Tanggapan Pembaca Terhadap Karakter Lintang Dalam Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata

I. Pendauluan
1. Latar belakang
Setelah membaca Laskar Pelangi karya Andrea Hirata maka, seseorang akan melihat cerita yang sangat mengarukan tentang dunia pendidikan dengan karakter manusia yang jujur, tulus, gigih, penuh dedikasi, ulet, sabar, tawakal, takwa, yang dituturkan secara indah dan cerdas.

Setelah mengkaji Karakter Lintang di dalam Laskar pelangi, seseorang akan kagum dengan perjuangannya di dalam menempuh pendidikan. Lintang mempunyai karakter yang khas dibandingkan dengan karakter tokoh lainnya. Lintang mempunyai strategi kognitif yang sangat luar biasa. Disisi lain, hal yang luar biasa ini mungkin mendapat respon yang beragam dari berbagai kalangan penikmat sastra yang membacanya.

Ada yang setuju dan percaya dengan strategi kognitif Lintang, mungkin juga ada yang tidak percaya dengan hal yang luar biasa itu terjadi pada seoranag anak nelayan yang miskin. Manifestasi dari sambutan pembaca yang bervariasi inilah yang ingin saya lihat. Hal yang luar biasa yang ada pada  Karakter Lintang novel Laskar pelangi karya andrea Hirata telah menarik perhatian saya untuk mencoba melihat seberapa besar tanggapan pembaca terhadap karakter Lintang. 

2. Masalah
a.      Apakah karakter Lintang yang super cerdas itu di dalam novel Laskar Pelangi dapat diterima oleh pembaca ?

b.      Bagaimana respon pembaca terhadap cara penyampaian karakter Lintang di dalam Laskar Pelangi ?

3. Tujuan
Untuk mendapatkan pendeskripsian tanggapan pembaca terhadap karakter Lintang di dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata


4. Metode
Metode yang digunakan untuk memperoleh tanggapan pembaca terhadap tokoh Lintang di dalam novel Laskar Pelangi adalah menggunakan metode ekspresimental dengan cara wawancara langsung kepada pembaca.

Gambaran Wawancara :
1.      Pewawancara menyiapkan daftar pertanyaan yang akan digunakan untuk wawancara serta lembaran kertas untuk mencatat tanggapan pembaca.

2.       Pewawancara menanyakan apakah orang yang diwawancara  sudah membaca novel Laskar Pelangi? untuk mahasiswa serta dosen yang telah diketahui telah membaca maka pewawancara tinggal meminta tanggapan tentang karakter Lintang.

3.      Sebelum meminta tanggapan, pewawancara memberikan gambaran sekilas tentang karakter Lintang, kemudian baru meminta orang yang diwawancara untuk menanggapi karakter Lintang sesuai dengan interprestasi yang mereka ketahui setelah membaca Laskar Pelangi.

4.       Mencatat tanggapan pembaca melalui hasil tanggapan yang telah mereka sampaikan.

5. Manfaat
1.      Untuk mendapatkan pendeskripsian tanggapan pembaca terhadap karakter Lintang di dalam novel Laskar Pelangi.

2.      Dapat belajar mempraktekkan  metode Pendekatan Prakmatik melalui tanggapan Pembaca terhadap karakter Lintang dalam Novel Laskar Pelangi.

3.      Menumbuhkan apresiasi terhadap sebuah karya prosa fiksi.

II. Identifikasi Tokoh Lintang.
Lintang adalah Anak pesisir pantai dari seorang Nelayan, Lintang sangat ingin punya cita-cita yang tinggi karena diantara 6 bersaudara hanya ia yang berkeinginan untuk bersekolah. Di sini Lintang sebagai peran pendamping tokoh utama. Lintang juga dijadikan sebagai inspiratif bagi tokoh utama dan tokoh lainnya dalam meraih cita-citanya. Lintang ialah seorang anak yang sangat tegar di dalam berjuang menjalani pendidikannya.

Hal itu dapat dilihat seperti, ia menempuh 80 km tiap harinya untuk menuntut ilmu,baik itu hujan, badai, maupun di tengah jalan bertemu buaya. Lintang juga sangat berbakti terhadap orang tuanya. Lintang sosok anak yang sangat bertanggung jawab, namun tidak pada tubuhnya, karena Lintang sangat tidak terawat tubuhnya. Badan Lintang berbau hangus , rambut keriting. Namun soal otak, Lintang punya otak yang sangat Brilian, pintar dan sangat jenius, namun ia tidak pernah sombong atas kepintaran yang ia miliki, Lintang juga sangat empatik dengan semua temannya, selain itu ia juga mempunyai hobi membaca seperti, buku Stensilan yang berjudul Astronomi dan Ilmu Ukur   (Laskar Pelangi,100-101: 2).

Salah satu kebiasan Lintang dalam belajar adalah Ia hanya dapat belajar setelah agak larut malam dikarenakan sering gaduh dan tidak jarang sering berebut untuk mendapatkan lampu minyak.  Karakter Lintang yang menarik lainnya adalah belajar adalah hiburan baginya yang membuatnya lupa pada seluruh penat dan kesulitan hidup. Buku baginya adalah obat dan sumur kehidupan yang airnya selalu memberi kekuatan agar ia mampu mengayuh sepeda menentang angin setiap hari.

Lintang mempunyai hampir semua dimensi kecerdasaan dan sangat unggul dalam bidang geometri multidimensional. Selain itu kecerdasaannya yang lain adalah kecerdasaan linguistik. Ia mudah memahami bahasa, efektif dalam berkomunikasi, memiliki nalar verbal dan logika kualitatif. Ia juga mempunyai deskriptif power, yakni suatu kemampuan menggambarkan sesuatu dengan mengambil contoh yang tepat. Lintang juga cerdas secara experiential. Keingintahuannya yang sangat luar biasa telah menciptakan karakter Lintang yang begitu jenius.

