Rabu, 28 Desember 2016

Jangan Mudah Tertipu

Menjadi pusat sorotan banyak orang tentu menjadi  kebahagian manusia. Mendapatkan sanjungan, kata-katanya selalu dirindu, status di media sosialnya banyak mendapatkan jempol dan like. Itu manusiawi.

Di tengah banjir  pujian yang kita dapatkan, sebenarnya kitalah yang mengetahui siapa diri kita sebenarnya? Apakah kita termasuk orang yang baik atau tidak? Bukankah Allah Maha Mengetahui segala isi hati manusia?

“Jangan tertipu banyaknya mata yang rindu akan melihat sosokmu, atau banyaknya telinga yang rindu akan kata-kata yang keluar dari mulutmu, sementara hakikat dirimu tak lebih baik dari mereka, yang mungkin ilmunya tak seberapa, tapi yang sedikit itu menyerap dalam dirinya yang akhirnya membuahkan amal shalih.”

Itu semua bukan berarti kita berhenti melakukan kebaikan untuk menghindari pujian. Akan tetapi, sebagai pengingat untuk selalu meluruskan dan memperbaharui niat. Bukankah Bagi orang-orang yang ikhlas pujian dan cacian tidak mempengaruhi dalam melakukan yang terbaik selama hidupnya?

Gambar: Google

Jakarta, 28 Rabiul Awal 1438 H

Jumat, 16 Desember 2016

Al-Qur'an Membawa Kebenaran dan Keadilan

Ada pendapat yang mengatakan salah satu intisari dari ajaran islam adalah keadilan. Siapa pun yang masuk ke dalam agama ini (Islam) akan diperlakukan adil. Hal itu banyak dicontohkan pada zaman Nabi  dan para sahabat, walupun ia adalah orang-orang terdekat Rosululloh Sholaullohhu “alaihiwassalam.

Pagi ini ada ayat yang saya baca berkaitan dengan perintah berlaku adil dalam Al-Qur’an “Sungguh, Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) membawa kebenaran, agar engkau mengadili antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, dan janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang yang berkhianat, (Q.S. An-Nisa’(4): 105)

Kamis, 15 Desember 2016

Semua akan Menjadi Saksi

Banyak orang yang terlihat hebat dalam keramaian, tetapi mereka tak berdaya tatkala sendirian. Pada hakikatnya, yang mengetahui hakikat seorang insan adalah diri kita sendiri.

Saudaraku, Janganlah engkau memusuhi syaitan tatkala di hadapan manusia, namun engkau menjadi sahabatnya tatkala bersendirian. Tatkala engkau menutup pintu kamar, lalu menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang yang melihatmu, tatkala itu ingatlah:

1) Allah Maha Melihat dan Mendengar. Dimana pun engkau, Dia selalu mengawasimu, Maha Melihat dan Maha Mendengar apa yang engkau lakukan dan ucapkan.

2) Jangankan gerakan tubuhmu, lirikan dan jelalatan matamu diketahui oleh Allah bahkan telah dicatat oleh Allah sebelum engkau mengedip matamu, bahkan isi hatimu diketahui oleh Allah Subhanahuwata’ala.

3) Allah mengadakan pengawasan yang ketat dengan menugaskan para malaikat untuk mencatat segala gerak-gerikmu. Bahkan malaikat Raqib dan ‘Atid senantiasa menyertaimu.

Rabu, 14 Desember 2016

Great Safety

Harus kita akui, kehidupan modern telah mengerus hubungan anak dengan orang tua. Kesibukan mencari nafkah atau aktivitasnya sebagai pejabat publik terkadang membuat waktu bersama seorang anak menjadi terabaikan. Institusi keluarga yang merupakan penopang terkuat kemajuan sebuah bangsa akhir-akhir ini mengalami erosi, kehilangan pondasi, dan keteladanan dalam membangun jati diri anak sebagai manusia yang seutuhnya.

Ada juga orang tua yang tangguh mampu membagi waktunya dengan bijak untuk terus mendidik anaknya sesuai dengan tantangan zaman. Apalagi di kota kota besar dengan ritme kehidupan yang penuh memerlukan tantangan sendiri untuk membersamai sang buah hati. Walaupun terkadang hati terasa lelah dalam mendidik anak, jiwa menderita karena mereka menentang. Hal itu menyebabakan kegelisahan di benak orang tua. Baca juga: Bagaimana Mewujudkan Keluarga yang Harmonis?

Selasa, 13 Desember 2016

Where Focus Goes, Energy Flows

Sambutan Ketua Penitia Seminar Nasional Literasi ICT
Satu pelajaran penting dalam hidup jika kita menginginkan pertumbuhan pribadi adalah bagaimana kita menentukan dan mengarahkan fokus dalam hidup. Jika kita ingin mencapai hasil yang luar biasa dan pemenuhan dalam pekerjaan , karir , atau misi kita, kita perlu untuk mendapatkan laser yang difokuskan pada apa yang kita inginkan, dan menciptakan visi yang jelas kristal di mana kita ingin pergi . 

Memiliki konsistensi dalam berfokus pada perubahan perilaku, memberikan Anda momentum Anda perlu mengambil tindakan kecil sehari-hari yang akan menyebabkan hasil yang konsisten. Mulailah dari tujuan akhir, bangunlah tindakan konsisten setiap hari. 

Kemana Fokus kita menuju dalam hidup, disanalah energi kita akan mengalir. Bukan pristiwa atau kejadiannya yang terpenting, tetapi bagaimana cara kita mengarahkan fokus untuk melihatnya dari sisi yang berbeda.

Kemajuan Orang Lain bukan Berarti Kamu Gagal

Dok. Pribadi "Kebun Raya Bogor"
Pernahkah Anda merasa bahwa orang-orang di sekeliling Anda jauh lebih unggul dan maju dari diri Anda? Biasanya seseorang akan memamerkan kemajuan hidupnya dengan menampilkannya di media sosial yang mereka miliki. Memiliki ini dan itu, pergi keliling dunia, mendapatkan beasiswa, bekerja di sebuah perusahaan yang bergengsi dan beraneka ragam beserta pernak-perniknya.

Dulu saya juga pernah merasakan hal yang demikian, terutama ketika SD. Maklum belum memiliki sudut pandang yang pas tentang kemajuan. Tetapi, sekarang saya menyadari “The progress of other people does not mean that you are failing.”

