Selasa, 31 Mei 2016

Kemenangan Terbesar Manusia



Setiap waktu, setiap saat selalu ada manusia yang berpacu untuk menjadi pemenang. Mental pemenang sebenarnya sudah menyatu dalam darah dan daging kita sebagai manusia. Kehadiran kita adalah bukti nyata bahwa dahulu kita berhasil mengalahkan ratusan juta bahkan miliaran sel sperma.

Setelah kita lahir, seiring berjalannya waktu. Kita semakin menjauh dari diri kita sebenarnya. Banyak orang yang merasa asing dengan dirinya. tidak tahu tujuan penciptaan dirinya. kemana ia akan pergi setelah kematiannya?

Kenapa? Karena waktu berkompetisi kita sering lupa untuk mengevaluasi, kurang waktu untuk merenung. Apa yang sebenarnya kita kejar? Apa kemenenangan terbesar bagi manusia sebenarnya?

Kemenangan terbesar manusia adalah mengetahui tujuan hidupnya dengan pasti, kemana ia akan pergi setelah mati. Setelah tahu, ia menjadikan tindakannya sebagai persiapan-persiapan yang tidak ada hentinya. Siang malam dalam keadaan siap menyambut kematian.

Senin, 30 Mei 2016

Bagaimana Cara Memperoleh Energi dan Vitalitas Optimal



Stamina yang kuat bisa diperoleh apabila Anda mampu mengelola energi yang ada di dalam tubuh dengan baik. Sebenarnya ada beberapa aktivitas/tips yang dapat meningkatkan meningkatkan energi, yaitu olah nafas, olah makan, olahraga, dan olah jiwa.

Dr. Otto Warburg pemenang nobel, berdasarkan hasil peneltiannya sel menjadi ganas setelah dikurangi oksigennya. Tindak lanjut dari penelitian ini dilakukan oleh Dr. Goldblatt dengan melakukan percobaan pada sel tikus. Hasilnya, ketika sel 30 menit tidak diberi oksigen: pertumbuhan sel menjadi ganas.

Fakta lain membuktikan dari tiga warga amerika, satu penderita kanker. Bukan hanya itu, dari tujuh atlet satu yang menderita kanker. Mengapa?

Minggu, 29 Mei 2016

Hadiah Mengejutkan untuk Anak Yatim dari Presiden Turki Erdogan



Sebuah kisah yang sangat mengharukan yang dilakukan oleh seorang Presiden Turki Erdogan terhadap seorang anak laki-laki yatim piatu di Turki. Pesan ini saya dapatkan dari seorang teman melalui Whats’App dan langsung saya cek kebenarannya di Internet ternyata valid terjadi pada tahun lalu. Seperti yang dilansir oleh Arrahmah.com.

Seorang anak laki-laki yatim piatu di Turki melelehkan hati Erdogan. Ia, yang tidak memiliki orang tua, meminta gurunya untuk membuatkan surat kepada Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan agar hadir pada pertemuan guru dan orang tua, sebagai ayahnya.

Sang guru benar-benar menyampaikan surat sesuai permohonan anak itu. Namun ia mengatakan kepada anak tersebut agar tidak tersinggung jika Presiden Erdogan tidak dapat datang, karena ia sangatlah sibuk dan menghadapi banyak perkara.

Sungguh hadiah yang mengejutkan. Ternyata Presiden Erdogan tiba di sekolah dan berkata bahwa ia akan ikut dalam pertemuan para ayah itu dan menjadi wali dari anak tersebut.

Sabtu, 28 Mei 2016

Bagaimana Mewujudkan Keluarga yang Harmonis?

Keluarga harmonis adalah sebuah dambaan semua orang . Memiliki keluarga yang harmonis atau Sakinah, Mawaddah dan Rahmah merupakan harapan yang ingin diwujudkan oleh setiap keluarga. Pertanyaannya, bagaimana cara mengharmoniskan keluarga? Adakah rumusan sederhana untuk menuju keharmonisan keluarga?