Salah satu bukti eksistensi ilmu yang dimiliki oleh Lintang adalah pembaca bisa lihat ketika Lintang menjawab soal-soal cerdas cermat yang mampu membuat orang yang hadir disana terdiam melihat strategi kognitif yang diterapkan oleh seorang siswa SD miskin Muhammadiyah.

Lintang adalah pribadi yang unik. Banyak orang yang merasa dirinya pintar lalu bersikap seenaknya, congkak, tidak disiplin, dan tak punya integritas. Tapi Lintang sebaliknya. Ia tak pernah tinggi hati, karena ia merasa ilmu demikian luas untuk disombongkan dan menggali ilmu tak akan ada habis-habisnya.

Cara penyampaian tokoh Lintang di dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata ini sangat komunikatif, lugas, dan empatik, karena mampu meningkatkan emosionalitas bagi orang yang membacanya.

Meskipun rumahnya paling jauh tapi kalau datang paling pagi. Sesuatu yang patut ditiru oleh generasi muda sekarang. Lebih dari itu, Lintang laksana bunga meriam yang melontarkan tepung sari. Ia lucu, semarak, dan penuh vitalitas. Ia memperlihatkan bagaimana ilmu bisa menjadi begitu menarik dan ia menebarkan hawa positif bagi orang-orang disekitarnya sehingga mereka termotivasi engine belajar keras dan berusaha menunjukkan yang terbaik. Jika temannya kesulitan, maka ia mengajari teman-temannya dengan sabar dan selalu membesarkan hati mereka.

Kecerdasannya tidak menimbulkan perasaan terancam bagi sekitarnya, kecemberlangannya tidak menerbitkan iri dengki, dan kehebatannya tidak sedikit pun mengisaratkan sifat-sifat angkuh. Sikap Lintang inilah yang sangat berkesan sekaligus dijadikan oleh tokoh Laskar Pelangi lainnya untuk berani bermimpi.

Suatu hari peristiwa yang tidak terduga terjadi, Lintang terpaksa berhenti sekolah, karena Ayahnya meninggal dunia dan Lintang harus menggantikan ayahnya untuk menopang hidup menghidupi 13 jiwa manusia yang ada dirumahnya. (Laskar Pelangi, hal 88, 93, 113, 114).

Hal yang tidak pernah diduga pun terjadi, pertemuan Ikal dengan   Lintang akhirnya membuat Ikal sebagai tokoh utama heran, Ikal tidak pernah membayangkan atas apa yang dilihatnya sekarang. Ikal membayangkan suatu saat anak yang sangat genius itu menjadi menjadi seorang ahli genetika di Indonesia. Akan tetapi, realitas yang harus diterima adalah anak yang jenius itu sekarang hanya menjadi seorang  kuli.

Begitulah sekelumit identifikasi tokoh Lintang yang dapat saya paparkan. Sebenarnya masih banyak lagi karakter yang dimiliki Lintang yang belum dituliskan di atas, akan tetapi saya rasa penggambaran tokoh Lintang di atas secara garis besar  cukup mewakili keinginan pembaca untuk melihat secara sekilas mengenai karakter Lintang yang mempunyai keterbatasan akan tetapi tetap semangat di dalam mengejar cita-cita dengan diliputi halangan yang menghadang.

III. Isi
3. 1   Tanggapan Pembaca = Temuan, interprestasi dan penilaian.
Setelah melakukan wawancara dengan para responden. Maka hampir seluruh responden sepakat dengan karakter yang dimiliki Lintang. Mengenai strategi kognitif yang dimiliki Lintang, responden  setuju dengan karakter Lintang yang memiliki strategi kognitif yang luar biasa. Mungkin hal itu disebabkan  oleh adanya keterbatasan sehingga Lintang mampu menciptakan produktifitas yang luar biasa. Keterbatasan faktor ekonomi keluarga karena Lintang dilahirkan di keluarga miskin, membuat Lintang mampu memiliki terobosan di dalam belajar.

Menurut Dedi Suryadi salah satu mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonesia semester 3 menyatakan bahwa karakter Lintang itu cukup unik, karena Lintang ini hidup dalam keluarga yang begitu miskin dan memprihatinkan. Potensi atau kemampuan berpikirnya begitu brilian.  Menurut saya kata unik itu menandakan dedi sangat kagum dengan karakter Lintang. bisa jadi juga, unik karena sulit ditemukan orang yang mempunyai karakter seperti Lintang

Menurut loly strategi kognitif yang dimiliki Lintang seharusnya dijadikan sebagai motivasi oleh generasi muda di Indonesia sekarang. Ia juga menambahkan bukankah Lintang berada dalam garis langsung silsilah K.A Cakraningrat Deputi Muhammad Rahat, sesorang bangsawan cerdas anggota Sultan Nagkup.

Tapi  saya dapat menambahkan pandangan loly bahwa, memang ada teori yang menyatakan bahwa faktor keturunan yang menyebabkan seseorang mempunyai kemungkinan besar untuk dapat memiliki bakat atau intelegensia seperti keluarganya. Akan tetapi, di sisi lain menurut saya keterbatasan Lintang itulah yang membuatnya mampu menciptakan karakter Lintang  yang begitu kuat, tegar, semangat, inovatif di dalam kehidupannya, dengan kata lain hal ini lebih mengarah kepada teori Behaviorisme. Lingkungan di sini Maksudnya adalah kemampuan Lintang membaca, baik yang tersirat maupun yang tersirat dari kehidupannya. Membaca kesuksesan para tokoh yang dikaguminya, sehingga menularkan semangat yang menghujam di hatinya.

