Senin, 05 Desember 2016

Refleksi Aksi 212 “ Melahirkan Generasi yang Berilmu, Beriman dan Berani”

Dok. Pribadi Aksi Bela Islam III ( 212) di Monas Jakarta
Ada satu percakapan yang masih saya ingat bersama sosok yang berperan penting dalam kehadiran saya di muka bumi ini. pertemuan kami seringkali diselingi tawa, diskusi agama,  berbagi sudut pandang dalam hidup, dan perkembangan yang terjadi tengah-tengah masyarakat.

Malam semakin larut, seharian bekerja tidak membuatnya mengantuk dan masih menyelesaikan disertasinya di tengah kesibukannya sebagai abdi negara.

Kurang lebih dua tahun yang lalu,  masih terang dalam ingatan saya, sejuknya angin malam yang membelai lembut kulit dan suara jangkrik di malam hari.

“Bang, di negeri ini banyak orang yang pintar tapi tidak berani melakukan perubahan. pintar saja dalam hidup tidak cukup. Dalam hidup kita juga harus berani. Berani melakukan kebajikan dan berani mencegah keburukan yang terjadi di sekitar kita” tuturnya membuka pembicaraan malam itu

Saya hanya tersenyum saja, dan menanggapi seperlunya. “benar juga ya Pa. Mungkin kurang iman”.

 Karena saya yakin Allah ciptakan kita dua telinga dan satu mulut agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Penggalan dialog malam itu masih tersimpan rapi di memori dan sanubari saya.

Yang masih terlintas dalam pikiran saya adalah berilmu dan berani. Tapi saya menambahkan kata iman setelah berilmu. Ibarat tanaman, pupuk iman itu adalah ilmu. Dan iman bisa muncul karena ilmu. Dua hal yang saling mempengaruhi.

Tiga kata ini, Berilmu, Beriman, dan Berani sudah menjalar di seluruh denyut nadi tubuh yang Allah ciptakan ini. kekuatan ilmu dan iman sudah seharusnya melahirkan generasi yang berani berpihak kepada kebenaran.

Banyak orang yang berilmu tapi tidak berani, ada juga yang berani tapi tidak berilmu, ada juga beriman tapi tidak berilmu. Tetapi ketika ketiganya bersatu Berilmu, Beriman, dan Berani maka terjadilah keajaiban dan revolusi dalam diri manusia, dalam organisasi, bahkan sebuah negara untuk berdikari dan mandiri agar lepas dari penjajahan bangsa lain.

Dalam aksi 411 maupun 212 saya melihat, merasakan, dan mendengar rasa bahagia, sedih, dan perasaan yang bercampur aduk melihat pemandangan yang sangat spektakuler. Saya yakin di dalam darah saudara-saudara kita muslim di Indonesia masih mengalir darah pejuang. Berani membela kebenaran, rela berkorban, dan senasip sepenanggungan dalam menyuarakan keadilan di negerinya sendiri yang masyoritas orang muslim terbesar di dunia.

Jangan pernah menduga dengan mengembosi dan melarang umat islam untuk aksi bisa melunturkan semangat kaum muslimin. Karena darah pejuang mengalir di sanubari orang-orang beriman.

Hidup dalam keberimanan mengajarkan kita untuk tidak perlu ragu dan takut  berpihak pada kebenaran yang kita yakini benar.


BERIMAN itu harus dengan ILMU.
Orang berilmu itu harus lebih BERANI.

Dan mereka yang hadir atau mendukung aksi 212 In Syaa Allah adalah mereka yang berilmu, beriman, dan berani. Maka jadilah mukmin yang berilmu dan pemberani.

Yang tidak hadir pun juga luar biasa dengan doa dan aneka macam bantuannya yang dirasakan peserta aksi 212. Bagi orang Jakarta bantuan yang diberikan tidak seberapa dibandingkan dengan kehadiran jutaan kaum muslimin dari seluruh penjuru Indonesia yang tumpah ruah di Jakarta.

Pemandangan itu sangat langka dan menjadi oase di tengah kehampaan hidup yang melanda digerus arus matrelialisme, hedonisme, persaingan dunia kerja, dan kesibukan yang melanda warga kota Jakarta dan manusia pada umumnya.