Berikut kesimpulan diskusi dengan seorang sahabat. Tips praktis dalam membantu Anda untuk mewujudkan keluarga yang harmonis. Catat ya, Rumusnya 3P  agar keluarga harmonis. Apa saja dan bagaimana mewujudkan keluarga yang Harmonis? 

Pertama, Plan together.
 
Masing-masing anggota keluarga perlu merancang dan merencanakan hidupnya yang kemudian dipresentasikan atau didiskusikan dalam keluarga. Tugas anggota keluarga yang lain memberi masukan dan dukungan. Selain itu, suatu keluarga juga harus memiliki rencana keluarga bersama yang memberi kesempatan kepada masing-masing anggota keluarga untuk bertumbuh.

Tetapi sayangnya, di lapangan kita banyak menemukan orang tua yang kurang melibatkan anak-anaknya untuk merencanakan kehidupannya. Sehingga sebagian mereka terpaksa menjalani kehidupan yang bertentangan dengan suara nurani mereka. 

Cobalah mulai sekarang belajar merencanakan bersama agenda yang sederhana terlebih dahulu. Hitung-hitung melatih anak Anda untuk mampu mendesain kehidupannya dikemudian hari. Bukankah Anda tidak ingin mereka selalu tergantung kepada Anda?

Jumat, 27 Mei 2016

Lima Langkah Kunci Kembali Kepada Allah



Saya banyak mendapatkan pertanyaan dari orang yang berkeinginan kuat kembali ke jalan Allah. Mereka bertanya apa yang harus saya lakukan agar dapat terus berada di jalan Allah hingga akhir hayat. Sebenarnya banyak manusia menanyakan hal ini. mereka menginginkan langkah-langkah amaliyah (praktek) untuk menghadap Allah serta kembali kepada-Nya.

Perkenanlanlah saya saat ini menjawab pertanyaan ini dengan mengajukan langkah-langkah amaliyah yang konkret. Langkah nyata yang benar-benar mengenai jiwa agar tetap taat kepada Allah, yaitu lima poin yang bukan bersumber dari saya, melainkan dari Rosul shalaullohhu ‘Alaihi Wassalam. Beliau memberikan perhatian kepadanya karena ia adalah kunci kembali kepada Allah Subhanahu Wata’ala :

Kamis, 26 Mei 2016

Jalan Hidup Yang Berbeda



Sudah hampir dua bulan saya tinggal di Jakarta. Di ibukota negara yang menjadi tumpuan hidup orang banyak untuk mengadu nasib di perantauan. Semua etnis berkumpul menyatu padu. Berharap masa depan akan cerah dengan bergantinya hari atas sebuah asa, usaha dan doa.

Banyak orang takut untuk memilih jalan yang berbeda. Jalan yang sunyi, jalan yang jarang dilewati oleh orang lain. Jalan yang begitu menggelisahkan karena tidak benar-benar tahu apa yang ada di depan sana dan apa yang akan ditemui di perjalanan.

Jalan yang sebenarnya menjadi impian tapi realita kehidupan mengalahkan seluruh impian itu. Impian itu dikalahkan oleh pikirannya sendiri karena khawatiran pada kepastian masa depan. Padahal tentang masa depan, siapa yang tahu?

Rabu, 25 Mei 2016

Memperkuat Institusi Keluarga



Berbagai kasus dan fenomena yang kita dengar di berbagai media belakangan ini menyadarkan kita betapa pentingnya memperkuat institusi keluarga. Absennya Ayah dan Ibu dalam keluarga dalam membina anak yang dimanahkan Allah kepadanya memantik tindakan kejahatan yang membahayakan orang lain.

Setiap anggota keluarga memiliki kewajiban untuk saling menasehati untuk istiqomah berada di atas kebenaran. Terlebih para orang tua yang yang diamanahkan seorang anak. Tetapi faktanya, tidak sedikit keluarga yang diacuhkan, karena sibuk mendakwahkan orang lain. Padahal Rosululloh shalallahu alaihi wa sallam memulai dakwah dari kerabat-kerabat terdekatnya.