Dari analisa di atas dapat disimpulkan kebiasaan-kebiasaan Lintang yang selalu membaca inilah akhirnya menghantarkan Lintang menjadi anak yang jenius. Hal yang berbeda dinyatakan oleh Hardiansyah dari komunitas mahasiswa pembaca (KMC) menyatakan kemungkinan itu ada, tapi untuk Indonesia itu hanya pak habibi yang saya ketahui mempunyai kejeniusan seperti itu.

Achmat kuswadi mahasiswa universitas Bengkulu jurusan Ilmu Hukum semester XI ini juga menanggapi tentang strategi kognitif yang dimiliki Lintang. baginya Lintang mempunyai kondisi berpikir yang luar biasa untuk seorang anak kampng dan miskin. 

Bagi Achmat pada dasarnya pola pikir seseorang itu alami, dapat dibentuk dengan kebiasaan yang dapat mengembngkan otak secara tidak langsung melalui buku yang pernah ia baca yang berjudul The Learning Revolusioner bahwa anak yang ketinggalan 3 tahun dapat mengejar ketertinggalannya hanya dalam waktu delapan pekan. Akan tetapi, perlu digarisbawahi bahwa dengan catatan pola pikir itu harus dibentuk. 

Untuk kasus Lintang, ia yakin bahwa Lintang telah membentuk sendiri strategi kognitif yang dipunyainya. Dengan kata lain, saya berpendapat bahwa achmat ingin mengatakan bahwa Lintang telah menjalani proses akselerasi di dalam menciptakan strategi kognitifnya.

Tanggapan  terhadap karakter Lintang secara umum, mengenai kemungkinan pengimplementasian karakter Lintang di dalam kehidupan, ini ditanggapi oleh berbagai pandangan para responden. Salah satu responden, Hardiansyah. yang mengatakan bahwa karakter Lintang yang ada di dalam novel Laskar Pelangi itu sangat sulit ditemukan di zaman sekarang apalagi di Indonesia. Akan tetapi, tidak sedikit yang berpandangan bahwa karakter Lintang itu masih ada pada  generasi muda Indonesia.

Rio salah satu Mahasiswa Jurusan Pendidkan bahasa dan sastra Indonesia semsester 3 menyatakan bahwa, Semagat itu dirasakan masih ada, kita kaitkan lagi dengan pernyataan diatas bahwa keterbatasan mampu menciptakan produktifitas. Hanya saja, keberadaan mereka jarang muncul kepermukaan karena, realita sekarang banyak pengarang dan media yang menulis, meliput, dan menerbitkan karya-karya yang bersifat glamoritas, hedonistis, matrealistime.

Walaupun berbagai respon dari berbagai kalangan yang menanggapi keanehan pada karakter Lintang yang mempunyai karakter yang begitu luar biasa dengan latar belakang keluarga yang miskin, serta selalu menemukan kendala dalam perjalanan ke sekolah. 

Dan yang lebih berkesan adalah pendapat dosen Mata kuliah Apresiasi dan Kajian prosa Fiksi, Dra. Elyusra, M.Pd. yang menyatakan bahwa itu adalah hal yang mungkin, karena tidak ada sesuatu yang tidak mungkin jika Allah SWT. Menghendaki maka terjadilah. Selain itu, interprestasi Dosen Apresiasi dan kajian prosa Fiksi itu, menyatakan, bahwa sejarah orang jenius seperti bapak Bj Habibi mempunyai kebiasaan makan ikan sejak kecil dan hal ini dihubungkan dengan Lintang seorang anak pelayan, otomatis Lintang sering makan ikan. Jadi kesimpulannya, Lintang berkemungkinan mempunyai strategi kognitif yang brilian. Pernyataan yang sangat menarik sekaligus mempunyai streting point yang bagus sekali.

Apresiasi pembaca terhadap karakter Lintang lagi-lagi menunjukkan hal yang sangat luar biasa. Cara penyampaian pengarang mengenai karakter Lintang, dirasakan sangat memikat serta menggugah semangat apalagi Andrea menggunakan metafora yang begitu kuat karena unik dan orisinil. Hardiansyah menyatakan bahasa yang digunakan sangat komunkatif. Selain itu, Misrudin mahasiswa jurusan Tarbiah semester III UMB menyatakan bahasa yang digunakan mampu menyentuh hati pembaca, sehingga sangat menarik.

Mengenai apa yang harus dilakuakan pemerintah melihat kondisi anak yang mempunyai strategi kognitif yang luar biasa, akan tetapi tidak dapat meneruskan pendidikannya. Responden menaggapi banyak yang kecewa dengan pemerintah. Di sisi lain, responden menyatakan bahwa seharusnya Lintang yang harus bergerak untuk mencari masa depannya, jangan menunggu perhatian pemerintah, jika hal ini yang akan dilakukan Lintang maka mudah-mudahan pemerintah akan tahu kondisi Lintang dan membantu mewujudkan cita-cita Lintang ke depan.

Menurut cara pandang Loly mahasiswa bahasa Indonesia semester 3, pemerintah seharusnya menumbuhkan generasi seperti Lintang dengan kata lain, maksudnya adalah pemerintah harus memperhatikan keberadaan orang-orang yang mempunyai semangat tinggi di dalam menempuh pendidikan. selain itu, hardiansyah menyatakan cara lainnya adalah dengan memberikan beasiswa kepada Lintang dan seharusnya itu merupakan tugas pemerintah untuk mencari siswa yang berbakat dan memberinya bantuan baik motivasi maupun berupa beasiswa bukan siswa yang harus mencari.