Salah satu cara mengurangi kegelisahan mereka adalah mereka sering sekali sedekah sembunyi tangan. Ada juga yang terang-terangan, asalkan lillah semoga mendapatkan ganjaran dari Allah Subhanahu Wata’ala.

Artinya memberikan bantuan kepada orang lain tetapi tanpa diketahui siapa yang memberi. Itu sensasi yang luar biasa yang patut ditiru. Memberi sampai terasa sakit. Artinya sungguh-sungguh dalam memberi.

Semoga Allah membalas kebaikan para muhsinin yang telah berkorban harta, tenaga, waktu dan nyawanya demi sebuah perhelatan akbar dan bersejarah di Indonesia dan dunia islam.

Walaupun kita bergembira melihat kaum muslimin yang bersatu hari itu (212). Kita jangan sampai terlena dan bangga. Karena pesta telah usai sedangkan perjuangan kita masih terus berlangsung sepanjang hayat. Karena ada virus yang sering kali menjangkit di masjid-masjid yaitu merasa paling baik dan paling berjasa.

Baca Juga: Hakikat Prestasi yang Sebenarnya

Harus ada perjuangan panjang, pahit, berat dan berkelanjutan. Hal ini tidak mungkin dilakukan kecuali dengan persatuan yang sempurna, ukhuwah yang menyeluruh, perasaan yang dapat menghimpun hati dengan hati, perjuangan dengan perjuangan, begitu pula istiqomah terhadap konsep kebenaran dan arah yang benar menuju petunjuk kebaikan.

Demikianlah salah satu konsep yang diwasiatkan oleh Khotib Jum’at saat aksi 212 dihadapan jutaan kaum muslimin, bahkan presiden sekalipun. Hendaknya menjadikan Al-Qur’an sebagai Sumber Hukum agar negara ini selamat. Tidak boleh Al-Qur’an di bawah konstitusi.

Salah seorang sahabat saya alumni pesantren di solo berkisah “ Khutbah yang disampikan Habib Rizieq di Monas sama persis dengan yang ia sampikan kepada kami  di Solo 16 Tahun yang lalu. Luar biasa istiqomahnya beliau.”

Semoga Aksi 212 berhasil memberikan pukulan telak dan memecah ego kita masing-masing untuk bersatu di bawah naungan Al-Qur’an demi tegakknya izzah islam.

Aksi 212 dan Alumninya merupakan modal kita yang paling berharga demi kebangkitan islam. Mereka adalah penopang dan batu batanya. Oleh karena itu, mereka harus dididik, dipersiapkan dan disadarkan agar tercelup dengan islam secara kaafah, baik nilai-nilai dasar, pemahaman, dan akhlaknya.

Mereka harus mengetahui hak-haknya, cara menjaga hak-hak tersebut dan bagaimana berkorban untuk memeliharanya. Mereka juga harus benar-benar sadar dan cermat agar tidak tertipu oleh para penjaja simbol dan klaim para penyeru kebaikan, tidak tawar-menawar dengan konsep hidup dan dakwahnya apalagi berpaling meninggalkannya. Baca juga Teori Kebangkitan

Tanpa penyiapan dan pendidikan bangsa maka bangunan masyarakatnya akan rapuh dan lemah serta terjadi benturan antara satu sama lain di dalam satu komunitas masyarakat. Aksi 212 telah menunjukkan salah satu sarana melakukan revolusi karakter masyarakat indonesia tidak lain adalah Al-Qur’an. Karena ia merupakan titik sentral, ruh yang bisa menggelorakan jiwa masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim dan manusia pada umumnya.

Mari kita terus belajar menuntut ilmu, memperbaharui iman di majelis ilmu, dan berani mengamalkan ilmu yang kita miliki. Menebar dakwah dimanapun kita berada. Agar rahmat islam bisa tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Semoga Keselamatan, Rahmat, dan Barokah Allah selalu menyertai kaum muslimin.

Alumni Aksi 212
(RSP) Hamba Allah yang selalu mengharapkan Rahmat, Ridho dan Ampunan-Nya


Jakarta, 5 Rabiul Awal 1438 H/ 5 Desember 2016 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih telah singgah! Semoga kita segera berjumpa lagi. Saya memberi hormat atas dedikasi dan komitmen Anda untuk terus tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Saya menantikan suatu waktu untuk dapat berjumpa dengan Anda suatu hari.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...