Tatkala menafsirkan firman Allah :
وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
Artinya : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy Syuara : 214)

Selasa, 24 Mei 2016

Pembaharuan Bukan Berarti Sekularisasi



Salah satu tokoh Muhammadiyah, Hamka menolak pembaharuan atau modernisasi sebagai upaya sekularisasi, yaitu upaya “mempreteli” Islam itu sendiri, atau meninggalkan pokok-pokok ajaran agama. Pada zaman penjajahan, pendidikan memiliki jiwa netral terhadap agama. 

Hasil didikan penjajahan itu, anak-anak orang Islam yang masuk ke sana, betapapun taat orang tuanya, dan betapapun kuat suasana iklim agama dalam lingkup kampung halamannya, kalau sudah meminum air pendidikan barat, terasalah nikmatnya dan mereka tidak mau melepaskan lagi, sampai mereka keluar dari pendidikan itu. 

Pertama mereka netral kepada agama, kemudian menjadi tidak peduli kepada agama. Ghirah (Kecemburuan) beragama tidak ada lagi, mereka lantas menganggap agama tidak perlu, benci kepada segala yang berhubungan dengan agama. Orang yang teguh menjalankan agamanya dianggap fanatik. 

Orang yang teguh beragama adalah orang yang tidak terpelajar. Para kiyai dengan pondok-pondoknya menjadi bahan cemoohan. Santri dengan kesederhanannya. Bahkan pakaian haji, sorban haji, kain sarung, langgar, pondok, masjid, semuanyaadalah sasaran empuk untuk dimaki. 

Atas nama pembaharuan pula, lantas timbul gagasan agar agama jangan dicampur-campur dengan politik. Orang Islam mesti turut mengadakan modernisasi, yaitu modernisasi yang memisahkan agama dengan negara. Modernisasi oleh karenanya adalah sekularisasi. Agama hanya diisolasi di masjid. Islam masih dibiarkan hidup tapi hanya membaca-baca tahlil, membaca doa-doa pada hari besar resmi. Para ulama dan kiyai hanya didukung untuk membuat fatwa-fatwa yang menyokong kepentingan politik penguasa. (Hamka, 2002: 24-25)

Bagaimana Tantangan Menjadikan Seseorang Semakin Kuat?



Menurut Anda Ada tidak orang yang hidup tidak memiliki masalah? Jika ada yang mengatakan hidupnya tidak punya masalah. Berarti ia sedang bermasalah. Kenapa karena ia tidak menyadari hidup penuh dengan masalah.

Setiap orang punya masalah, tetapi setiap orang memiliki pandangan yang berbeda dalam menghadapinya. Bila Anda menganggap masalah sebagai beban, Anda mungkin akan menghindarinya. Bila Anda menganggap masalah sebagai tantangan, Anda mungkin akan menghadapinya. Ibarat ujian naik kelas, jika Anda memiliki tantangan baru dalam hidup artinya hidup Anda sedang naik. Tetapi jika sampai sekarang Anda belum mendapatkan tantangan juga, berarti hidup Anda sedang stagnan. 

Senin, 23 Mei 2016

Berprasangka Baik



Bagaimana kabarmu hari  ini sahabat? Semoga selalu dahsyat, gembira, bahagia, penuh syukur, dan dalam keadaan beriman yang bertambah kepada-Nya. Aaamin.  

Langit tidak selalu cerah, tapi tidak juga selalu mendung. Ibarat musim, akan selalu berganti. Begitu juga dengan kehidupan kita, ada kalanya  kehidupan kita sekarang di musim, panas, musim hujan, musim semi, atau musim kemarau? Berprasangka baiklah kepada-Nya.

Apa pun yang terjadi  pada Anda saat ini, yakinlah, berpikirlah yang positif. Badai pasti berlalu. Semoga berjalan lancar, Allah berikan petunjuk dan kemudahan. Dan keberkahan tentunya.

"...Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S. Ar-Ra'd: 28)

Masalah kita memang besar, hutang besar, apa pun yang Anda anggap besar, yakinlah Allah Maha Besar. Berusalah untuk fokus kepada Sumber Solusi. Dia akan menuntun jalan keluarnya.