Selasa, 06 Desember 2016

Seminar Internasional : Pendidikan Dalam Tantangan Global: Pengalaman Eropa dan Indonesia

Mejelang tahun 2045 Indonesia akan mengalami ledakan penduduk usia produktif, usia 15-64 tahun. Ini keberuntungan yang luar biasa karena para pemuda yang produktif inilah yang bisa menjadi penggerak dinamika kemajuan suatu bangsa. Tak heran, McKinsey Global Institute memprediksi Indonesia akan mampu meroket menjadi salah satu dari 7 raksasa ekonomi pada tahun 2030, menyalip negara-negara barat.

Saat itu Indonesia memiliki 135 juta kelas menengah dan membutuhkan 113 juta tenaga terampil. Indonesia juga menjadi salah satu pasar terbesar dunia dengan nilai 1,8 triliun USD yang meliputi bidang jasa konsumen, perikanan dan pendidikan.

Senin, 05 Desember 2016

Evaluasi Aksi Bela Islam III, Habib Rizieq : Itu Pertolongan Allah SWT

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dua hari setelah Aksi Bela Islam III di Lapangan Monas pada Jumat (2/12), Ketua Dewan Penasihat Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF) Habib Muhammad Rizieq Syihab menyampaikan evaluasi aksi.

Pertama, walau aksi ABI III telah digembosi dengan berbagai cara, dengan bantuan Allah SWT, peserta aksi yang hadir berlipat ganda dibanding aksi sebelumnya. Semua itu adalah pertolongan Allah SWT.

Kedua, saat terjadi penggembosan termasuk melalui perusahaan transportasi, Allah SWT menggerakkan hati hamba-hamba-Nya dari Ciamis untuk berjalan kaki ke Jakarta. Sepanjang jalan, mereka disambut masyarakat dengan air mata haru, makanan, dan aneka bantuan.

"Ini pertolongan Allah SWT. Ini memengaruhi spikilogis umat Islam lain. Dari Bandung, Bogor, Depok ikut jalan kaki. Umat Islam Jakarta pun jalan kaki. Bahkan, ibu-ibu bersedia jalan kaki ke Monas. Tidak ada kekuatan yang mampu gembosi kekuatan Allah SWT," tutur Habib Rizieq dalam evaluasi Aksi Bela Islam III di Markaz Syariah, Petamburan yang disiarkan kanal //streaming// Habib Muhammadi Rizieq, Ahad (4/12).

Selain itu, diperkirakan peserta Aksi Bela Islam II pada 4 November dihadiri 3,2 juta orang. Menggunakan GoogleMap, jumlah peserta Aksi Bela Islam III perkiraan dua kali lipatnya.

Menggunakan data pengguna KRL, pada 4 November pengguna KRL meningkat empat kali menjadi tiga juta orang dimana 2,250 juta orang adalah peserta aksi. Itu belum yang menggunakan bus, kendaraan pribadi, taksi, motor dan lain-lain.

"Hitungan itu logis dan ilmiah. Aksi Bela Islam III itu lebih dari dua kali lipat Aksi Bela Islam II dan diprediksi pesertanya mencapai 7,5 juta orang," kata Habib Rizieq.

Dia mengatakan, tidak ada seorang habib, kiyai, ulama, ormas, atau parpol manapun yang bisa mengsumpulkan orang sebanyak itu untuk satu tujuan. "Itu semua pertolongan Allah SWT," ujarnya.

Habib Rizieq juga menyampaikan, semua keindahan yang terlihat di Aksi Bela Islam I dan II, persatuan dan kebersamaan umat Islam, pada Aksi Bela Islam III terlihat lebih jelas dan nyata. Pada Aksi Bela Islam II, indahnya persaudaraan hanya pada lokasi aksi, tapi kali ini persaudaraan ini tidak hanya dilokasi aksi.

Refleksi Aksi 212 “ Melahirkan Generasi yang Berilmu, Beriman dan Berani”

Dok. Pribadi Aksi Bela Islam III ( 212) di Monas Jakarta
Ada satu percakapan yang masih saya ingat bersama sosok yang berperan penting dalam kehadiran saya di muka bumi ini. pertemuan kami seringkali diselingi tawa, diskusi agama,  berbagi sudut pandang dalam hidup, dan perkembangan yang terjadi tengah-tengah masyarakat.

Malam semakin larut, seharian bekerja tidak membuatnya mengantuk dan masih menyelesaikan disertasinya di tengah kesibukannya sebagai abdi negara.

Kurang lebih dua tahun yang lalu,  masih terang dalam ingatan saya, sejuknya angin malam yang membelai lembut kulit dan suara jangkrik di malam hari.

“Bang, di negeri ini banyak orang yang pintar tapi tidak berani melakukan perubahan. pintar saja dalam hidup tidak cukup. Dalam hidup kita juga harus berani. Berani melakukan kebajikan dan berani mencegah keburukan yang terjadi di sekitar kita” tuturnya membuka pembicaraan malam itu

Saya hanya tersenyum saja, dan menanggapi seperlunya. “benar juga ya Pa. Mungkin kurang iman”.

 Karena saya yakin Allah ciptakan kita dua telinga dan satu mulut agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Penggalan dialog malam itu masih tersimpan rapi di memori dan sanubari saya.

Yang masih terlintas dalam pikiran saya adalah berilmu dan berani. Tapi saya menambahkan kata iman setelah berilmu. Ibarat tanaman, pupuk iman itu adalah ilmu. Dan iman bisa muncul karena ilmu. Dua hal yang saling mempengaruhi.

Tiga kata ini, Berilmu, Beriman, dan Berani sudah menjalar di seluruh denyut nadi tubuh yang Allah ciptakan ini. kekuatan ilmu dan iman sudah seharusnya melahirkan generasi yang berani berpihak kepada kebenaran.

Banyak orang yang berilmu tapi tidak berani, ada juga yang berani tapi tidak berilmu, ada juga beriman tapi tidak berilmu. Tetapi ketika ketiganya bersatu Berilmu, Beriman, dan Berani maka terjadilah keajaiban dan revolusi dalam diri manusia, dalam organisasi, bahkan sebuah negara untuk berdikari dan mandiri agar lepas dari penjajahan bangsa lain.

Dalam aksi 411 maupun 212 saya melihat, merasakan, dan mendengar rasa bahagia, sedih, dan perasaan yang bercampur aduk melihat pemandangan yang sangat spektakuler. Saya yakin di dalam darah saudara-saudara kita muslim di Indonesia masih mengalir darah pejuang. Berani membela kebenaran, rela berkorban, dan senasip sepenanggungan dalam menyuarakan keadilan di negerinya sendiri yang masyoritas orang muslim terbesar di dunia.

