Lima Pengaruh Keimanan kepada Hari Akhir Pada Jiwa Manusia


Apa yang menyebabkan merosotnya moral di tengah masyarakat dunia? Apakah karena kurangnya pendidikan? Apa yang menyebabkan ekonomi dan kekayaaan hanya dikuasai oleh segelintir orang di tengah masyarakat yang tidak memiliki tempat berteduh dan makan? Kenapa banyak orang yang terlihat berpendidikan tetapi tetap melakukan perbuatan yang menyimpang? Apa yang menyebabkan banyak penyimpangan pada generasi muda maupun tua? Materi apa yang seharusnya ditanamkan agar kita memiliki ketahanan karakter?

Jika kita membaca di berbagai media, menonton berita televisi, mendengar berita di radio, sudah tidak terhitung kasus yang berbau kriminal, pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, pencabulan, korupsi, narkoba, dan banyak lagi.

Jika sebuah institusi negara ini ingin memiliki nafas panjang dalam mensejahterakan rakyatnya, institusi keluarga merindukan kedamaian di dalam rumahnya, masyarakat menginginkan keamanan dan ketertiban, tidak ada cara terbaik kecuali memahamkan masyarakat terhadap agamanya. 

Dari sekian banyak tuntunan agama ada satu poin rukun iman yang harus diyakini oleh setiap muslim yaitu Iman kepada hari akhir. Sayangnya pendidikan kita cenderung menjadikannya sebagai hafalan tanpa memikirkan cara terbaik agar ia melekat dan menetap di dalam jiwa manusia.

Iman kepada hari akhir memiliki beberapa pengaruh yang besar di dalam pembersihan jiwa dan keistqamahan keadaannya, diantara pengaruh-pengaruh tersebut adalah :

1.      Menghalangi manusia dari berbagai kemaksiatan, menguatkan ketahanan agama di dalam hatinya dan mengarahkan hawa nafsu sesuai syariat.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (16) إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17) مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (18)

Artinya : “Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,  (yaitu) ketika dua orang Malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaff [50] : 16 – 18)

2.      Bersegera kepada ketaatan dan amal shaleh

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Artinya : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,.” (QS. Ali Imran [3] : 33)

Demikianlah penajaman yang dilakukan seorang mukmin terhadap perhatiannya dan penyegeraan kepada setiap amal yang mendekatkan dirinya kepada Allah dengan penuh kepercayaan akan janji-Nya dan upaya kerasnya di dalam penyucian niat dan keikhlasannya kepada Allah Azza wa Jalla dengan mengharapkan keridhaan-Nya karena Dia Subhanahu wa Ta’ala tidaklah menerima suatu amal kecuali yang ikhlas.

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Artinya : “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (Q.S. Al Kahfi [18] : 110)

3.      Berkorban dengan jiwa dan harta di jalan Allah

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآَنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (111)

Artinya : “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah [9] : 111)

Sungguh pengaruh aqidah ini begitu kuat di dalam jiwa para sahabat setelah sebelumnya terhalang dari keimanan sebelum keislaman mereka. Oleh karena itu, mereka terdorong untuk berkontribusi dan berkorban serta saling berlomba menyambut kematian dan syahadah di jalan Allah. Dan setiap mukmin yang benar akan berjalan diatas manhaj mereka hingga hari ini dan akan tetap seperti itu hingga Allah mewariskan bumi dan orang-orang yang ada diatasnya.

Khansa, misalnya, yang pada masa jahiliyahnya begitu gundah dan sedihnya tatkala saudara lelakinya, Shakhr meninggal. Namun setelah keisalamannya, ia berubah menjadi seorang wanita luar biasa yang mendorong keempat putranya untuk ikut didalam peperangan al Qadhisiyah dan membangkitkan semangat mereka untuk berperang di jalan Allah. Dan tatakala sampai berita syahadah mereka (anak-anaknya) maka ia berkata dengan penuh keimanan dan penyerahan diri,”Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan terbunuhnya mereka dan aku berharap kepada Tuhanku agar Dia mengumpulkanku dengan mereka di tempat yang penuh dengan rahmat-Nya.” (Dalam Kitab Al ‘Ishabah fii Tamyiz ash Shahabah juz 4 hal. 281)

Perjuangan para pahlawan negara ini pun memiliki spirit yang sama. Tanpa pamrih mengusir penjajah dengan bambu, mengeluarkan harta benda, berkorban dengan jiwa dan raga mereka demi kebebasan dan kemerdekaan. Sebagian besar dipelopori umat islam. Makanya jika kita membaca sejarah dengan benar maka kita akan mengetahui siapa yang berperan besar terhadap kemerdekaan Indonesia? Tetapi sayangnya hingga saat ini sejarah  masih cenderung simpang siur, ada beberapa fakta yang tertutup, sehingga generasi muda kehilangan spirit perjuangannya.

Tantangan kita hari ini juga cukup kencang dengan arus matrealisme. Sedikit-sedikit nanyakan uang, ada uangnya tidak? Ada transportnya tidak? Bergerak sedikit harus ada uang? Kesadaran untuk berkorban ini yang mulai pudar pada generasi kita hari ini.

4.      Bersabar terhadap Berbagai Musibah
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ


Artinya : “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar [39] : 10)

« مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ »


Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa Sallam beliau bersabda: "Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya." (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Bagaimana perasaan Anda saat ini setelah mendengar kabar gembira dari rosululloh sholaullohhu ‘alihiwassalam di atas?

5.      Berhati-hati untuk Tidak Menyakiti Orang Lain


Dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa Sallam pernah bertanya kepada para sahabat: "Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu?" Para sahabat menjawab; 'Menurut kami, orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: 'Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Kasih sayang didalam hati seorang mukmin tidak terbatas hanya kepada manusia akan tetapi mencakup hewan-hewan dan inilah yang dijelaskan oleh sabda Rasulullah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Seorang wanita disiksa Allah pada hari kiamat lantaran dia mengurung seekor kucing sehingga kucing itu mati. Karena itu Allah Subhanahu Wa Ta'ala memasukkannya ke neraka. Kucing itu dikurungnya tanpa diberi makan dan minum dan tidak pula dilepaskannya supaya ia dapat menangkap serangga-serangga bumi." (Diriwayatkan oleh Muslim)

Jika menyakiti hewan saja bisa menyebabkan sesorang masuk neraka, bagaimana jika menyakiti manusia? Sudah berapa banyak konflik keluarga, masyarakat, negara yang diakibatkan karena saling menyakiti? Adakah agama yang lebih sempurna syariatnya daripada islam?

Bengkulu, 7 Jumadil Akhir 1437 H

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...