Jumat, 20 Mei 2016

Dimanakah kita Sekarang?



Hisablah dirimu sekarang, sebelum dirimu dihisab di akhirat. Mengevaluasi, muhasabah, apapun namanya sangat penting jika kita menginginkan kebahagiaan. Di atas jalan keselamatankah kita saat ini, atau kita sedang menuju lembah kebinasaan?

Saat bangun mulai kesiangan. Sholat berjama’ah berulang ketinggalan. Tahajud mulai terlewatkan. Sholat sunnah terasa memberatkan. Mengaji pun tidak punya kesempatan. Mungkin ini pertanda peringatan.

Tatkala sholat tidak lagi nikmat, tilawah mudah lelah, puasa rasanya menyiksa. Mungkin ini suatu pertanda.

Waktu sahabat yang shaleh mulai dijauhkan, namun teman kesia-siaan malah berdatangan. Pembicaraan akhirat terasa membosankan, ngobrol kesenangan dunia semakin mengasyikkan. Jangan-jangan ini teguran.

Mengapa terhalang melakukan kebaikan? Kenapa terjauhkan dari kesalehan?

Kamis, 19 Mei 2016

Dengan Apa Kita Membuat Orang Menjadi Tertarik?


Ruang SB506 

Pertanyaan yang selalu bersemayam di dalam hati manusia mungkin. Dengan apa kita membuat orang menjadi tertarik?  Tetapi jawaban dan tindakan yang dilakukan kebanyakan hanya pada tataran fisik. Sehingga dampaknya tidak bertahan lama.

Lalu dengan apa? Anda tidak perlu repot-repot fokus dengan dunia luar, perbaiki saja semuanya dari dalam diri Anda. Semuanya begitu dekat dengan Anda. Mulai sekarang yakinlah Dengan budi yang tinggi, kesopanan, ilmu pengetahuan yang luas, kesanggupan menahan hati pada perkara yang belum disepakati, dengan kecerdasan, kecepatan menarik kesimpulan, kebagusan susunan kata, dan kepandaian menjaga perasaan orang, bisa jadi menjadikan pribadi Anda jauh lebih menarik.

 Kumpulan sifat dan kelebihan itu menimbulkan daya tarik. Hal itu dapat dipelajari dengan pergaulan yang luas dan ada juga karena diwarisi. Pendidikan ibu, bapak, sekolah, teman sejawat, dan lingkungan masyarakat, semuanya itu adalah guru yang membentuk daya penarik. Kuat atau lemahnya.

Jakarta, 11 Syaban 1437 H

Rabu, 18 Mei 2016

Jangan Terjebak Provokasi




Jika kita melihat konstalasi politik dalam dan luar negeri maka kita akan melihat beranekaragam isu yang diterima masyarakat. Di media sosial, masyarakat kita mudah sekali terpancing oleh isu-isu yang belum tentu jelas. Akibatnya, kita mengabaikan hal-hal yang lebih penting untuk kita kerjakan.

Negara-negara barat, eropa dan amerika yang notabene mantan kolonial, tidak sudi umat islam berada di depan. Ketika umat islam mulai mengeliat untuk bangkit, ada saja isu yang dilontarkan oleh mereka.  Mulai dari “demokratisasi”. Ketika umat islam sudah pandai melaksanakan demokrasi, mereka lontarkan  isu “hak –hak asasi manusia”. Begitu juga ketika hak-hak asasi manusia sudah dikembangkan, mereka melontarkan lagi isu “globalisasi”. Terakhir isu “terorisme” dengan modal besar runtuhnya gedung kembar WTC.

Paus Fransiskus pun ikut mengkritik pemaksaan demokrasi negeri barat. klik disini

Intinya, pada dasarnya kekuatan islam tidak boleh mengkristal, ia harus dipinggirkan dengan berbagai cara. Islam adalah musuh utama barat pasca hancurnya komunisme sovyet. Timur tengah harus selalu keruh, kalau airnya jernih Zionis Israel tidak bisa hidup. Coba cermati kelakuan Zionis Israel, provokasi adalah makanan sehari-hari mereka untuk memperkeruh keadaan. 