10 Pelajaran dan Hikmah Dari Aksi Bela Islam III 212

Allah menjelaskan di antara ciri orang yang menggunakan akalnya dengan baik ialah yang bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari suatu kejadian/peristiwa. (Al-Ankabut : 34 - 35)

Maka peristiwa Aksi Bela Islam III, Jumat, 2 Desember 2016 yang dihadiri jutaan kaum Muslimin dari berbagai wilayah Indonesia mengandung banyak pelajaran dan hikmah. Di antaranya :

1. Ternyata masih banyak umat Islam Indonesia yang masih hidup Iman dan Islam dalam dada mereka sehingga mereka rela berkorban apa saja untuk membela dan memperjuangkan Islam saat dibutuhkan.

2. Ternyata umat Islam masih punya ulama dan tokoh yang istiqamah di jalan Islam sehingga mereka mendahulukan kepentingan Islam, perjuangan Islam dan umatnya daripada kepentingan pribadi mereka.

3. Ternyata musuh Al-Qur'an dan umat Islam itu banyak dan kuat. Namun, jika mereka bersatu di atas dasar Al-Qur'an, bukan mazhab/ kelompok maka mereka lebih kuat lagi dan menggentarkan musuh mereka sebagaimana yang dialami oleh generasi Islam pertama sampai sekitar 12 abad setelah mereka.

Kelahiran Generasi 554: Tangguh dan Berkualitas

Dok. Pribadi Aksi Bela Islam III 212 di Monas Jakarta saat melaksanakan sholat jama setelah Jum'at
Alhamdulillah sebuah pristiwa terbesar dalam sejarah dunia islam terjadi di Indonesia pada tanggal 2 Rabiul Awal 1438 H/ 2 Desember 2016 (212). Semua mata di seluruh dunia  tertuju pada suatu peristiwa yg mungkin pertama kali terjadi di Indonesia dan dunia.

Peristiwa itu ialah shalat Jumat yang dihadiri oleh jutaan kaum Muslim di Lapangan Monas, Jakarta (Bahkan jamaah  sholat hingga sampai tugu tani). Mereka datang dari berbagai penjuru Indonesia. Bahkan menurut beberapa informasi setelah acara, ada orang yang datang dari negara tetangga.

Generasi 554 lahir akibat terjadi kemurtadan (keberpalingan massal) dari agama Islam oleh umat Islam itu sendiri dalam waktu yang lama sehingga Allah menganti mereka dengan generasi baru yang memiliki karaktet yang amat unik.

Allah berfirman :

"Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum,
1) Dia mencintai mereka
2) dan mereka pun mencintai-Nya,
3) dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman,
4) tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir,
5) yang berjihad di jalan Allah,
6) dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.

Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui." (QS Al-Ma'idah : 54)

Semoga kita dan anak cucu kita menjadi GENERSI AL-Qur'an di akhir zaman... in Syaa Allah..

Jakarta, 4 Rabiul Awal 1438 H/ 4 Desember 2016 M

Kamis, 24 November 2016

Ilmu Yang Dilupakan Kebanyakan Muslimin

Ia bukan sosok yang banyak bicara, diamnya, bicaranya, senyumnya selalu menyejukkan hati. Dia sosok yang lebih banyak berbuat daripada berkata. Ia selalu mendahulukan hal yang lebih penting daripada yang penting, tidak pernah menghujat, mencaci maki orang yang berdosa. demikianlah kesungguhannya untuk meniru akhlak Nabi Muhammad Sholaullohhu 'Alaihi Wassalam.

Tidak menyukai popularitas, menepi ke sudut dunia untuk menyampaikan wahyu ilahi di pelosok negeri. Merajut persatuan menyuburkan iman umat manusia. Semata-mata untuk persiapan bekal kepulangan ke negeri keabadian.

Saya rindu dengan sosok guru saya yang satu itu, darinya saya belajar keteguhan, manisnya iman, dan tentu bagaimana menyikapi kehidupan yang sebenarnya. Bagaimana caranya men-service masyarakat. Nasehatnya mampu meresap ke sanubari.

Pelajaran yang paling penting beliau tanamkan adalah segala hal yang berkaitan dengan iman. Pengetahuan seorang muslim tentang segala hal yang berkaitan dengan akhirat, adalah sesuatu hal yang sangat-sangat penting lagi wajib diketahui dan dimiliki ilmunya.

Dalam surat Shood ayat 45 dan 46 Allah berfirman tentang pujianNya pada hamba-hambaNya yang selalu ingat tentang hal-hal yang berkaitan dengan akhirat:

 “Dan ingatlah selalu akan kisah kehidupan beberapa hamba Kami, yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub, yang mempunyai kekuatan yang hebat lagi berpengetahuan yang dalam. Sesunggnya kami telah menganugerahkan kepada mereka itu akhlak, ilmu dan ketulusan yang tinggi. Itu semua disebabkan mereka selalu ingat, juga mengingatkan manusia akan negeri akhirat”.

Saudaraku yang dirahmati Allah Subhanahu wata’ala

Dari ayat tersebut telah begitu sangat jelas dan terang benderang. Seorang disebut telah memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi, agung dan hebat, yaitu jika ia telah memiliki ilmu tentang seluk beluk akhirat.

Ada apa saja di akhirat? Bagaimana keadaan orang-orang di akhirat? Apa saja yang akan dialami oleh semua orang di akhirat? Bagaimana cara ia bisa selamat? Dan jika tidak selamat ia akan seperti apa?

Ilmu-ilmu seperti itulah yang apabila dimiliki setiap muslim, maka akan timbul semangat beribadah dan giat beramal sholeh. Ilmu-ilmu seperti itulah yang apabila dimiliki setiap muslim, maka akan menjadikannya seorang yang takut dosa dan mampu meninggalkan perkara yang harom.

Selasa, 15 November 2016

Hakikat Prestasi Yang Sebenarnya

Malam semakin pekat, rasa letih kian mendera. Aktivitas di kota besar  cukup menyita banyak waktu, tenaga, pikiran, dan biaya yang ekstra. Semua orang berlomba, berlari mengejar terik matahari untuk memulai aktivitas di pagi hari. Bahkan sangat pagi mereka sudah berdiri dan mempersiapkan diri.

