Apakah Benar Kita Pengikut Nabi Muhammad?

Alhamdulillah akhir-akhir ini animo belajar agama generasi muda semakin meningkat, walaupun tidak kalah banyak dengan manusia yang masih jauh dari Tuhannya. Di tengah geliat belajar agama itu kita menemukan sebuah fenomena yang unik.

Jika tidak mau dibilang sedikit, Banyak yang memproklamirkan diri KITA sebagai ahlus sunnah (ahli mengikuti Nabi) dan selain golongannya adalah ahlu bid'ah. Katanya si begitu.  

Memasang atribut Sunnah yang tampak oleh mata manusia, namun mungkin lupa atau melupakan bahwa Nabi juga menyatakan,

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
 Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
[Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dengan lafadz ini dalam Musnad-nya 2/381, Imam Al Haakim dalam Mustadrak-nya 2/613, dan Imam Al Bukhari dalam kitabnya Adabul Mufrad no. 273]

Tidak seharusnya seorang siddiq adalah seorang pelaknat.”
[HR.Muslim: IV/2005,(2597).]

Sekarang kita lihat, sesama muslim ada-ada saja yang saling melaknat. Akhirnya ini menimbulkan efek negatif bagi orang muslim yang mau belajar agama islam dan orang yang belum masuk islam. Mungkin ini salah penyebab orang yang mau kembali ke jalan Allah malah menjauh, bukannya mendekat.

Nabi juga bersabda:
Tidaklah seorang mukmin itu menjadi pencela, pelaknat, pelaku kemaksiatan, dan orang yang kotor kata-katanya.”
[HR.Tirmidzi: IV/350,(1978) di shahihkan oleh Al-albani dalam shahih sunan Tirmidzi: IV/447]

Jadi jika memang benar kita ikut Nabi akhlak kita akan bertambah baik, kalau akhlak tidak baik dikhawatirkan kita mengikut Salaf (pendahulu) tapi salah pendahulunya.

Seperti contoh di bawah ini:
Diriwayatkan Khalid bin Walīd radhiaullohhu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang orang-orang seperti Dzul Khuwaisarah penduduk Najed dari bani Tamim yang suka menampakkan “bekas” amalnya dan berakhlak buruk dengan pertanyaan:

Wahai Rasulullah, orang ini memiliki semua bekas dari ibadah-ibadah sunnahnya: matanya merah karena banyak menangis, wajahnya memiliki dua garis di atas pipinya bekas airmata yang selalu mengalir, kakinya bengkak karena lama berdiri sepanjang malam (tahajjud) dan janggut mereka pun lebat”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab : camkan makna ayat ini : qul in’kuntum tuhib’būnallāh fattabi’unī – Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Khalid bin Walid bertanya, “Bagaimana caranya ya Rasulullah ? ”

Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Jadilah orang yang ramah seperti aku, bersikaplah penuh kasih, cintai orang-orang miskin dan papa, bersikaplah lemah-lembut, penuh perhatian dan cintai saudara-saudaramu dan jadilah pelindung bagi mereka.”
[Syarah Shohih Muslim jilid 17 no: 171]

Dari riwayat di atas, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menegaskan bahwa ketaatan yang dilakukan oleh orang-orang seperti Dzul Khuwaisarah penduduk Najed dari bani Tamim dan suka “menampakkannya” tidaklah berarti apa-apa karena tidak menimbulkan ke-sholeh-an.

Tanda orang-orang yang mengikuti Rasulullah adalah bersikap ramah, penuh kasih, mencintai orang-orang miskin dan papa, lemah lembut penuh perhatian dan mencintai saudara muslim dan menjadi pelindung bagi mereka.

Ada beberapa Indikator atau ciri-ciri atau tanda-tanda orang yang mencintai Allah dan dicintai oleh Allah:
1. Bersikap lemah lembut terhadap sesama muslim
2. Bersikap keras (tegas / berpendirian) terhadap orang-orang kafir
3. Berjihad di jalan Allah, bergembira dalam menjalankan kewajibanNya dan menjauhi laranganNya
4. Tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.

Umar bin Abdul Aziz rohimahullaah pernah dapat pesan begini:
Artinya: "Jadikanlah orang tua diantara kaum muslimin disisimu seperti ayah, yang kecil seperti anak, dan muda seperti saudara. Siapakah diantara mereka yang suka kamu sakiti?."

Orang-orang dahulu iman mereka bukan sebatas di hati dan lisan. Iman mereka sudah menjadi tindakan bahkan karakter.

Berbuat zholim dan menyakiti saudaranya sekalipun dengan kata-kata sulit mereka lakukan. Mereka sadar betul bahwa "orang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya".

Orang muslim generasi dahulu sekalipun berbeda pendapat dan sikap mereka tetap saling menghormati, menjaga lisan dan tangan mereka, bahkan hatinya selamat dari "ghill". Tak heran perbedaan tak merusak ukhuwah. Pilihan-pilihan ijtihad tak mengoyak kesatuan sebagai umat yang satu.

Kalau hari ini kondisi justru absurd. Orang jenggot boleh panjang, baju boleh jingkrang, jidad boleh bencol, peci boleh putih, tetapi adab sangat jauh dari teladan generasi Islam terdahulu. Ibnul Mubarok rohimahullaah pernah berpesan kepada para ulama hadits:
Artinya: "Kalian lebih butuh kepada sedikit adab dibandingkan banyak ilmu."

Ibnul Mubarok rohimahullaah juga berkata:
Artinya: "Kami mempelajari adab sampai orang-orang yang mendidik kami pergi meninggalkan kami."

Semoga Allah memperbaiki keadaan bathin dan lahir kita sehingga bisa membawa keselamatan, rahmat, dan menjadi jalan petunjuk bagi seluruh manusia.

Allahu 'alam.

Tulisan Terkait: Kepribadian Seorang Muslim

Gambar: Google 

Jakarta, 25 Dzulhijjah 1437 H

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...