Jalan Ketiga dan Delapan (8) Alasan Al-Qur'an Akan Menguasai Dunia Kembali


Bismillahhirrohmanirrohim

Di tengah-tengah perkuliahan bersama salah satu dosen yang juga pengajar di Lemhanas tiba-tiba di akhir kuliah bersama Prof. Dr. Hj. Jenny kami berbicara mengenai bahasa sebagai media lalu prosesnya dalam membentuk sebuah ideologi. Beliau sering memberikan pelatihan dan mengajar untuk para pimpinan nasional negeri ini. Pertanyaan yang sering kali beliau dapatkan adalah darimana memulai perubahan?

Tiba-tiba suasana kelas berubah seolah-olah yang hadir adalah para pimpinan nasional. “Saya seolah-olah bicara kepada para pimpinan nasional, anggap saja kalian calon pimpinan nasional” tuturnya.

Saya teringat kembali setelah membaca sebuah buku yang salah satu sub judulnya “Jalan Ketiga”

Jika kita melihat bagaimana arah perkembangan dunia, khususnya setelah Perang Dingin Timur Barat Berakhir. Memang saat itu buku yang populer adalah The End Of History karya Francis Fukuyama (1992). Kesan yang diperoleh saat itu adalah komunisme sudah kalah dan kapitalisme dan demokrasi liberalisme keluar sebagai pemenang.

Tetapi, kita kembali mempertanyakan, apa benar kapitalisme pasar bebas merupakan ideologi yang sempurna, dan mampu menyelesaikan permasalahan dunia? Apakah demokrasi liberal cocok untuk semua bangsa? Sudah banyak contoh, bahwa kapitalisme menyisakan jurang kaya-miskin yang sangat mencolok, dan demokrasi liberal apa juga pas untuk Indonesia yang falsafah negaranya mengedepankan musyawarah untuk mufakat?
Ketika banyak kalangan mempertanyakan demokrasi liberal dan kapitalisme di awal tahun 1990-an itu muncul pula pemikiran alternatif, mula-mula di inggris, tetapi kemudian juga di Eropa kontinental dan juga di Amerika Latin. Di tengah semangat untuk mengajukan Jalan Ketiga (The Third Way), bukan komunisme tetapi juga bukan demokrasi liberal dan kapitalisme, Anthony Giddens mencoba meyakinkan, bahwa satu jalan ketiga bukan saja satu kemungkinan, tetapi satu kebutuhan dalam politik modern.

Di Inggris pemikiran Tonny Giddens banyak merebut perhatian Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Boleh jadi di Inggris saat itu memang ada kebutuhan akan ideologi alternatif, setelah kapitalisme dipraktikkan dengan banyak privatisasi perusahaan publik.

Di Indonesia, yang ingin dipersepsikan sebagai ideologi adalah pancasila, namun yang banyak ditemui di dunia politik umumnya sebatas pragmatisme, sementara dalam bidang ekonomi-saat Orde baru sempat disebut kapitalisme ersatz sebagaimana disitir oleh Kunio Yoshihara dalam bukunya The Rise of Ersatz Capitalism di Southeast Asia (1998).

Naiknya pemikiran baru ini didorng oleh ketidakpuasan faham kapitalisme dan demokrasi liberal yang di satu sisi berkembang luas, namun gagal menyejahterakan banyak warga bangsa yang menganutnya. Ketika negara seperti Indonesia banyak dipuji sebagai negara yang sukses dalam transformasi demokratis, masih ada sekitar 30 juga warga miskin atau lbih dari itu jika rujukan tolak ukur kemiskinan dibuat lebih manusiawi.

Melihat perkembangan itu banyak para ahli bertanya-tanya mengapa setelah satu perang ideologi usai, pemenangnya tidak bisa berbuat banyak untuk membuat dunia lebih sejahtera, atau lebih aman.

Saya juga bertanya kepada Prof. Jenny " apakah mungkin sebuah ideologi negara berubah?" Mungkin saja, tetapi NKRI tetap harga mati.Tambahnya

Melihat perkembangan global, ketika negara-negara maju mulai mencari jalan alternatif. Kenapa negara kita dengan masyarakat muslim terbesar di dunia tidak merujuk kembali kepada Al-Qur’an? Bahkan di negara ini ketika Al-Qur’an dilecehkan belum terlihat sikap tegas dan cepat untuk menuntaskannya.