Selasa, 17 Mei 2016

Belajar Dari Bambu


Masjid Al-Fattaah, Megamendung, Bogor
Pernahkan Anda memperhatikan, rumpun bambu yang menjulang tinggi saat tertiup angin? Ia meliuk ke sana kemari. Bahkan, di tengah badai sekali pun, bahkan hingga liukannya seperti hendak menumbangkannya, bambu tetap kokoh berdiri. Tak tercerabut dari akarnya. Ia tak seperti banyak pepohonan yang tumbuh besar yang sering kali meski berbatang raksasa, namun saat tertiup angin, ambruk dengan mudahnya.
 
Inilah pelajaran yang sangat penting dari bambu “sekali pun bambu meliuk diterpa angin, dia mempunyai pegagangan, akar yang kuat menghujam di tanah.”

Bagaimana bambu bisa sekuat itu? 

Bambu saat pertama kali ditanam, ditahun pertama, di saat kita sibuk menyiramnya agar subur, ia seolah-olah diam saja. Bahkan, tak jarang, ilalang yang dibiarkan malah tumbuh jauh lebih lebat dan suburnya.

Tahun berlalu. Cobalah terus memupuk dan menyiramnya. Bambu tetap seperti tak tumbuh. Seolah tak ada sesuatu pun yang terjadi pada bambu tersebut. Malah, tumbuhan lain yang ada di sekelilinggnya, telah tumbuh dengan pesatnya.

Menginjak tahun ketiga, dengan kesabaran yang terus kita berikan, yakni dengan terus merawat dan menyiraminya, bambu tetap bergeming. Seolah ia tak mau tumbuh sehingga mulai memunculkan rasa frustasi bagi yang menanamnya.

Tahun keempat, pepohonan yang ada di sekeliling bambu telah makin tumbuh lebat dan bahkan ada yang sudah menjulang tinggi. Sementara, bambu hanya tetap “diam” dan seperti tak hendak tumbuh. Ia mungkin telah tumbuh, namun setengah atau semeter saja. Seolah tak mau tumbuh layaknya pohon lainnya.

Senin, 16 Mei 2016

Pembaharuan Pendidikan Sebuah Kemestian



Para ulama dari waktu ke waktu sepakat bahwa pembaharuan (tajdid) harus dilakukan agar pokok-pokok ajaran  islam dapat diterima dan dilaksanakan oleh mayarakat. Tanpa tajdid, ajaran islam akan membeku kemudian ditinggalkan oleh pengikutnya. 

Hamka menjelaskan bahwa pembaharuan (modernisasi) mutlak diperlukan di segala bidang. Modernisasi untuk membangun jiwa bebas merdeka setelah sekian lama terjajah. Modernisasi dari suasana feodal kepada alam demokrasi. Modernisasi dari sebuah negeri agraris tradisional menjadi negara maju dan industrialis. Modernisasi dari suasana kebodohan kepada ilmu pengetahuan. Moderniasi Ilmu pengetahuan untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju. (Hamka, 2002: 266-267)

Kamis, 12 Mei 2016

Mengapa dan Bagaimana Bahasa Dapat Berfungsi Sebagai Sarana Pengembangan Keperibadian Anak Bangsa Secara Utuh ?



Bahasa adalah ciri khas manusia; tidak ada bahasa tanpa manusia, dan sebagai makhluk sosial manusia tidak dapat hidup layak tanpa bahasa.

di Indonesia saat ini banyak anak-anak yang pintar, tetapi kurang beradab (berkepribadian). Pendidikan seharusnya mampu membentuk manusia yang beradab. Oleh karena itu, belajar bahasa bukan hanya belajar komunikasi, tetapi membangun kepribadian. 

Kenapa manusia diberikan bahasa? Untuk menjadi khalifah di muka bumi. Maka Allah beri manusia tiga kemampuan: Akal, bahasa, dan kemampuan belajar. Sehingga manusia dapat menjalankan tujuan penciptaannya dan bisa mengurus dunia.

