu bukan hanya dari sisi akademik saja tapi bagaimana dia mengahadapi rutinitas yang ada dengan segala keterbatasan waktunya.

Anda yang sudah menjadi orang tua pasti merasakan bagaimana seroang ibu harus membagi waktunya yang hanya 24 jam itu untuk bisa mengelola sebuah rumah tangga. Pekerjaan yang tiada habisnya. Pekerjaan mencuci baju, menyetrika, membereskan rumah mungkin bisa minta orang lain melakukannya. Memasak juga bisa membeli yang sudah jadi, tapi jam mengasuh anak tidak ada habisnya bukan?

Saya pernah membaca sebuah artikel yang meliput tentang sebuah keluarga di Indonesia yang punya 11 anak tanpa ART dan sering traveling ke luar negeri. Manajemen keluarganya TOP banget deh, dan kuncinya mereka melibatkan semua anaknya untuk ambil bagian dalam berbagai pekerjaan rumah tangga.

Ada yang bertugas sebagai koki, menyetrika, mencuci, mengepel, dll. Kompak banget deh. Asyik kan bisa memberdayakan sebuah keluarga seperti itu. Tidak ada yang meminta dilayani. Semua punya tugas dan tanggung jawab sendiri-sendiri. Saya yakin ke 11 anak mereka kelak akan menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab, sukses dan mandiri.

Oh ya, selain melibatkan anak-anak, faktor terpenting dalam meniadakan Generasi “Home Service” adalah peran ayah dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Di Indonesia masih banyak suami yang tidak mau terlibat dalam pekerjaan rumah tangga. Seakan-akan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, menyetrika, mengepel dll itu adalah aib bagi suami.

Padahal menurut hasil penelitian, keikutsertaan para suami atau ayah dalam pekerjaan rumah tangga, berpengaruh positif terhadap keutuhan dan keharmonisan keluarga loh.

Berbagi pekerjaan dalam rumah tangga antara suami dan istri tidaklah perlu dibuat Jobdesknya secara tertulis, tetapi buatlah semuanya sesuai dengan kesempatan yang mereka punya. Karena jika dibuat jobdes bisa membuat pertengkaran apabila salah satu ada yang abai menyelesaikan pekerjaannya dan yang lain tidak mau mengerjakan karena merasa itu bukan tugasnya.

Ayah yang menjadi contoh mengerjakan pekerjaan rumah tangga juga akan menjadi teladan langsuang bagi anak laki-lakinya bahwa pekerjaan rumah tangga itu tak mengapa dilakukan seorang laki-laki.

Peran serta ayah dalam membantu pekerjaan rumah tangga ternyata berdampak positif pada hubungan antara anak dengan ayahnya. Rata-rata ayah yang terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga terbukti sangat dekat dengan anaknya. Jika antara ayah dan anak sudah dekat maka hubungan suami dan istri pun akan semakin harmonis.

Jadi sudah siapkah keluarga Anda meniadakan GENERASI “HOME SERVICE?”

Yuk kita sama-sama mulai dari sekarang demi kebaikan dan masa depan anak-anak kita.

Terakhir, saya akan menutupnya dengan Sabda Nabi Muhammad Saw :

“Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim). "

Bengkulu, 12 Jumadil Akhir 1436 H

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...