Dari hasil beberapa diskusi bersama dengan tokoh pergerakan islam dua hari yang lalu, saya semakin yakin bahwa bisa saja Jalan Ketiga yang selama ini mereka cari adalah Al-Qur'an. Ada delapan alasan Al-Qur’an akan kembali menguasai dunia menurut Ustadz Fathuddin, MA yang merupakan CEO di Tafaqquh Development Group dan Pembina di Majelis Tafaqquh Fiddin (MTF).

1. Bukti Sejarah selama 13 abad lamanya Al-Qur'an eksis di atas 2/3 bumi.

2. Umat Islam khususnya dan umat manusia umumnya sudah lama kehilangan konsep/manhaj hidup yang fitrah sehingga mereka hidup dalam kesulitan, kegelapan dan kezaliman. (Seperti yang sudah kita bahas di awal tulisan ini)

3. Fenomena hampir di seluruh dunia umat Islam mulai kembali kpd Al-Qur'an dan mencintainya. Ada Musa, Fajar dan puluhan ribu anak2 Muslim lainnya di seluruh penjuru dunia dan puluhan juta orang tua dan generasi muda yang cinta dan belajar Al-Qur'an.

4. Isi dan ajaran Al-Qur'an sudah mulai mendominasi dan mengungguli ilmu pengetahuan Barat sekular dan atheis yang selama ini dijadikan Tuhan, khususnya sains moderen dan ekonomi.

5. Lembaga-lembaga pengkajian dan pembelajaran Al-Qur'an tumbuh di seluruh dunia seperti cendawan tumbuh di musim hujan, bahkan di Cina yang terkenal sadisnya terhadap umat Islam di sana.

Sebagai contoh, kemarin beliau bertemu salah seorang ahli Al-Qur'an dari Mesir beliau memperlihatkan rekaman anak-anak Muslim Serbia yang selama ini ditindas Kristen sekarang sudah berlomba-lomba belajar Al-Qur'an.

Di sebuah negara Afrika paling barat yakni Negara Islam Muritania yang berpenduduk hanya 5 juta jiwa terdapat lebih dari 5000 lembaga pendidikan Al-Qur'an. Muritania telah melahirkan ulama-ulama besar kaliber dunia seperti Syekh Asy-Syangqithy dsb.

6. Kaum selebriti dan intekektual Barat baik yg menguasai sains moderen maupun humaniora lainnya banyak sekali yang masuk Islam disebabkan kekaguman mereka pada Al-Qur'an.

7. Pemikiran Barat sekular dan atheis sudah tidak begitu laku didagangkan khususnya di tengah komunitas Muslim, kendati dengan dukungan dana dan fasilitas yang melimpah, media dan kekuasaan yang militeristik sekalipun.

8. Tidak sedikit tokoh, ilmuan dan negarawan Barat kafir yang menerapkan sebagian ajaran Al-Qur'an dan meyakininya sebagai sebuah solusi kebenaran, khususnya terkait teori ekonomi dan medicine Al-Qur'an.

Inggris misalnya, kendati negeri kafir namun sebagian ilmuan dan top leader pemerintah Inggris yakin hanya teori ilmu ekonomi Islam (Al-Qur'an) yang dapat menyelesaikan krisis ekonomi global yg bekepanjangan di tengah majunya berbagai ilmu pengetahuan moderen.

Sebab itu, pemerintah Inggris akan menjadikan London sebagai pusat ekonomi syariah terbesar di dunia mulai thn 2020 yang akan datang.

So, apa yg membuat kita ragu pada masa depan umat Islam yang mau menjadikan Al-Qur'an sebagai the way of life? Tidak ada dihadapan mereka kecuali kejayaan akhir zaman.

Ayo! Mari cintai Al-Qur'an dan kembali kepada pangkuanya.. Dijamin sukses dunia akhirat.

Jagan lupa Jumat tanggal 4 Nopember ya? Jadikan hari yang penuh berkah itu sebagai hari kembali kepada Al-Qur'an...

Allahu Akbar... Kemenangan bagi Islam dan kaum Muslimin.

Gambar: Wikipedia

Jakarta, 2 Safar 1438 H

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...