Lelaki muda itu kembali bertanya, apa sebenarnya hakikat sebuah prestasi? Bertumpuknya gelar, penghargaan, piagam? Tepuk tangan dan decak kagum orang lain terhadap dirinya, tidak membuatnya lupa diri.

Teringat kembali, kisah di zaman Nabi untuk mencari kata kunci, hakikat prestasi seorang manusia itu sebenarnya apa? Karena membaca sejarah terkadang obat terbaik untuk menyulut api semangat di dalam jiwa.

Debu-debu berterbangan, mencoba menutupi teriknya cahaya matahari Madinah. Pohon tak malu bergoyang, ketika angin datang dan membelainya dengan lembut. Pasukan gagah umat muslim bersiap di pelataran pintu gerbang Madinah. Tak banyak yang dipersiapkan memang, karena mereka hendak menghadang kafilah dagang dan bukan berperang. Rasulullah Sholaullohhu ‘alihi Wassalam mulai memberikan komando agar 313 prajurit itu bergerak.

Ya, suasana itu demikian nyata, ketika pasukan muslim bergerak keluar Madinah untuk menghadang kafilah dagang Abu Sufyan, kafilah dagang yang berisi ratusan unta lengkap dengan barang di punggungnya.

Rupanya Abu Sufyan sudah mengetahui bahwa dirinya akan diserang. Maka dikirimlah temannya ke Mekah untuk memberikan kabar bahwa akan ada penyerangan oleh kaum muslimin.

Akhirnya tak kurang dari 1000 pasukan pergi untuk berhadapan kaum muslimin di Padang Badar. Kaum muslim yang tak siap berperang harus siap melawan pasukan 3 kali lebih banyak dari dirinya. diturunkannya hujan dan malaikat menjadi pertanda pertolongan Allah. 

Rasulullah SAW berdoa menengadah kepada Allah Swt. Beliau Khawatir tidak akan ada lagi manusia yang akan membela Islam jika mereka dibinasakan. Umat Muslim menang dengan jumlah korban sangat sedikit.

Rabu, 09 November 2016

Belajar dari Guru Bangsa H.O.S. TJOKROAMINOTO

H.O.S. Tjokroaminoto adalah keturunan priyayi dan santri sekaligus. Beliau dilahirkan pada tanggal 16 agustus 1882, setahun sebalum meletusnya Gunung Krakatau yang getarannnya terasa hingga dataran Amerika. Ia adalah santri terakhir dari pesantren Tegalsari Ponorogo yang dipimpin oleh K.H. Hasan Besari. Buyutnya adalah seorang ulama besar, Kyai Bagus Muhammad Besari pendiri Pesantren Tegalsari Ponorogo yang diberi nama Gebang Tinatar.

Usia H.O.S. Tjokroaminoto baru menginjak 34 tahun ketika beliau memimpin langsung Kongres Nasional Kebangsaan Pertama Central Sarekat Islam pada tahun 1916 yang dihadiri 80 utusan lokal mewakili tidak kurang dari 360.000 anggota aktif yang tersebar di seluruh wilayah nusantara.

Setelah Raden Mas Tjokroaminoto menunaikan ibadah haji, maka gelar kebangsawanannya ditinggalkan, blangkonnya ditinggalkan. Beliau lebih suka memakai nama Hadji Oemar Said Tjokroaminoto dan mengenakan peci sebagai identitas kebangsaan, yang kemudian menjadi peci simbol nasionalisme. Dan beliau mengabadikannya dalam sebuah “potret revolusi” duduk tumpang kaki, kumis melintang, berpeci, pakai jas tutup dan mengenakan sarung, gaya yang tidak lazim bagi kalangan ningrat “tempo doeloe” tetapi gaya yang khas bagi kaum santri.

Oemar Said Tjokroaminoto menyadari bahwa umat islam yang tertindas, diubah oleh penjajah menjadi seperti tertidur lelap kesadarannya. Tidak lagi menyadari bahwa dirinya memiliki tanah air, bangsa dan agama yang terjajah, pasrah tanpa minat untuk melepaskan diri dari penindasan. Umat Islam sebagai mayoritas, sedang kehilangan seseorang pemimpin yang berani membangkitkan kesadarannya bahwa dirinya sedang tertindas dan terjajah.

Rabu, 02 November 2016

Revolusi Al-Qur'an Dan PR Besar Setelahnya


In syaa Allah kalau tidak ada sesuatu kejadian yang amat dahsyat pada Jumat 4 Nopember mendatang akan terjadi REVOLUSI AL-QUR'AN yang berpusat di Jakarta, dimulai dari shalat Jumat di Masjid Istiqlal kemudian menuju Istana Negara Jakarta.

Disebut REVOLUSI AL-QUR'AN karena Al-Qur'anlah yangmenggerakkan hati dan semangat umat Islam Indonesia dari berbagai penjuru wilayahnya untuk bersama melalukan sebuah aksi damai menuntut agar Gubernur DKI Ahok, penista satu ayat Al-Qur'an surah Al-Maidah ayat 51 dihukum.

Sungguh Al-Qur'an itu sangat dahsyat. Satu ayat Al-Qur'an saja berhasil menyatukan hati dan langkah umat Islam Indonesia sehingga mereka kompak dan bersatu dalam menghadapi kasus penghinaan terhadap ayat mulia tersebut.

Al-Qur'an memang Maha Dahsyat. Jika ia diturunkan ke gunung-gunung niscaya gunung-gunung tersebut akan tunduk dan pecah karena takut pada Kalamullah tersebut. (Al-Hasyar : 21).

Jalan Ketiga dan Delapan (8) Alasan Al-Qur'an Akan Menguasai Dunia Kembali


Bismillahhirrohmanirrohim

Di tengah-tengah perkuliahan bersama salah satu dosen yang juga pengajar di Lemhanas tiba-tiba di akhir kuliah bersama Prof. Dr. Hj. Jenny kami berbicara mengenai bahasa sebagai media lalu prosesnya dalam membentuk sebuah ideologi. Beliau sering memberikan pelatihan dan mengajar untuk para pimpinan nasional negeri ini. Pertanyaan yang sering kali beliau dapatkan adalah darimana memulai perubahan?

Tiba-tiba suasana kelas berubah seolah-olah yang hadir adalah para pimpinan nasional. “Saya seolah-olah bicara kepada para pimpinan nasional, anggap saja kalian calon pimpinan nasional” tuturnya.