Apa yang paling vital dalam pengembangan kepribadian anak bangsa secara utuh? Tentu keluarga dan lingkungan sosial. Selama mengandung hendaknya ayah dan ibunya sering melakukan kebaikan, membaca Al-Qur’an, cerita yang baik, dan puisi. Bukan hanya dia anak siapa, tapi dengan siapa dia hidup.

Dalam proses pertumbuhan anak, bahasa bukan sekedar menjadi sarana pengungkapan perasaan dan sikap, melainkan juga merupakan unsur diri pribadi karena pembentukan diri pribadi terjadi dalam interaksi dengan lingkungan melalui bahasa. 

Senin, 09 Mei 2016

Yang Terbaik


Setiap manusia pasti memiliki cita-cita dan harapan. Apakah Anda juga memiliki cita-cita? Bagaimana perasaan Anda jika cita-cita itu bisa segera terwujud? Pasti senang bukan? Bagaimana perasaan orang tua Anda? Apa respon keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat Anda?

Rabu, 04 Mei 2016

Sudah Tahukah Kita ?



Ada banyak pelajaran kehidupan yang bisa kita ambil dalam diri kita sendiri. Anehnya manusia mengetahui banyak hal di luar dirinya, tetapi sedikit yang belajar dari bagian yang terdekat dengan dirinya. kita terkesima melihat hasil lukisan, tapi tidak  tahu siapa pelukisnya. Kita mengagumi manusia dan tata surya, tetapi belum jatuh cinta kepada Sang Penciptanya.

Kita merasa asyik dan nyaman bersama manusia, tetapi tidak betah berkomunikasi sedikit lebih lama dengan sang Kholik. Ingatkah Anda ketika Nabi meminta izin kepada istrinya untuk berdua-duaan kepada Robb-Nya? tidak ada sumber energi yang lebih besar daripada energi cinta-Nya. Kita kejar dunia mati-matian, tetapi kita lupa kepada Pemilik Kerajaan Bumi dan langit. 

Memiliki kesadaran tingkat tinggi adalah sebuah keharusan. Apalagi di tengah zaman yang penuh fitnah seperti saat ini, pergantian iman lalu kufur, mukmin lalu kafir, tidak membutuhkan waktu yang lama. Nabi Solaullohhu ‘Alaihi Wasssalam menggambarkan orang bisa berubah dari pagi mukmin, lalu sore kafir. Begitu juga sebaliknya.

“Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. “(Q.S. Qiyamah: 13)

Pernahkah kita bertanya mengapa kita lahir dengan dua mata di depan wajah? Karena dalam hidup kita harus terus move on, berorientasi pada masa depan, oleh karena itu kita tidak boleh selalu melihat ke belakang. Tapi pandanglah semua itu ke depan, pandanglah masa depan kita.

Kita dilahirkan dengan
dua buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita bisa mendengarkan semuanya dari dua buah sisi. Untuk bisa mengumpulkan pujian dan kritik dan menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah. Anda memiliki kuasa mana yang Anda persilahkan masuk ke dalam pikiran dan hati dan mana yang hanya numpang mampir lalu Anda persilahkan pergi.

Selasa, 03 Mei 2016

Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam



Melanjutkan pembicaraan kita kemarin Baca (Revolusi Pendidikan). Ada sebuah kaidah, (Manusia, akal) adalah ciptaan-Nya dan Allah adalah Sang Pencipta Maka jangan pertentangkan antara ciptaan dan Sang Penciptanya. Alangkah beraninya kita menentang kebesaran Allah dengan akal, lisan dan perbuatan kita.

Mengapa semua ini terjadi? Bagaimana cara mengantisipasinya? Ada 5 Prinsip Pendidikan dalam islam yang sebaiknya kita jadikan pedoman.

