Sudah Tahukah Kita ?



Ada banyak pelajaran kehidupan yang bisa kita ambil dalam diri kita sendiri. Anehnya manusia mengetahui banyak hal di luar dirinya, tetapi sedikit yang belajar dari bagian yang terdekat dengan dirinya. kita terkesima melihat hasil lukisan, tapi tidak  tahu siapa pelukisnya. Kita mengagumi manusia dan tata surya, tetapi belum jatuh cinta kepada Sang Penciptanya.

Kita merasa asyik dan nyaman bersama manusia, tetapi tidak betah berkomunikasi sedikit lebih lama dengan sang Kholik. Ingatkah Anda ketika Nabi meminta izin kepada istrinya untuk berdua-duaan kepada Robb-Nya? tidak ada sumber energi yang lebih besar daripada energi cinta-Nya. Kita kejar dunia mati-matian, tetapi kita lupa kepada Pemilik Kerajaan Bumi dan langit. 

Memiliki kesadaran tingkat tinggi adalah sebuah keharusan. Apalagi di tengah zaman yang penuh fitnah seperti saat ini, pergantian iman lalu kufur, mukmin lalu kafir, tidak membutuhkan waktu yang lama. Nabi Solaullohhu ‘Alaihi Wasssalam menggambarkan orang bisa berubah dari pagi mukmin, lalu sore kafir. Begitu juga sebaliknya.

“Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. “(Q.S. Qiyamah: 13)

Pernahkah kita bertanya mengapa kita lahir dengan dua mata di depan wajah? Karena dalam hidup kita harus terus move on, berorientasi pada masa depan, oleh karena itu kita tidak boleh selalu melihat ke belakang. Tapi pandanglah semua itu ke depan, pandanglah masa depan kita.

Kita dilahirkan dengan
dua buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita bisa mendengarkan semuanya dari dua buah sisi. Untuk bisa mengumpulkan pujian dan kritik dan menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah. Anda memiliki kuasa mana yang Anda persilahkan masuk ke dalam pikiran dan hati dan mana yang hanya numpang mampir lalu Anda persilahkan pergi.

Pada hakikatnya tujuan penciptaan mata dan telinga tergambar jelas di dalam firman Allah Subhanahu Wata’ala :

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (Q.S. Al-Insan: 2)

Kita lahir dengan otak di
dalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin apapun kita, kita tetap kaya. Karena tidak akan ada satu orang pun yang bisa mencuri otak kita, pikiran kita dan ide kita. Orang boleh mengambil karya Anda, menjiplak, mencontek, mengkopi karya orang lain, tetapi mereka tidak bisa mengambil kreativitas di otak Anda. Dan apa yang anda pikiran dalam otak anda jauh lebih berharga dari pada emas dan perhiasan.

Kita lahir dengan
dua mata dan dua telinga, tapi kita hanya diberi satu buah mulut. Karena mulut adalah senjata yang sangat tajam, mulut bisa menyakiti, bisa membunuh, bisa mengoda, dan banyak hal lainnya yang tidak menyenangkan. Sehingga ingatlah bicara sesedikit mungkin tapi lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya.

Kita lahir hanya dengan
satu hati. Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita di cintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. Qosos: 77)

Berilah cinta tanpa meminta balasan dan kita akan menemukan cinta yang jauh lebih indah.
Islam mengajarkan saya banyak hal untuk menyalurkan energi cinta. Setiap pagi saya menggali, merenungi, belajar memahami, mengulang kembali, dan berusaha melaksanakan apa yang saya baca dalam kitab suci. Dan itu memberikan arti bagi seorang insan.

“Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. “ (Q.S. Al-Insan: 9)

Orang yang sudah kenal akhirat, jujur dan tulus cintanya kepada Pencipta-Nya, benar dan telah diterima pertobatannya tidak terpengaruh dan memerlukan lagi tepuk tangan, sanjungan, pujian, karena ketenangan dan kebahagian sudah turun ke dalam hatinya dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Peyayang. Tugasnya adalah terus memperbaharui niat dan mempersembahkan amal terbaik untuk bekal kepulangannya menuju Robb-Nya.

Sudahkah kita tahu ? Bahwa Cinta-Nya kepadamu lebih besar daripada cintamu kepada-Nya. Ya, Segeralah Pulang dan raih cinta-Nya maka engkau layak untuk dicintai.

Semoga Keselamatan, rahmat, dan barokah Allah selalu menyertai kita semua.

Jakarta, 26 Rajab 1437 H

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...