Saya teringat kembali setelah membaca sebuah buku yang salah satu sub judulnya “Jalan Ketiga”

Jika kita melihat bagaimana arah perkembangan dunia, khususnya setelah Perang Dingin Timur Barat Berakhir. Memang saat itu buku yang populer adalah The End Of History karya Francis Fukuyama (1992). Kesan yang diperoleh saat itu adalah komunisme sudah kalah dan kapitalisme dan demokrasi liberalisme keluar sebagai pemenang.

Tetapi, kita kembali mempertanyakan, apa benar kapitalisme pasar bebas merupakan ideologi yang sempurna, dan mampu menyelesaikan permasalahan dunia? Apakah demokrasi liberal cocok untuk semua bangsa? Sudah banyak contoh, bahwa kapitalisme menyisakan jurang kaya-miskin yang sangat mencolok, dan demokrasi liberal apa juga pas untuk Indonesia yang falsafah negaranya mengedepankan musyawarah untuk mufakat?
Ketika banyak kalangan mempertanyakan demokrasi liberal dan kapitalisme di awal tahun 1990-an itu muncul pula pemikiran alternatif, mula-mula di inggris, tetapi kemudian juga di Eropa kontinental dan juga di Amerika Latin. Di tengah semangat untuk mengajukan Jalan Ketiga (The Third Way), bukan komunisme tetapi juga bukan demokrasi liberal dan kapitalisme, Anthony Giddens mencoba meyakinkan, bahwa satu jalan ketiga bukan saja satu kemungkinan, tetapi satu kebutuhan dalam politik modern.

Di Inggris pemikiran Tonny Giddens banyak merebut perhatian Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Boleh jadi di Inggris saat itu memang ada kebutuhan akan ideologi alternatif, setelah kapitalisme dipraktikkan dengan banyak privatisasi perusahaan publik.

Di Indonesia, yang ingin dipersepsikan sebagai ideologi adalah pancasila, namun yang banyak ditemui di dunia politik umumnya sebatas pragmatisme, sementara dalam bidang ekonomi-saat Orde baru sempat disebut kapitalisme ersatz sebagaimana disitir oleh Kunio Yoshihara dalam bukunya The Rise of Ersatz Capitalism di Southeast Asia (1998).

Naiknya pemikiran baru ini didorng oleh ketidakpuasan faham kapitalisme dan demokrasi liberal yang di satu sisi berkembang luas, namun gagal menyejahterakan banyak warga bangsa yang menganutnya. Ketika negara seperti Indonesia banyak dipuji sebagai negara yang sukses dalam transformasi demokratis, masih ada sekitar 30 juga warga miskin atau lbih dari itu jika rujukan tolak ukur kemiskinan dibuat lebih manusiawi.

Melihat perkembangan itu banyak para ahli bertanya-tanya mengapa setelah satu perang ideologi usai, pemenangnya tidak bisa berbuat banyak untuk membuat dunia lebih sejahtera, atau lebih aman.

Saya juga bertanya kepada Prof. Jenny " apakah mungkin sebuah ideologi negara berubah?" Mungkin saja, tetapi NKRI tetap harga mati.Tambahnya

Melihat perkembangan global, ketika negara-negara maju mulai mencari jalan alternatif. Kenapa negara kita dengan masyarakat muslim terbesar di dunia tidak merujuk kembali kepada Al-Qur’an? Bahkan di negara ini ketika Al-Qur’an dilecehkan belum terlihat sikap tegas dan cepat untuk menuntaskannya.

Dari hasil beberapa diskusi bersama dengan tokoh pergerakan islam dua hari yang lalu, saya semakin yakin bahwa bisa saja Jalan Ketiga yang selama ini mereka cari adalah Al-Qur'an. Ada delapan alasan Al-Qur’an akan kembali menguasai dunia menurut Ustadz Fathuddin, MA yang merupakan CEO di Tafaqquh Development Group dan Pembina di Majelis Tafaqquh Fiddin (MTF).

1. Bukti Sejarah selama 13 abad lamanya Al-Qur'an eksis di atas 2/3 bumi.

2. Umat Islam khususnya dan umat manusia umumnya sudah lama kehilangan konsep/manhaj hidup yang fitrah sehingga mereka hidup dalam kesulitan, kegelapan dan kezaliman. (Seperti yang sudah kita bahas di awal tulisan ini)

Senin, 31 Oktober 2016

Cara Memandang Dunia

Wawan adalah salah satu karyawan di Sebuah perusahaan swasta. Seorang pekerja keras yang memiliki segudang impian untuk meraih masa depan yang cerah. Yang luar biasa, di sela-sela pekerjaannya ia juga sedang melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2.

Setiap hari ia bergelut dengan waktu, mencoba berkompromi dengan keadaan yang terkadang tidak mudah untuk membuat sebuah keputusan. Di tengah badai yang datang menerpa, karena keputusannya untuk melanjutkan kuliah, ia  terkadang kehilangan energi ekstra untuk meneruskan perjuangannya.

Kata-kata yang sering terlontar adalah “apalah saya, saya tidak sepintar bapak “ demikian kata yang sering diucapkan.

Lalu rekannya menjawab :

"Mas Wawan terkarang manusia selalu memandang diri terlalu rendah, padahal apa yang dilakukannya mungkin tidak bisa dilakukan oleh orang banyak di luar sana. Tetapi, lagi-lagi cara sesorang memandang dunia sangat menentukan tindakannya di dalam menyelesaikan tantangan yang datang.

Bila kita memandang diri kita kecil, dunia akan tampak sempit dan tindakan yang kita ambil pun kecil. Tapi, jika kita memandang diri kita besar karena kita diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Maka dunia akan terlihat luas, kita pun melakukan perkara-perkara yang luar biasa, penting, dan berharga.

Jumat, 28 Oktober 2016

Bagaimana Cara Belajar di Abad ke-21 ?

Kita seringkali dituntut untuk belajar tetapi masih sedikit yang mengetahui bagaimana cara belajar yang baik? Revolusi belajar? Mengapa tidak? Agar sukses dalam pendidikan, karier, dan dunia kerja, yang mesti dilakukan adalah belajar lebih cepat lagi, mengingat lebih banyak, dan berpikir lebih kreatif. Orang yang ingin menjadi “TERUNGGUL” dan “TERBAIK” di abad ke-21 mesti menguasai kemahiran inti untuk meraih sukses.

