Kamis, 28 Juli 2016

4 Kebiasaan Orang Kaya Dalam Mengelola Keuangan



Apa yang anda pikirkan ketika memiliki uang? Kenapa terkadang orang miskin semakin miskin dan orang kaya semakin kaya? Apa perbedaan kebiasaan orang bermental kaya dan miskin dalam mengelola keuangannya? 

Apalagi jika masih single. Kebanyakan banyak yang belum bijak dalam mengelola keuangannya. Beli ini, beli itu. Tentunya Anda yang sudah berkeluarga harus lebih bijak dalam mengelola keuangan. Ilmu mencari uang itu penting, tetapi yang tidak kalah penting, bagaimana mengelola keuangan.

Dalam sebuah penelitian jika semua kekayaan segelintir orang di dunia dibagikan ke seluruh manusia. Ternyata uang yang beredar akan kembali lagi segelintir orang yang memiliki uang tadi. Kenapa? Orang boleh saja memiliki uang yang banyak di satu waktu, tetapi jika mindset dan ilmunya salah, maka uang itu akan hilang tak menentu.

Mari kita belajar dari Bapak Heppy Trenggono.  Anda pernah mendengar Bapak Heppy Trenggono? Ya benar, ia CEO Balimuda United. Corp Lelaki asal Batang Jawa Tengah ini terus mengembangkan bisninya.

Dulu ia memiliki hutang mencapai 62 miliyar rupiah, tetapi nilai bisnisnya mungkin sekrang sudah mencapai lebih dari lima triliyun rupiah. Mau tahu bagaimana ia mengelola keuangannya?

Menurutnya, Penghasilan yang kita peroleh sebaiknya diisi untuk empat hal :

Pertama, Sedekah
Sedekahkan minimal 10 persen dari penghasilan. Menurut pak Heppy, alokasi pertama adalah giving atau sedekah dalam kondisi apapun. Kita perlu mengimani bahwa sedekah itu adalah mentalitas orang kaya dan akan membuat kita kaya.

Saya pernah membaca satu buku klasik bahwa dari zaman babilonia dahulu, orang-orang kaya terbiasa mengeluarkan uangnya 10 %.  Orang cina pun 10 %.

Bukankah  Rosulullah SAW mengatakan“Bersedekahlah kalian karena sedekah bisa menambah harta dalam jumlah yang banyak. Bersedekahlah kalian maka Allah SWT akan menyanyangi kalian.” Sedekah adalah magnet penarik rezeki.

Dalam islam, kita biasa diajarkan mengeluarkan zakat 2,5 persen. Guru saya pernah berkata, orang yang pelit itu orang yang hanya mengeluarkan zakat (2,5 persen) lalu tidak mau mengeluarkan sedekah. Sedangkan orang yang fasiq adalah orang yang tidak mau mengeluarkan zakat. Saran saya, jangan lupakan yang wajib, tapi lakukan juga yang sunnah (sedekah).

Kedua, Menabung
Apa yang Anda dengar ketika mendengar kata menabung? Sejak kecil kita sering diajarkan menabung pangkal.....? tapi kok sudah menabung tidak kaya-kaya? Berarti ada yang salah dalam konsep menabungnya.

Menurut Bapak Heppy menabung minimal 10 persen dari penghasilan. Perlu diingat, 10 persen tabungan ini adalah tabungan investasi bukan tabungan yang sengaja diendapkan. Ingat ya, di awal bukan diakhir! 

Begitu Anda menerima penghasilan, sisihkan 10 persen untuk ditabung dan begitu ada peluang investasi segera investasi uang tersebut. Jangan pernah investasi dengan menggunakan penghasilan harian yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ketiga, Keluarga
Allah itu Maha Adil, jika kita masih single maka rezekinya cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Jika bertambah satu (pasangan) bertambah lagi rezekinya. Punya anak, bertambah lagi. Makanya ada yang mengatakan banyak anak banyak.........?

Tapi ada yang harus dibenahi dalam pola kita melayani keluarga. pengalokasikan untuk pelayanan keluarga Pastikan semua kebutuhan keluarga terpenuhi, ingat ya kebutuhan bukan keinginan. Tidak akan pernah jatuh hina jika kita hidup sederhana. 

Baca Juga : Kebutuhan vs Keinginan

Pastikan keluarga nyaman dan enjoy menikmati kehidupan. Keluarga adalah pelanggan nomor satu yang perlu mendapat pelayanan prioritas. Setuju? Kalau belum punya keluarga (suami atau istri)? Mulai dari melayani Orang Tua, kakak, adik.

Keempat, Kebutuhan sehari-hari.
Pos keempat ini adalah pos yang perlu dikendalikan dengan seksama. Pos inilah yang sering menjerumuskan orang sehingga orang mengabaikan pos satu, dua dan tiga. Padahal dalam kondisi apapun, pos keempat ini seharusnya tetap di urutan terakhir tentu bagi Anda yang bermental kaya. Sementara orang yang bermental miskin justeru menjadikan pos keempat ini menjadi pos yang pertama.

Ingat, orang-orang kaya adalah orang yang paling pandai menunda kesenangan. Mereka para penunda. Bahkan orang cina, tidak akan makan enak jika dalam berdagang ia belum mendapatkan untung. Sampai sebegitu kerasnya mereka dengan diri sendiri. Sedangkan sebagian besar orang melayu, untung sedikit, pengeluarannya banyak. Kenapa? Lagi-lagi gaya hidup.

PaK Heppy juga berpesan khususnya untuk pebisnis  tidak sembarangan  berutang. Ia berharap, bagi pebisnis, lebih-lebih pebisnis Muslim agar tidak berutang yang mengandung unsur riba. Sebab, riba tak akan membawa kepada kesuksesan.

Pesan yang Heppy sampaikan ini bukanlah asal bunyi. Ia sempat merasakan bisnisnya bangkrut karena terlilit utang hingga Rp 62 miliar. Bisnis Heppy kembali bangkit setelah ia meninggalkan riba. Bahkan, utang yang miliaran rupiah itu berhasil ia lunasi.

“Spirit riba itu adalah keserakahan, bukan memberi pertolongan. Karenanya tidak ada keberkahan,” tegasnya

Ingat ya, Terbalik menetapkan urutan pos alokasi bisa membuat hidup kita juga terbalik: Kaki menjadi kepala dan kepala menjadi kaki. Jangan sampai, pergi pagi pulang petang tapi penghasilan pas-pasan punya hutang lagi, ngontrak di kosan yang pas-pasan. 

Mengapa? Karena banyak orang tersebut tetap bermental miskin, meskipun berpenghasilan besar. Semoga bisa mencerahkan dan bermanfaat untuk segera diterapkan.  

Cukup sekian dulu sahabat, semoga Alloh selalu berikan yang terbaik untuk kita semua. Baik ilmunya, baik rezekinya, baik amalnya. Aaamiin.

Gambar : Success

Jakarta, 23 Syawal 1437 H

1 komentar:

  1. Gaya berbanding lurus dengan tekanan, maka kalau hidup penuh tekanan artinya banyak gaya.

    BalasHapus

Terima Kasih telah singgah! Semoga kita segera berjumpa lagi. Saya memberi hormat atas dedikasi dan komitmen Anda untuk terus tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Saya menantikan suatu waktu untuk dapat berjumpa dengan Anda suatu hari.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...