Lima Pelajaran Berharga Dari Nabi Yusuf



Pernahkah Anda mendengar cerita Nabi Yusuf? Apa yang terbayang dalam pikiran Anda ketika mendengar nama Nabi Yusuf? Tampan, apa lagi? Allah menyebutnya di dalam Al-Qur’an sebagai kisah yang paling baik. 

Suroh ini turun ketika Nabi mengalami Kesedihan yang cukup mendalam. Turunnya suroh ini membawa kembali semangat perjuangan Nabi Muhammad Sholaullohhu ‘Alaihi Wassalam tentang kesabaran, akhir kisah yang mengembirakan setelah melewati berbagi lika-liku kehidupan.

Pelajaran ini penting bagi Anda seorang anak, seorang ayah, siapa pun yang ingin mengambil pelajaran hidup yang berharga dalam hidup.

Pertama: Pentingnya sebuah komunikasi yang terjalin antara seorang anak dengan ayahnya. 

Seorang ayah yang menyediakan waktunya untuk mendengar keluhan, kebimbangan, kebahagian dan cerita anak-anaknya. Sebuah keluarga yang baik tentunya menyediakan waktu bersama untuk berdikusi dan menyelesaikan permasalahan yang mungkin dihadapai sehari-hari. Komunikasi inipun dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s. dengan anaknya Nabi Ismail a.s..

Kedua: Memanggil ayah ataupun memanggil anak dengan panggilan terbaik. 

Panggilan: Yâ Abati (wahai ayahanda) ini adalah panggilan terindah yang digunakan dalam bahasa arab, begitu juga dengan panggilan yâ bunayya (wahai anandaku). Jangan sampai orang tua memanggil anaknya dengan panggilan yang jorok dan tidak pantas didengar seperti halnya yang banyak kita dengar ditengah masyarakat kita.

Ketiga: Menceritakan hal pribadi dan hal yang bisa membuat kecemburuan kepada yang lain hendaklah tidak diceritakan kepada semua orang.

Maka dianjurkan hanya menceritakan kepada orang terdekat yang dapat dipercaya, sebagaimana Nabi Ya’qub a.s. yang melarang anaknya Yusuf menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya, untuk menghindari tipu daya setan yang akan menggoda saudara-saudaranya dan akan menimbulkan rasa dengki dan iri, yang sebelumnya kecemburuan akan kasih sayang itu telah nampak di mata Nabi Ya’qub terhadap saudara-saudara Yusuf, seperti dalam ungkapan saudara-saudara yusuf dalam ayat ke-8 .

Keempat: Ada dua pendapat ulama tentang berbuat adil kepada anak-anak berdasarkan hadits dari Rasulullah: “Berbuat adillah kepada anak-anakmu” (Hadis Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Pendapat pertama: Imam Ahmad mengatakan wajib hukumnya berbuat adil kepada anak-anak dalam pemberian dan pembagian sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Pendapat kedua: Imam Syafi’i dan Jumhur ulama berpendapat bahwa berbuat adil kepada anak-anak itu adalah sebuah anjuran dan sunnah.

Adapun melebihkan salah seorang anak dari yang lain terhadap kasih sayang karena anak tersebut memilki sifat-sifat mulia dan karena kesholehannya, ini bukanlah merupakan suatu pelebihan yang terlarang dan tercela. Sebagaimana halnya Nabi Ya’qub a.s. yang melebihkan kasih sayangnya kepada Yusuf karena kesholihan nabi Yusuf daripada saudara-saudaranya yang lain.

Walaupun demikian sebagai orang tua yang bijak tetap harus hati-hati memberikan perhatian yang berlebih kepada anaknya yang lain. Kenapa? Untuk menghindari tipu daya setan.

Kelima: Mewaspadai tipu daya setan.

Jangan memberi celah kepada setan untuk menghasud karena menceritakan suatu kelebihan yang dimiliki kepada semua orang, yang mungkin orang tersebut tidak senang melihat kelebihan yang dimiliki oleh orang lain. Sehingga di sana membuka celah setan untuk masuk dan merusak hubungan antara seorang dengan orang lainnya. Karena setan adalah musuh yang nyata, dan harus dijadikan musuh, untuk dilawan dan dijauhi.

Demikianlah pelajaran berharga sepenggal kisah Nabi Yusuf yang dapat kita tauladani, semoga Keselamatan, rahmat, dan Barokah Allah selalu menyertai kita semua.

Jakarta, 28 Jumadil Akhir 1437 H/ 6 April 2016 M

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...