Selasa, 19 Juli 2016

Bagaimana Mendidik Anak Yang Menggugah Jiwa dan Paling Efektif


Pernahkah Anda bertanya, sudah benarkah cara kita selama ini mendidik Anak? Bagaimana hasil pendidikan anak kita saat ini? apakah cukup pendidikan itu kita titipkan kepada sekolah?

Kemarin baru saja kita saksikan, menteri pendidikan Anis Baswedan menghimbau para orang tua untuk mengantarkan anaknya ke sekolah. Apakah cukup hanya mengantarkan? Apakah anda pernah masakan kelelahan dalam mendidik Anak? Mungkin sering Anda memberikan nasehat, tetapi masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Apa penyebab semua ini? mengapa Anak seringkali susah berubah ketika dinasehati?

Apakah cukup kita menggunakan kata-kata? Atau ada kekuatan luar biasa untuk mendidik anak kita.

Mari kita cermati kisah inspirasif yang saya dapatkan dalam salah satu diskusi grup beberapa hari yang lalu.

Ini Cerita Inspiratif dari Dr. Arun Gandhi, cucu Mahatma Gandhi. Saat itu Dr.Arun Gandhi memberi ceramah di Universitas Puerto Rico, ia menceritakan suatu kisah dalam hidupnya:

Waktu itu saya masih berusia 16 th dan tinggal bersama orang tua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, ditengah kebun tebu, 18 mil di luar Kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di pedalaman dan tidak mempunyai tetangga. Jadi tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop

Pada suatu hari ayah meminta saya untuk mengantar beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Tahu bahwa saya aka ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia perlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan tertunda seperti memperbaiki mobi di bengkel.

Pagi itu setiba di tempat konferensi ayah berkata : “Ayah tunggu kamu disini jam 5 sore, lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama”

Saya segera menyelesaikan berbagai pekerjaan yang diberikan oleh ayah dan ibu.

Kemudian saya pergi kebioskop. Saya sungguh asyik menonton aksi John Wayne sampai lupa waktu. Begitru melihat jam menunjuk 17..30 , saya langsung berlari menuju bengkel mobil dan buru -buru menjemput ayah yang sudah menunggu saya.

Saat itu sudah hampir pukul 18.00


“Kenapa kamu terlambat?” tanya ayah.

Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya terlambat karena menonton bioskop sehingga saya menjawab “ tadi mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu”


Ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel itu sehingga ayah tahu kalau saya berbohong.

Lalu ayah berkata ” Ada sesuatu yang salah dalam membesarkanmu sehingga kamu tidak punya keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarkan ayah pulang berjalan kaki dan memikirkannya baik-baik.”

Lalu dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap dan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah di jalanan seperti itu, maka selama 5,5 jam saya mengenderai mobil pelan-pelan di belakang beliau , melihat penderitaan yang dialami beliau hanya karena kebohongan bodoh yang telah saya lakukan.

Sejak saat itu saya tidak pernah berbohong lagi.Seringkali saya berpikir mengenai kejadian itu dan merasa heran, Seandainya ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak  kita, apakah saya akan mendapat pelajaran mengenai mendidik tanpa kekerasan? Kemungkinan saya akan menderita atas hukuman itu, menyadarinya sedikit dan melakukan hal yang sama lagi. Tetap hanya dgn satu tindakan tanpa kekerasan yang sungguh luar biasa, saya merasa kejadan itu seokah-olah baru terjadi kemarin . Itulah kekuatan bertindak tanpa kekerasan.

Pendikan yang paling efektif dan pasti tertanam kuat adalah pendidikan yang disampaikan hingga tertancap di bawah sadar. Apa yag dilakukan ayahanda Dr. Arun Gandhi adalah menyampaikan pesan yang sangat mendalam di pikiran bawah sadar.

Apa makna kisah di atas bagi Anda? Apa yang bisa Anda pelajari?

Sudahkah kita memberikan keteladanan?

Sudahkah kita dengan jujur mengakui, bahwa kitalah salah-satu jawaban kenapa anak kita bertingkah seperti itu.

Sudahkah kita menyadari tidak ada institusi terbaik dalam memperbaiki moral generasi di masa depan kecuali keluarga memberikan suasana yang nyaman bagi pemimpin masa depan.

Semoga putra-putri Anda suatu hari nanti menjadi generasi yang cemberlang, dicintai Robbnya, dicintai keluarga, masyarakat, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk alam, bangsa, dan agama.




Jakarta,  14 Syawal 1437 H

2 komentar:

  1. Cerita yang sangat inspiratif,
    BARAKALLAHU FIIKUM, JAZAKUMULLAHA KHAIRAN KATSIRA
    Thanks

    BalasHapus
  2. Wafiika barakallah Pak Muzakkir. Semoga Allah karuniakan anak yang sholeh dan sholehah.

    BalasHapus

Terima Kasih telah singgah! Semoga kita segera berjumpa lagi. Saya memberi hormat atas dedikasi dan komitmen Anda untuk terus tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Saya menantikan suatu waktu untuk dapat berjumpa dengan Anda suatu hari.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...