Hemat saya, tiga sisi yang saya lihat, Pertama. Sudah seharusnya pemerintah dapat melihat dan merekrut anak yang jenius seperti Lintang. jika ada yang mengatakan bahwa pemerintah tidak bisa mengawasi anak-anak yang jenius, maka hal itu adalah salah. Bukankah ketika lomba cerdas cermat di S.D. P.N. itu hadir lembaga pemerintahan seperti Pemda, Camat, dan Sekolah P.N. apakah mereka tidak tertarik dengan anak yang menjawab pertanyaan matematik hanya memejamkan mata selama 7 detik. Rasanya hanya orang-orang yang tidak mempunyai hati saja yang tidak terpaut hatinya untuk memberikan bantuan kepada Lintang.

Kedua, Di sisi lain melihat karakter Lintang yang inovatif, tegar, serta mempunyai semangat yang luar biasa itu seharusnya dari diri Lintang sendirilah yang seharusnya berusaha untuk mencari perhatian pemerintah. Bukankah jika ada kemauan pasti ada jalan. Tapi dimana kemauan Lintang itu? Apakah pemerintah yang salah atau Lintang yang cuek untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Melalui dua sisi pandangan saya di atas, saya tidak bermaksud menyatakan salah satu pihak yang salah baik pemerintah maupun Lintang. akan tetapi hemat saya, ada salah satu pihak yang memulai untuk menunjukkan bahwa ia sangat peduli dengan perkembangan pendidikan di Indonesia, baik itu pemerintah maupun Lintang yang bercita-cita menjadi seorang matematikiawan.

Ketiga, itu semua menandakan sikap kedewasaan dan tanggung jawabnya yang begitu besar untuk seumuran anak sekecil itu. Dewasa karena ia tidak mementingkan kepentingannya sendiri. Akan tetapi, ia lebih memilih untuk mempertimbangkan nasib saudaranya daripada nasibnya sendiri.

Achmat menambahkan bahwa seharusnya pemerintah harus tanggap dan peduli untuk membiayai Lintang sekolah sampai tamat dan memberikan bantuan kepada orang tua Lintang untuk berwiraswasta. Solusi yang ditawarkan achmat cukup bagus akan tetapi melihat

Akhir tokoh Lintang mendapat sambutan kekecewaan oleh responden. Misrudin menyesalkan seorang anak yang memiliki potensi yang menakjubkan, akan tetapi hanya berakhir sebagai kuli. Loly, Dedi, dan Atma menyatakan tidak setuju. Dominan responden menyatakan tidak setuju dengan akhir cerita Lintang.  Akan tetapi, beda halnya dengan hardiansyah ia setuju dengan akhir tokoh Lintang, karena baginya itulah kehidupan, itulah hal yang paling menggugah emosionalitas pembaca untuk sadar bahwa nasib itu terkadang berbalik.

Pengarang sengaja membalikkan realitas yang seharusnya terjadi pada Lintang dengan realitas yang dianggap sebagai penggugah emosionalitas pembaca. Tanggapan Hardiansyah menurut saya lebih bijak di dalam memandang kehidupan. 

Hemat saya menyatakan, memang itulah kehidupan segala sesuatu yang ada di dunia ini berkemungkinan untuk berbalik 1800.  Bukankah hanya perubahan yang abadi di dunia ini dan hanya kematian sebagai kepastian di dunia ini. Dan seandainya novel ini dilanjutkan lagi, tidak menutup kemugkinan Lintang akan bangkit menjadi sesorang yang berguna bagi bangsa dan negaranya. Karena bagi saya, sebuah karakter Lintang yang luar biasa itu sudah bisa dijadikan dasar sukses atau tidaknya seseorang. Bisa itu menjadi seorang wiraswasta.

Pendapat Welman hampir sama dengan Hardiyansah akan tetapi, perbedaannya Welman memberikan interprestasi yang lebih baik tentang ending Lintang. baginya memang itu kesengajaan pengarang untuk menciptakan suasana yang tragis guna menimbulkan rasa emasionalitas pembaca. Akan tetapi, menurutnya, pengarang kurang tragis memberikan endingnya.  Jika pembaca banyak kecewa melihat endingnya Tokoh Lintang, akan tetapi welman melihat endingnya Lintang kurang tragis.

Tanggapan responden ketika ditanyakan jika karakter Lintang ditiadakan maka akan mengakibatkan kegersangan di dalam memotivasi pembaca serta memberikan warna yang kelabu. Justru responden mengatakan hanya karakter Lintanglah yang menjadikan mereka semangat untuk menempuh pendidikan. Itu semua karena kondisi Lintang bisa masuk di dalam dua dimensi kehidupan Indonesia sekarang ini. 

Untuk anak yang mempunyai fasilitas yang lengkap, mereka secara tidak langsung diajak untuk mensyukuri karuinia-Nya itu. Sehingga mereka dapat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya sesuatu yang telah Allah titipkan kepada mereka. Sedangkan untuk anak yang memiliki latar belakang sama dengan Lintang atau diatas sedikit, Karakter Lintang menyampaikan bahwa harapan itu masih ada, tidak ada potensi yang terbesar di dunia ini kecuali segala sesuatu yang telah Allah berikan kepada Manusia, baik itu berupa, Jasmani maupun rohani.

Barang siapa yang berusaha menolong dirinya sendiri maka Allah akan menolongnya. Karakter itu telah mengajarkan kita untuk menciptakan semangat itu di dalam diri kita sendiri. Produktifitas itu bukan saja diciptakan dengan sesuatu yang sempurna akan tetapi, IMAN. Imanlah yang telah membuat Lintang berani untuk melaju pesat dengan mengeluarkan potensi yang yang telah Allah SWT berikan kepadanya Berupa Keimanan. 