Baca Juga: Enam Tips Agar Flow dan Strategi Untuk Memiliki Hidup Yang Lebih Kreatif

Ternyata hadirnya internet, teknologi bergerak (mobile), dan media sosial telah mengubah lansekap dunia pembelajaran secara radikal. Bagaimana cara dulu kita belajar sudah tidak lagi relevan untuk dipraktekkan sekarang. Jadi kalau kita tidak mampu keep up dengan cara belajar masa kini, niscaya kita akan jadi sangat jauh tertinggal.

Faktanya di dunia pendidikan kita hari ini, masih saja ada orang yang menggunakan cara lama dalam belajar. Sehingga kurang tangguh dalam menghadapi perubahan yang cepat dan kompleks.

Jika kita melihat negara-negara maju, sesungguhnya kekayaan setiap bangsa adalah hasil dari kualitas otak penduduknya (Baca: mensyukuri anugrah Allah berupa otak), kreativitas dan keterampilannya. Dengan kata lain aset terbaik kita adalah kemampuan kolektif untuk belajar cepat dan beradabtasi secara cerdas terhadap situasi yang tidak bisa diramalkan. Pertanyaannya, apakah otak saja cukup? Tentu tidak, pembaharuan pendidikan merupakan sebuah kemestian agar terjadi keseimbangan dapat terwujud. karena kita manusia bukan robot.

Kamis, 27 Oktober 2016

Mengangkat Kesadaran Kemanusiaan Melalui Pendidikan


Perubahan peradapan menuju masyarakat berpengetahuan (knowledge society). menuntut masyarakat dunia untuk menguasai keterampilan abad ke-21 yaitu mampu memahami dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (ICT Literacy Skills). Pendidikan memegang peranan sangat penting dan strategis dalam membangun masyarakat berpengetahuan yang memiliki keterampilan: (1) melek teknologi dan media; (2) melakukan komunikasi efektif; (3) berpikir kritis; (4) memecahkan masalah; dan (5) berkolaborasi.

Perkembangan teknologi yang begitu cepat membawa dampak pada penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau information and communication technology (ICT) diberbagai aspek kehidupan termasuk dalam proses pembelajaran di Perguruan Tinggi. Kenyataan menunjukan bahwa untuk meningkatkan kualitas pendidikan harus dipenuhi berbagai persyaratan salah satunya adalah memiliki sarana prasarana yang memenuhi standar seperti pemanfaatan ICT dalam pendidikan. Dengan hadirnya ICT dunia pendidikan bisa membawa dampak positif apabila teknologi tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Faktanya di lapangan, banyak mahasiswa/ pendidik yang belum bisa memanfaatkan sumber-sumber belajar tersebut. Banyak yang bingung bagaimana cara mengakses perkembangan ilmu yang terbaru dari berbagai belahan dunia, jurnal-jurnal penelitian mutakhir seputar bidang yang ingin diteliti. Mengakibatkan mahasiswa kita tertinggal dalam mengikuti perkembangan ilmu global. Padahal hal ini sangat penting dan mendukung dalam menyelesaikan tugas kuliah, riset, dan tesis.

Penggunaan ICT dalam pendidikan antara lain sebagai e-Learning, e-Library, e-Books, e-Journal, Multimedia, Virtual Laboratory, Implementasi ICT untuk pencarian data, pengolahan data, penyebarluasan hasil penelitian dan informasi penelitian, mengakses berbagai bahan ajar dari seluruh dunia. Melihat pentingnya ICT, maka dibutuhkan pelatihan peningkatkan kemampuan dan penyediaan perangkat pendukung  terutama bagi mahasiswa yang merupakan pilar terdepan dalam peningkatan mutu akademik di kampus.

Keberhasilan pada abad ke-21 akan tergantung terutama sejauh mana kita mengembangkan keterampilan yang tepat untuk menguasai kecepatan, kompleksitas, dan ketidakpastian yang saling berhubungan. Kecepatan dunia berubah menuntut dan mensyaratkan kemampuan belajar yang lebih cepat. Kompleksitas dunia yang terus meningkat juga menuntut kemampuan yang sesuai untuk menganalisis setiap situasi secara logis dan memecahkan masalah secara kreatif.

Pertanyaannya, apakah cukup mengembangkan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan tanpa nilai-nilai yang luhur?

Di tengah kompleksitas dan perubahan yang semakin cepat kita kembali mempertanyakan sudahkah pendidikan mampu melakukan pencerahan terhadap manusia, mengangkat kesadaran kemanusiaannya, mengilhami dan memberdakan orang untuk meraih takdir mereka, mengamalkan agamnya dengan menjadi contoh sukacita totol, pengasih, ceria, kuat, dan penuh semangat yang bisa kita miliki begitu seseorang bersukacita dalam karunia Allah dan dengan tulus mengasihi serta melayani semua makhluk ciptaannya, sudahkah pendidikan mendidik dan mengilhami orang untuk hidup dengan jati diri tertinggi mereka berdasarkan keberaniaan, tujuan dan sukacita.

Rabu, 26 Oktober 2016

Sahabatmu Masa Depanmu

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

Kali ini kita akan membahas sebuah topik yang sering membuat resah para orang tua. Sesuatu yang dapat menjadi jalan menyesatkan dan dapat pula menunjukkan jalan lurus bagi para pemuda adalah persahabatan.

Seorang bijak pernah berkata, jika ingin menebak masa depan seseorang lihat saja siapa sahabatnya. Pertanyaannya sahabat Anda, apakah mereka orang-orang yang baik atau sebaliknya? Apakah mereka adalah sahabat yang membantu Anda dalam mewujudkan ketaatan kepada Allah, atau sahabat yang menjauhkan Anda dari-Nya? Apakah mereka juga telah mendapatkan pendidikan yang sama, sebagaimana Anda mendapat pendidikan di rumah atau sebaliknya?

Kita sering bertanya-tanya, mengapa anak-anak yang telah didik dengan pendidikan yang sangat bagus oleh keluarga mereka yang juga berasal dari orang-orang terhormat. Namun, kita tidak mengetahui mengapa pemuda itu bisa melakukan hal-hal yang negatif yang melampaui batas. Keluarga mereka terkejut saat mengetahui anaknya sampai melakukan hal-hal yang negatif. Mereka juga terkejut  ketika mengetahui anak mereka berada di kantor polisi. Namun, mereka tidak memperhatikan siapa teman-teman anaknya. Di tengah kesibukannya mencari nafkah, terkadang para orang tua tidak banyak memperhatikan masalah ini.