Pertama, Prinsip Al-Wihdah (Integrasi) 

Tidak ada pemisahan antara dunia dan akhirat, antara agama dan negara, antara ilmu agama dan ilmu umum. Dalam islam dunia ini adalah jembatan menuju kampung akhirat. Karena itu, mempersiapkan diri secara utuh merupakan hal yang tidak dapat dielakkan agar masa kehidupan di dunia ini benar-benar bermanfaat untuk bekal yang akan dibawa ke akhirat.

Semua mata pelajaran (mata kuliah) idealnya menjadikan ketauhidan seseorang bertambah, bertambah imannya, bertambah yakin akan kebesaran Allah di alam semesta. Oleh karena itu, guru (dosen/pendidik) adalah ujung tombak dalam membenamkan nilai ketauhidan dan melakukan integrasi nilai-nilai di jiwa pembelajar. 

Senin, 02 Mei 2016

Revolusi Pendidikan



Setiap tahun tepatnya tanggal 2 Mei Bangsa Indonesia memperingati tanggal 2 Mei sebagai hari pendidikan nasional. Tanggal ini dikaitkan dengan lahirnya Ki Hajar Dewantara (2 Mei 1889) dan wafat 28 April 1959 oleh karena itu Beliau dijuluki Bapak Pendidikan Nasional.

Salah satu prinsip pendidikannya yang masyhur yaitu tut wuri handayani dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan, ing madya mangun karsa di tengah atau diantara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide, dan ing ngarsa sung tulada di depan seorang pendidik harus mampu memberi teladan atau contoh. Sebuah kalimat yang memiliki semangat moralitas untuk memajukan pendidikan. Demikianlah sebuah pesan dari Raden Mas Soewardi Soeryaningrat (Nama Asli Ki Hajar Dewantara).

Salah  satu tujuan bangsa Indonesia yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Menjadi bangsa yang ingin maju dan unggul dalam persaingan global. Karena pendidikan merupakan kunci utama, maju mundurnya sebuah bangsa. Pendidikan adalah tugas negara yang paling penting dan sangat strategis. Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan prasyarat dasar bagi terbentuknya peradaban yang baik. Sebaliknya sumberdaya manusia yang buruk, akan melahirkan masyarakat, bangsa yang buruk pula.

Hasil Penelitian yang dilakukan oleh Zabel dan Nigro dalam Jamaris (2010: 269) menunjukkan bahwa anak yang mengalami kesulitan belajar adalah anak yang beresiko tinggi untuk melakukan kenakalan remaja. Laporan statistik selanjutnya menunjukkan bahwa 37,1 % tindakan kenakalan remaja dilakukan oleh anak berkesulitan belajar.

Jack Canfield, Pakar masalah kepercayaan diri, melaporkan hasil penelitian di mana seratus anak ditunjuk untuk seorang periset selama satu hari. Tugas periset adalah mencacat berapa banyak komentar positif dan negatif yang diterima seorang anak dalam sehari. Penemuan Canfield adalah bahwa setiap anak rata-rata menerima 460 komentar negatif atau kritik dan hanya 75 komentar positif atau yang bersifat mendukung. Jadi, komentar negatif enam kali lebih banyak dibandingkan komentar positif. (Deporter &Hernacki, 1999: 24)

Bagaimana dengan pendidikan kita di Indonesia? Di sekolah? Di keluarga? Di Masyarakat? Sudahkah kita lebih banyak memberikan tauladan yang baik?

Fakta-fakta yang menunjukkan kenakalan remaja dan masalah kepercayaan diri ternyata dibentuk dari lingkungan pendidikan yang kurang manusiawi bagi pembelajar. Padahal pendidikan yang dialami anak di masa usia dini menjadi fondasi bagi anak untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. Oleh sebab itu, pendidikan perlu diwarnai dengan nilai-nilai kemanusiaan, keagamaan, antusiasme, empati, kesediaan untuk menerima, kesediaan untuk menolong dan menjadikan dunia menjadi tempat yang aman dan lebih baik. (Jamaris, 2010: 4)

Dalam bidang pendidikan saat ini, ada tiga masalah utama bangsa ini yang harus segera diperbaiki.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...