Rasanya All Reader dapat membayangkan bagaimana jika karakter lintang ini ditiadakan. Pernyataan Loly, Akbar, dan Hardiansyah hampir sama mereka pikir cerita tidak akan menarik ketika karakter Lintang ditiadakan. Bagi Hardiansyah tokoh Lintang itu merupakan bagian untuk menciptakan The Most Power Book.  Dedi juga mengatakan bahwa karena karakter Lintang itu unik dan hanya terjadi pada Lintang maka jika Lintang ditiadakan cerita tidak menarik.

Pernyataan yang berbeda dinyatkan oleh mahasiswa asal Mukomuko Atma Ftriani, ia mengatakan tidak masalah jika tokoh Lintang dihilangkan jika dari awal pengarang tidak memasukkan tokoh Lintang di dalam Laskar Pelangi kecuali jika tiba-tiba pengarang menghilangkan tokoh Lintang di dalam pertengahan cerita baru dipertanyakan.

Pernyataan Atma tampak polos dan begitu original keluar. Akan tetapi, hemat saya di dalam Laskar Pelangi, ada empat tokoh penting yang ada seperti, Lintang, Mahar, Ikal, dan Ibu Muslimah. Jika hal ini dihilangkan maka akan menghilangkan estetika serta hal yang dapat menumbuhkan semangat pembaca. 

Di sisi lain, dilihat dari tema bukankah Laskar Pelangi bertemakan pendidikan, maka jika Lintang hilang di awal pun akan menyebabkan novel itu adalah hal yang biasa-biasa saja bagi generasi muda. Welman mahasiswa Universitas Bengkulu jurusan sastra semester enam, menyatakan bahwa Tokoh Lintang itu merupakan salah satu Konsep Dasar pembuatan sebuah karya Laskar Pelangi.

Soal menarik atau tidaknya karakter Lintang, responden mengatakan bahwa karakter Lintang itu bukan menarik lagi akan tetapi tingkatnya lebih dari menarik. Ada yang mengatakan bahwa karakter Lintang itu inspiratif, karena mampu memberikan inspirasi bagi seseorang yang membacanya.

Hal yang dirasakan responden ketika membaca karakter Lintang sangat beragam.  Akbar merasakan sangat terharu dan sedih. Ada yang bingung melihat kondisi sekolah yang begitu jauh akan tetapi tetap di tempuh walaupun dengan berbagai kendala yang dihadapinya dalam perjalanan. 

Ada yang terharu dan mengagumi karakter Lintang yang begitu tegar menghadapi kehidupan. Ada juga yang sampai menangis melihat perjuangan Lintang. ada yang merasakan seolah-olah karakter Lintang masuk  ke dalam dirinya untuk memberikan semangat berjuang. Hal ini saya dapatkan dari pernyataan Dosen mata kuliah Apresiasi dan kajian Prosa Fiksi, Ibunda saya Dra. Elyusra, M.Pd. hal yang dirasakan setelah memahami karakter Lintang itu pun telah ia terapkan ketika akan mengajar. Beda dengan pandangan Hardiansyah yang sangat gergetan dengan sikap pemerintah yang cuek.

Sikap responden ketika ditanyakan mengenai sikap Lintang berhenti sekolah lagi-lagi beragam. Ada yang sangat kecewa, mengapa??? mengapa hanya karena bapaknya meninggal harus berhenti sekolah. Ada yang berpendapat itu semua karena Lintang mempunyai tanggung jawab yang besar untuk menjaga adik-adiknya. Sema seperti yang dikatakan oleh Achmat, bahwa ia rasa sikap yang diambil Lintang itu menandakan bahwa Lintang adalah anak yang dewasa, tegas, dan mempunyai tanggung jawab yang besar kepada keluarganya.

Hardiansyah, mahasiswa semester 9 prodi bahasa inggris mengatakan bahwa orang-orang di sekeliling Lintang tidak dapat berbuat apa-apa, sehingga Lintang sudah seharusnya menjaga adik-adiknya. Akbar menyatakan bahwa seharusnya pemerintah yang mempunyai inisiaif untuk membantu Lintang. Loly pun berharap seharusnya tokoh Laskar Pelangi memberikan  masukan, motivasi, dan dorongan kepada Lintang agar tidak berhenti sekolah.

Welman mahasiswa Universitas Bengkulu jurusan sastra semester enam yang kebetulan sedang menggarap proposal penelitian tentang kajian Pragmatik Novel Laskar Pelangi, menanggapi bahwa sikap Lintang untuk berhenti sekolah jika diamati memiliki sisi positif dan sisi negative.

Sisi positif dan sisi negative atas sikap Lintang. Sisi positif yang dapat kita lihat secara tersirat bahwa sikap yang diambil Lintang itu menunjukkan bahwa Lintang seseorang yang bertanggung jawab, patuh dengan ornag tua, tidak terpaku dengan system pembelajaran formal, seperti sekolah. Akan tetapi, Lintang banyak belajar dari lingkungannya. Belajar dari segala sesuatu yang dilihatnya. Sisi negative yang dapat kita lihat dari sikap Lintang adalah bahwa Lintang kurang menghitung resiko-resiko di kemudian hari jika ia memilih untuk berhenti sekolah dan kedua Lintang terlalu cepat memutuskan sesuatu.

2. 2 Pembahasaan
Dari hasil wawancara saya maka mereka hampir seluruhnya setuju mengenai kemungkinan adanya karakter Lintang yang mempunyai strategi kognitif yang luar biasa. Selain itu mengenai kemungkinan adakah karakter  Lintang di dunia nyata, para responden sepakat mengatakan bahwa itu adalah hal yang mungkin.

saya dapat menambahkan pandangan Loly bahwa, memang ada teori yang menyatakan bahwa faktor keturunan yang menyebabkan seseorang mempunyai kemungkinan besar untuk dapat memiliki bakat atau intelegensia seperti keluarganya. Akan tetapi, di sisi lain menurut saya keterbatasan Lintang itulah yang membuat Lintang mampu menciptakan karakter Lintang  yang begitu kuat, tegar, semangat, inovatif di dalam kehidupannya, dengan kata lain hal ini lebih mengarah kepada teori Behaviorisme.