Selasa, 25 Oktober 2016

Menciptakan Peluang

Pada suatu saat tentu kita akan mengalami Bimbang dan bingung setelah mendapatkan status Mahasiswa, apalagi ketika dinyatkaan lulus sebagai sarjana. Menjalani rutinitas perkuliahan, tentu membuat kita cepat merasa bosan dan tertekan. Ada juga yang merasa nyaman dengan rutinitas itu kemudian lupa mempersiapkan diri pasca perkuliahan selesai.

Apalagi yang berada di Kampus Swasta, eits. Ada apa dengan kampus swasta? Apalagi kampus yang mempunyai fasilitas yang terbatas, jika dibandingkan dengan Fasilitas Perguruan TInggi Negeri. Pertanyaan yang sering kali bergejolak dari hati kita adalah apakah mungkin mahasiswa swasta seperti saya ini mampu meraih sukses? Mungkinkah saya bisa mewujudkan mimpi di sini?

Sekilas bagi orang yang biasa, mereka kesulitan dalam menemukan peluang untuk sukses. Tetapi, bagi manusia yang kreatif, mereka hampir selalu bisa menemukan dan menciptakan peluang untuk meraih kesuksesan yang mereka inginkan. Oleh karena itu, untuk jadilah manusia yang kreatif.

Ada empat cara untuk menciptakan peluang. Baik sebagai pelajar, mahasiswa, ataupun dalam dunia kerja.

Jumat, 21 Oktober 2016

Rendah Hati Dalam Beramal

Malam itu, suasana hening semuanya terhanyut mendengar sang ustadz menyampaikan tabligh musibah. Cermah yang singkat itu mengedor-gedor hati yang terkadang congkak dan bangga dengan amal yang sering kita pamerkan.

“Saya belum melakukan apa-apa”
Atau “Apa yang saya lakukan belum seberapa dan masih banyak kekurangan”

Itulah kalimat yang sering saya dengar dari Pak Joko. Seorang pengusaha yang sangat rendah hati dan giat dalam kegiatan sosial dan dakwah.

Menikmati Proses

Semua pasti butuh proses. Semua pasti mengalami halangan dan rintangan. Dan sebenarnya, justru itulah "vitamin" yang akan mengantarkan kita pada kesuksesan.

Dengan kesadaran bahwa semuanya butuh diperjuangkan, maka kita akan jadi pribadi-pribadi yang kuat menghadapi goncangan. Tak ada satu pun tokoh sukses dunia yang tak mengalami berbagai ujian. Namun justru dengan ujian tersebut, perjuangan mereka justru mengkristal sehingga melahirkan kekayaan mental utuh yang mengantarkan mereka pada pencapaian yang mampu melewati batas zaman.

Rabu, 19 Oktober 2016

Tips Menjadi Orang Sakti

Akhir-akhir ini banyak orang terkesima dengan orang yang dianggap sakti alias mampu melakukan satu hal yang tidak dapat dilakukan orang lain atau orang biasa. Bagi banyak orang asal mampu membuat kagum, maka serta merta dianggap wali, orang sholeh, dan segera dielu-elukan dan diikuti.

Seakan lupa, bahwa setan bisa saja membantu pemujanya melakukan hal-hal yang di luar kemampuan manusia normal. Bila demikian, akankah anda mengangap para pemuja setan sebagai orang sholeh atau wali Allah Ta’ala ?

Pertanyaan Yang Menggugah

Apakah Anda percaya bahwa sebuah pertanyaan mempunyai kekuatan untuk mengubah seseorang?  Bagi seorang yang sering berbicara di ruang publik tentu tahu betul kekuatan pertanyaan. Apalagi seorang trainer, presenter, guru, dan seorang pemimpin.

Baca juga : Kekuatan Afirmasi Vs Pertanyaan

Ketika mengajukan pertanyaan adakalanya kita tidak membutuhkan jawabannya ketika itu. Boleh jadi pertanyaan yang Anda ajukan berupa pertanyaan reflektif yang justru efektif bila dijawab saat mereka sedang sendiri. Karena ego manusia terkadang cenderung menolak jika menerima nasehat orang lain di tempat ramai.

Dalam mengeluti dunia seminar dan pelatihan, saya memperhatikan kebanyakan motivator, trainer, narasumber, presenter hanya memperhatikan pengaruh yang terjadi di dalam kelas. Padahal, presentasi yang baik dampaknya bukan hanya saat peserta berada di kelas, tetapi masih memiliki dampak dan berpengaruh di luar kelas.

Rabu, 12 Oktober 2016

Menginstall Kekhusyuan, Ketenangan dan Kewibawaan

Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang pembawaannya tenang walaupun sendang menghadapi tantangan hidup? Pernahkah Anda melihat dan mendengar orang yang sangat berwibawa? Apa rahasia mereka? Bisakah semua orang menggapainya?

Di tengah era yang sangat distruptif, perubahan semakin cepat. Pendekatan kehidupan selalu berubah, membuat orang tampak seringkali emosional dalam mensikapi hidup. Akibatnya kita sering lupa kembali belajar, duduk di majelis ilmu untuk memperbaharui ilmu dan iman.

Selasa, 11 Oktober 2016

Ringankan Hidup Anda Dengan Memberi

Jika Anda meras tak ada seorang pun yang mengasihi ketika kesulitan datang melanda dalam kehidupan Anda. Atau tidak ada yang mau merayakan keberhasilan yang Anda capai. Mungkin juga tidak ada seorang pun yang bersedia memandang, memperhatikan, mendengar apa pun dari diri Anda. Jangan masukkan ke dalam hati.

Benarlah sebuah ungkapan dari imam syafii ”Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan. Supaya kamu mengetahui bahwa  Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.”

Baca Juga Kisah : Dimanakah Jodohku

Tidak perlu risaukan sikap orang lain. Manusia secara fitrohnya memang mencintai dirinya sendiri, kebanyakan mendahulukan kepentingannya sendiri. Oleh karena itu, tidak perlu memasukkan itu semua ke dalam hati. Karena hanya akan menyesakkan dan membebani langkah Anda.

Lalu bagaimana agar langkah kita menjadi ringan?

Senin, 10 Oktober 2016

Alfarabi, Komposer Besar Muslim Yang Tidak Cinta Dunia


Selama ini kita hanya tahu kalau jagoan musik itu orang-orang seperti Mozart, Bach, atau komposer-komporser barat lainnya. Padahal jauh sebelumnya, dunia Islam sudah melahirkan seorang musisi jenius: Al Farabi!