Lingkungan di sini Maksudnya adalah kemampuan Lintang membaca, baik yang tersirat maupun yang tersirat dari kehidupannya. Membaca kesuksesan para tokoh yang dikaguminya, sehingga menularkan semangat yang menghujam di hati Lintang. sehingga dapat disimpulkan kebiasaan-kebiasaan Lintang yang selalu membaca inilah akhirnya menghantarkan Lintang menjadi anak yang jenius.

Jika seandainya kita tahu bahwa Allah SWT  memberikan potensi yang luar biasa kepada manusia. Maka kita akan menyadari kemahabesaran Allah yang dapat kita tafakuri melalui ciptaannya berupa Otak. 

Saya pernah membaca buku yang berbicara mengenai otak manusia, di sana dikatakan bahwa Enstein itu baru mempergunakan otaknya sekitar 7 % dari kapasitas otak seseungguhnya dan Bj Habibi itu baru menggunakan 3 % kemampuan otaknya (data terbaru saya baca ternyata IQ Habibi lebih tinggi dari enstein yaitu 200). 

Dari hasil penelitian ini bisa kita lihat bahwa strategi kognitif itu hal yang mungkin terjadi pada seluruh manusia, baik itu miskin ataupun kaya. Akan tetapi perlu dipertegas, seseorang baru dapat memaksimalkan otaknya jika sudah terbiasa dibentuk dengan kebiasaan untuk memicunya, baik dengan membaca, menemukan masalah sekaligus mencari pemecahannya dan lain-lain.

Dari sisi islam, Allah SWT menjanjikan bahwa barang siapa yang belajar kemudian ia mengajarkan ilmunya kepada orang lain maka, Allah akan menambahkan pengetahuan yang belum ada padanya. Seperti telah kita lihat pada identifikasi tokoh Lintang, Lintang mempunyai kebiasaan untuk mengajarkan ilmunya kepada teman-temannya. Selain itu, Allah SWT berfirman “barang siapa yang bersyukur kepada nikmat yang telah Aku berikan niscaya akan Aku tambah Nikmat kepadanya”.

Dapat kita simpulkan, Lintang mengajarkan ilmunya dan Lintang mensyukuri NIkmat yang telah Allah berikan kepadanya dengan meyakini bahwa otak yang diciptakan-Nya mempunyai kapasitas yang lebih besar daripada yang dipikirkan manusia. Nikmat Allah telah kita lihat pada diri Lintang, berupa strategi Kognitif yang luar biasa. Semua itu bisa juga kita dapatkan wahai generasi mudah dengan berusaha menggali seribu potensi yang telah Allah tanamkan di dalam diri kita. Itulah yang dinamakan dengan hikmah dari kehidupan.

Mengenai cara penyampaian pengarang mengenai karakter Lintang. pembaca 70 % setuju dan 30 % setuju. Menurut mereka sukar dimengerti terutama pemakaian bahasanya. Sedangkan yang setuju, menyatakan bahasanya komunikatif. Perbedaan pendapat itu menurut saya sesuai dengan kebiasaan membaca mereka. Jika mereka terbiasa sudah tentu mempunyai perbendaharaan kata yang banyak untuk mempermudah pemahaman ketika membaca.

Apa yang seharusnya pemerintah lakukan terhadap Lintang, melihat kondisinya yang mempunyai strategi kognitif yang luar biasa, responden merespon 40 % tidak setuju dan 60 % setuju. hemat saya, dua sisi yang saya lihat, Pertama. Sudah seharusnya pemerintah dapat melihat dan merekrut anak yang jenius seperti Lintang. 

Jika ada yang mengatakan bahwa pemerintah tidak bisa mengawasi anak-anak yang jenius, maka hal itu adalah salah. Bukankah ketika lomba cerdas cermat di S.D. P.N. itu hadir lembaga pemerintahan seperti Pemda, Camat, dan Sekolah P.N. apakah mereka tidak tertarik dengan anak yang menjawab pertanyaan matematik hanya memejamkan mata selama 7 detik. Rasanya hanya orang-ornag yang tidak mempunyai hati saja yang tidak terpaut hatinya untuk memberikan bantuan kepada Lintang.

Kedua, Di sisi lain melihat karakter Lintang yang inovatif, tegar, serta mempunyai semangat yang luar biasa itu seharusnya dari diri Lintang sendirilah yang seharusnya berusaha untuk mencari perhatian pemerintah. Bukankah jika ada kemauan pasti ada jalan. Tapi dimana kemauan Lintang itu? Apakah pemerintah yang salah atau Lintang yang cuek untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. 

Melalui dua sisi pandangan saya di atas, saya tidak bermaksud menyatakan salah satu pihak yang salah baik pemerintah maupun Lintang. akan tetapi hemat saya, ada salah satu pihak yang memulai untuk menunjukkan bahwa ia sangat peduli dengan perkembangan pendidikan di Indonesia, baik itu pemerintah maupun Lintang yang bercita-cita menjadi seorang matematikiawan.

Ketiga, itu semua menandakan sikap kedewasaan dan tanggung jawabnya yang begitu besar untuk seumuran anak sekecil itu. Dewasa karena ia tidak mementingkan keperntingannya sendiri. Akan tetapi, ia lebih memilih untuk mempertimbangkan nasib saudaranya daripada nasibnya sendiri. Selain itu, Lintang mungkin juga menyadari bahwa menuntut ilmu tidak hanya terikat pada pendidikan formal.

Kisah Lintang ini menurut saya seharusnya membuat pemerintah segera sadar betapa pentingnya pemerataan pendidikan. Bukankah di dalam undang-undang dasar setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan, tapi bagaimana dengan Lintang? kisah Lintang juga dapat menggambarkan gambaran pendidikan di Indonesia yang gagal.  

Mengenai akhir cerita yang dialami Lintang responden 80 % setuju dan 20 % tidak setuju. Saya hanya ingin memberi gambaran realita sekarang adalah banyak anak yang SD, SMP, dan SMA terkenal sangat rajin akan tetapi ketika besarnya malah berbalik menjadi malas, tidak produktif, bahkan hingga memilih untuk tidak meneruskan sekolahnya dikarenakan keadaan yang tidak mendukung ataupun sebab berbagai hal lainnya dan begitu juga sebaliknya banyak yang sukses.   

Ketidaksetujuan para responden menurut saya karena cara pandang mereka yang belum dapat melihat suatu realitas kehidupan dan pengarang berhasil menciptakan emosionalitas pembaca, hal ini berarti pendapat hardiansyahlah yang mereka rasakan.

Menurut saya cara pandang mereka yang tidak setuju ini menandakan bahwa mereka hanya kagum dengan sesuatu yang namanaya IQ, respon yang saya lihat responden hanya menyayangkan IQ yang begitu jenius akan tetapi tidak mendapatkan keberhasilan hidup.

Untuk menjawab keheranan responden maka saya akan menjelaskan tentang penelitian ilmiah terkini mengenai kesuksesan seseorang. Seandainya mereka tahu jika ternyata IQ yang ditemukan pada tahun 1905 oleh Binet, hanya 6- 20 % mendukung kesuksesan seseorang dan 80 % lainnya yang berperan adalah Emosinalitas Quotien (EQ) yang ditokoh oleh Daniel Goelman pada tahun 1995 dan tahun 2000 melalui sebuah penelitian ilmiah, Vs Rahmat Candra california University menemukan satu kecerdasan lagi Spritual Quotien (SQ). kemampuan emosional seperti, tekun, sabar, semangat, mampu berkomunikasi dengan orang lain.

Spritual tidak hanya dalam konteks ibadah akan tetapi kejujuran, keikhlasan, serta yakin bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang mempunyai ilmu pengetahuan.  saya ingin menegaskan bahwa pernyataan saya ini, saya tujukan kepada cara pandang responden bukan lantas saya menyatakan Lintang tidak mempunyai EQ dan SQ. Lintang hemat saya telah memiliki seluruh komponen ini. akan tetapi, kenapa Lintang tidak sukses, itu merupakan sekenario dari pengarang untuk mengguncang emosionalitas pembaca. 

 Tanggapan responden bila tokoh Lintang ditiadakan di dalam Novel Laskar Pelangi 70% tidak setuju karena Karakter Lintang merupakan karakter yang menciptakan the Most Power Book dan 30 % setuju dengan beberapa ketentuan tertentu. saya hanya ingin mempertegas bahwa Tokoh Lintang merupakan salah satu konsep dasar di dalam memberikan pesan kepada pembaca. Jika ada yang setuju jika di awal tidak ada tokoh Lintang tidak mempengaruhi pembaca. Maka hal itu merupakan kesalahan yang besar. Tokoh Lintang ini merupakan tokoh sentral yang bisa menyampaikan pesan kepada rakyat dan pemerintahan Indonesia.

 Pendapat responden mengenai seberapa menarikkah tokoh Lintang, 100 %menyatakan sangat menarik. Menarik dengan karakter Lintang yang khas, tegar, dan unik.

Tentang apa yang dirasakan setelah membaca karakter Lintang di dalam Laskar Pelangi, responden merasakan hal yang berbeda, akan tetapi 90 % menimbulkan rasa yang positif pada setiap responden. Sangat berkesan karena tokoh Lintang telah berada dihati mereka sebagai referensi pemikiran responden di dalam menumbuhkan semangat untuk berani bermimpi menuju masa depan yang cerah sekaligus untuk mensyukuri nikmat yang telah mereka miliki. Karena jika dibandingkan dengan keadaan Lintang yang mempunyai keterbatasan akan tetapi tetap semangat,walaupun hujan badai, walaupun harus menempuh delapan puluh KM ke sekolah. Dimensi yang berbeda dengan sekarang.

Maka dari itu, seperti yang dikatakan Misrudin bahwa tokoh Lintang telah mengajarkannya untuk malu kepada diri sendiri. Malu dengan fasilitas yang ada, tapi tidak semangat dan tidak serius di dalam menempuh pendidikan. Begitu juga hal yang dirasakan oleh Dosen saya Ibu Elyusra yang mengajar mata kuliah Apresiasi dan kajian prosa Fiksi. Menurut saya beliau bukan hanya merasakan, akan tetapi telah mampu mengerakkan semangatnya. Tokoh Lintang telah mampu menyihir seseorang untuk berani bermimpi. 

Tanggapan responden melihat sikap Lintang yang memilih untuk berhenti sekolah ketika bapaknya meninggal, 90 % setuju karena itulah roda kehidupan dan karena itulah emosionalitas responden tersentuh sedangkan 10 % tidak setuju. Banyaknya respon setuju dari responden menurut saya, karena mereka mampu berempati terhadap situasi yang dialami oleh tokoh Lintang. keterlibatan perasaan inilah yang membuat mereka mengetahui kesulitan Lintang.