Nama sebenarnya Abu Nasr Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Tarkhan Ibnu Uzlaq Al Farabi. Beliau lahir pada tahun 874M (260H) di Transoxia yang terletak dalam Wilayah Wasij di Turki. Bapaknya merupakan seorang anggota tentara yang miskin tetapi semua itu tidak menghalanginya untuk menimba ilmu di Baghdad. Kenapa di Baghdad, ini karena pada zaman itu semua ilmu memang berkumpul di Syria atau Irak.

Setelah beberapa waktu lamanya tinggal di Irak, Al Farabi memutuskan hijrah ke Damsyik, sebelum meneruskan perjalanannya ke Halab. Semasa di sana, beliau berkhidmat di istana Saif al-Daulah dengan gaji empat dirham sehari. Hal ini menyebabkan dia hidup dalam keadaan yang serba kekurangan.

Taubat

Dikala kelelahan melanda, pikiran yang tidak bisa berkompromi, hati yang gundah gulana, seruan Allah memanggil seantero bumi. Allah Sang pencipta, tentu lebih mengetahui keadaan dan kebutuhan kita melebihi pengetahuan kita terhadap diri sendiri.

Seusai sholat dzuhur tadi, untaian nasehat menjadi oase pelepas kegalauan dan gelisah para jamaah. Topik yang dibahas seputar tobat. Sang ustadz mengingatkan bahwa makanan pokok hati salah satunya adalah bertaubat.

Kita mungkin sering mendengar “Pokoknya saya taubat deh mulai sekarang” begitulah kata-kata yang terlontar dari bibir kita. Sebenarnya apa si makna orang-orang yang bertaubat? Apakah Taubat hanya dilakukan oleh orang-orang yang melakukan dosa besar?

Bahasa sederhananya orang yang bertaubat adalah orang yang kembali. Kembali kemana? Artinya seseorang berkata “Aku kembali kepada Allah dengan segala kekuatan dan segenap kemampuanku. Aku bertaubat kepadaMu ya Allah. Aku kembali kepada-Mu wahai Tuhanku, setelah lama aku berpaling. Kini aku kembali, setelah lama aku bergelimang dalam kegelapan dosa serta maksiat.”

Tadi ada pertanyaan menarik di sela-sela cermah zuhur, ada yang bertanya “Menurut saya taubat itu hanya untuk orang yang melakukan dosa-dosa besar, bukan dosa-dosa kecil.” Mungkin sebagian kita pada awalnya ada yang mengatakan “Memangnya apa yang telah kita lakukan? Toh.. kita hidup secara wajar dan dalam keadaan tenang.”

Selasa, 04 Oktober 2016

Syarat Meraih Cita-Cita Yang Tinggi (1)

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang

Untukmu yang sedang berjuang meraih cita-cita.

Apakah Anda pernah memperhatikan bagaimana sikap orang yang memiliki cita-cita dan orang yang tidak memiliki cita-cita dalam hidup? Apakah mereka memiliki hal yang sama? Sejak kecil hingga saat ini mungkin kita sering bertanya dan ditanya mengenai cita-cita.

Semoga bergantinya hari memberikan semangat baru kepada kita untuk kembali memberikan ikhtiar yang terbaik dalam menggapai cita-cita. Sambil menghirup udara pagi yang segar, mari kita bahas syarat apa saja yang dibutuhkan seseorang dalam meraih cita-cita yang tinggi?

Senin, 03 Oktober 2016

Keajaiban Ridha Orang Tua

Berpisah dari orang tua barangkali dianggap sesuatu yang berat bagi sebagian remaja dan pemuda. Bahkan terkadang bukan hanya anaknya yang keberatan tetapi orang tua pun dengan berat hati melepaskan anaknya untuk hidup mandiri dan menaruh harapan besar bahwa anaknya dapat menjaga diri dengan baik ketika hidup di tempatnya yang baru.

Ada satu kalimat yang sampai saat ini masih tersimpan dalam ingatanku, bahwa jika ingin sukses maka berbaktilah kepada kedua orang tua. Dan itulah hukum Unviersal yang diakui oleh seluruh manusia di Muka Bumi. TIdak ada kesuksesan tanpa ada Ridho orang tua, bahkan Ridhonya dapat menciptakan keajaiban dalam kehidupan kita.

Sebagai mahasiswa yang sedang kost dan jauh dari orang tua, aktivitas perkuliahan tidak jarang membuat kita sibuk untuk sekedar menghubungi orang tua. Atau barangkali ada juga mahasiswa yang keasyikan tinggal dan hidup di kota sehingga tidak memiliki keinginan untuk kembali ke rumahnya untuk menjenguk orang tuanya.

Begitu juga dengan kita yang sudah bekerja dan memiliki keluarga. Terkadang hanya asyik dengan keluarga barunya dan mulai lupa dengan orang tua. Padahal usia mereka semakin menua dan sering merasa kesepian.

Ada sebuah cerita menarik dan merupakan kisah nyata, ada dua orang, kakak adik bersaudara, yang pertama suka melawan perintah orang tua, dan anak kedua, taat dan patuh terhadap orang tuanya.

Kamis, 29 September 2016

Fokus

Hari ini kita hidup di alam yang sangat cepat berubah, dengan sangat cepat dan kreatif secara otomatis menjawab setiap kebutuhan setiap orang yang hidup di dunia ini.

Rahasianya, Anda harus smart  memilih apa yang Anda fokuskan. Karena, jika Anda percaya (fokus) bahwa segala sesuatunya terbatas, sulit, dan Anda harus bersaing keras dengan sesama untuk mendapatkannya, maka kenyataan itulah yang akan Anda ciptakan secara individual maupun kolektif bersama mereka yang memiliki kepercayaan (fokus) yang sama.

Tetapi jika Anda percaya (fokus) bahwa segala sesuatunya disediakan Tuhan dalam jumlah yang selalu cukup untuk siapa pun dalam jumlah tak terbatas dan fun untuk bekerja sama meraihnya. Maka kenyataan itu jugalah yang akan Anda ciptakan dan nikmati bersama setiap orang lainnya.

Sahabat, yakinlah kemana fokus kita menuju, disana ENERGI kita mengalir, dimana energi mengalir disana ia akan tumbuh. Mari kita selalu fokus ke SOLUSI, bukan emosi.

Pilihan hidup ada di tangan Anda. Make Smart Choices!

Gambar: Succes

Jakarta, 27 Dzulhijjah 1437 H
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...