 Harapan responden terhadap tokoh Laskar Pelangi lainnya yang melihat sikap Lintang untuk memilih berhenti sekolah, 80 % setuju harus membantu sedangkan 20 % tidak setju dengan alasan karena perekonomian yang tidak memungkinkan untuk  membantu Lintang dan saudaranya. Situasi yang dilematis, di satu sisi mereka menginginkan Lintang untuk tetap berada di tengah-tengah mereka, karena bagi mereka Lintang telah menjadi inspirasi, penyemangat di dalam menempuh pendidikan. Banyak keteladanan yang telah diajarkan Lintang kepada mereka. Akan tetapi di sisi lain mereka juga rata-rata berasal dari keluarga yang miskin.

Berdasarkan hasil wawancara dengan para responden maka saya merumuskan 2 hal :
1.      Pembaca yang setuju dengan karakter Lintang sebanyak   : 87 % menaggapi positif mengenai karakter Lintang, hal-hal yang terjadi pada Lintang, cara penyampaian pengarang tentang karakter Lintang, harapan responden tentang sikap pemerintah dan tokoh Laskar Pelangi lainnya.

2.      Pembaca yang tidak setuju dengan karakter Lintang sebanyak  : 13 %    menaggapi tidak setuju.

Hal ini menunjukkan bahwa karakter Lintang begitu berarti bagi para Reader. Karakter Lintang memberikan inspiratif kepada pembaca. Lintang memang telah menjadi Pahlawan bagi orang-orang yang berputus asa di dalam menempuh pendidikan. Lintang telah menjadi tauladan bagi orang-orang yang memandang rendah keterbatasan. Tokoh Lintang mampu membuat mereka malu karena sekarang masih bermalas-malasan di dalam menempuh pendidikan. Lintang mampu memberikan spirit untuk terus belajar. Lintang telah berada di hati mereka untuk mengajarkan bagaimana cara mensyukuri hidup.

Tokoh Lintang telah mampu mengajak mereka untuk berani menghadapi hidup, walaupun terkadang hidup tidak adil. Tetapi Lintang mengajarkan bagaimana cara untuk menjalani ketetapan yang ada. Lintang  mengajarkan kepada mereka untuk mempunyai cinta, Cinta kepada ilmu, Cinta orang tua, Cinta akan semangat, Cinta akan perubahan, cinta kepada Sang Pencipta.

IV. Penutup
4.1  kesimpulan
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan serta hasil interprestasi setiap tanggapan yang diberikan oleh pembaca, maka kesimpulan mengenai penokohan Lintang pada novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata pada dasarnya adalah  seluruh responden yang saya wawancara setuju dengan  karakter Lintang yang dimiliki oleh Lintang. karakter Lintang sangat inspiratif, mampu memotivasi pembaca. Apalagi cara penyampaian yang komunikatif dengan menggunakan metafora yang unik dan orisinil. Karakter Lintang sangat berbekas sekali pada setiap responden. Jadi keterbatasan bukanlah halangan untuk meraih cita-cita, malah ketika seseornag mengalami keterbatasan maka ia akan mengeluarkan potensi yang ada di dalam dirinya. Itulah hikmah dan keajaiban kehidupan. Keajaiban tentang makna keterbatasan. Keajaiban tentang Iman.

Satu hal lagi yang perlu di pertegas, Lintang bukan hanya cerdas secara Intelektual, akan tetapi Lintang juga mempunyai kecerdasan emosional dan spiritual. Apa itu kecerdasan emosional? Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk merasakan perasaan ornag lain kemudian menjadikan pengetahuan itu untuk mengambil tindakan. Lintang telah menerapkan kecerdasan itu dengan memilih untuk bertanggung jawab dengan berusaha membiayai kehidupan keluarganya.  Jadi jika untuk meraih kesuksesaan kita harus mensyukuri Nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita.

4. 2 Saran
            Mudah-mudahan tugas ini menambah keyakinan Kita untuk sama-sama menyadari bahwa pendidikan itu sangat penting. Sangat penting untuk selalu membaca diri, orang lain dan lingkungan kita. Selian itu, Banyak kekurangan di dalam pembuatan Makalah ini, baik dari segi interprestasi, penilaian maupun tata bahasa yang saya gunakan. Maka dari itu, diharapkan kritik dan saran yang membangun guna terciptanya hasil kajian yang lebih baik lagi.


V.  Daftar Pustaka
Agustian, Ari Ginanjar. 2001. Emotional Spritual Quotient (ESQ).  Jakarta: Penerbit Arga

Dawson, Roger. 1997. Tiga Belas Rahasia Kinerja Kekuatan. Jakarta : PT. Prenhallindo.

Hirata, Andrea. 2008. Laskar Pelangi. Yogyakarta : PT. Bentang Pustaka.

Goelman, Daniel. 1999. Working with Emotional Intelligence. New York : Bantam Books.

Shihab, M. Quraish. 1998.  Lentera Hati: kisah dan hikmah kehidupan. Bandung: Penerbit Mizan. 

Foto : Jpnn.com

Setelah membuka file saya menemukan sebuah kajian yang sangat inspiratif bagi saya. Makalah ini merupakan tugas ketika saya semester 3 dalam studi S1 dengan dosen pengampu yang inspiratif Dra. Elyusra, M.Pd. Pesan beliau yang masih saya ingat sastra itu memanusiakan manusia. Dulse et utile (Sastra itu mampu menghibur dan mendidik).

Nasehat yang sama diberikan oleh Prof. Dr. Hj. Sabarti Akhadiah, M.K di Pascasarjana "Banyaklah membaca karya sastra". Tentu bukan sembarang karya sastra, tetapi karya sastra yang berbobot.

Semoga Bermanfaat. Jangan Lupa Baca Al-Qur'an juga ya.

Baca juga: Kajian Objektif Struktural Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata

Jakarta, 9 Dzulqaidah 1437 H

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...