Kamis, 26 Januari 2017

Akhlaq Dai dan Sifat-Sifat Yang Harus Dimilikinya

Da’wah merupakan usaha menyeru, mengajak dan mengarahkan manusia dari kehidupan yang tidak Islami kepada kehidupan yang Islami. Tugas ini merupakan kewajiban bagi setiap muslim, baik pria maupun wanita, remaja maupun orang dewasa dan seterusnya. Ini berarti bahwa da’wah bukan hanya kewajiban mereka yang selama ini kita sebut dengan ustadz, kiayi, ulama dan muballigh. Dengan demikian siapa saja yang berda’wah bisa disebut sebagai da’i meskipun latar belakang pendidikannya bukan dari keagamaan dan profesinya berbeda-beda.
           
Dalam berda’wah, tentu saja seorang da’i menghendaki keberhasilan, dan bagi sebagian besar menurut pendapat sebagian manusia ukuran keberhasilan da’wah adalah terjadinya perubahan pada diri seseorang dari kehidupan yang tidak baik kepada kehidupan yang Islami, dari benci kepada Islam kepada mencintai.

Tegasnya, objek da’wah bisa berubah dari keadaan yang apa adanya kepada keadaan yang seharusnya sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Keberhasilan dalam da’wah tidaklah semata-mata ditentukan oleh kemampuan  sang da’i, tapi juga sebagai faktor terpentingnya adalah kepribadian sang da’i itu sendiri, yaitu memiliki akhlaq yang mulia.

Tetapi hemat saya, keberhasilan Da’wah islam adalah konsistensi seseorang untuk berpegang teguh kepada Manhaj. Apapun kondisi di lapangan, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk tetap berada di jalur yang di Ridhoi Allah dan Rosul-Nya.

Pada dasarnya akhlaq seorang da’i itu tercermin dari pesan-pesan da’wah yang dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Jika dalam da’wahnya ia selalu berpesan agar manusia menegakkan shalat, maka shalat itu memang sudah dilaksanakannya, kalau ia menganjurkan orang untuk berinfaq, maka infaq memang sudah dilaksanakannya. Begitulah seterusnya.

Manakala terjadi kontradiksi antara apa yang dikatakan dengan prilakunya sehari-hari, seorang da’i bukan hanya tidak akan memperoleh nilai yang baik dari Allah, tapi dia malah mendapatkan murka dari Allah. Sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan (QS: 61:2-3).

Bahkan lebih tegas lagi, orang yang demikian dianggap oleh Allah seperti orang yang tidak punya akal, sebagaimana firman Allah yang artinya: Mengapa kalian suruh orang lain (melakukan) kebajikan, sedangkan kamu melupkan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat) maka tidakkah kamu berakal? (QS:2:44)

Da’wah yang dilakukan tanpa mengamalkan pesan-pesan da’wahnya akan sangat sulit untuk bisa diterima sang mad’u sampai ke dalam hatinya. Padahal memasukkan pesan-pesan da’wah tidak hanya sampai ke “kepala” dalam arti sekedar untuk dipahami tapi juga harus dilaksanakan yang membuat terjadinya perubahan dan orang akan melaksanakannya kerena dorongan dari hati.
Ini diumpamakan seperti orang melempar batu ke dalam air, mestinya batu itu tenggelam ke dasar air, tapi yang terjadi batu itu hanya mengambang di atas permukaan air, batu itu disebut dengan batu apung. Da’wah yang dilakukan tanpa pengamalan yang baik bisa diumpamakan seperti orang yang melempar batu ke air, tapi batunya hanya mengambang di atas permukaan air karena batu yang dilemparkan adalah batu apung tadi.     

Sifat-Sifat Yang Harus Dimiliki Seorang Dai
Pembicaraan tentang akhlaq tentu saja sangat luas. Karena itu pembicaraan dalam konteks akhlaq untuk para da’i bisa kita batasi dalam bentuk ciri-ciri akhlaq da’i. Paling kurang ada lima sifat yang berkaitan dengan akhlaq yang harus ada pada diri seorang da’i.

Pertama, Ikhlas Dalam Berda’wah
Da’wah Islam tentu saja menuntut adanya keikhlasan dalam pelaksanaannya oleh seorang da’i. Ini seorang da’i harus berda’wah hanya semata-mata karena Allah Swt bukan karena yang lain. Manakala keikhlasan telah tertanam dalam pelaksanaan tugas da’wah, maka seorang da’i akan terus melaksanakan tugas da’wahnya meskipun banyak orang yang tidak menyukainya, bahkan dia tetap akan berda’wah meskipun tidak ada orang yang memujinya dan dijuga tidak akan bertambah semngat dalam berda’wah karena mendapat pujian dari manusia.

Pada beberapa kondisi, bahkan ada orang yang mewakafkan dirinya di jalan Allah dengan berdakwah di daerah pelosok-pelosok negeri. Jauh dari Publikasi media, sorotan publik, tetapi dengan kerendahan hatinya mendatangi orang-orang yang belum mengenal islam atau mengajarkan ajaran islam secara kaafah kepada umat islam.

Dengan keikhlasan, seorang da’i akan melaksanakannya dengan hati yang ringan meskipun sebenarnya tugas yang dilaksanakan itu berat,  sebaliknya, tanpa keikhlasan, meskipun ringan tugas yang akan dilaksanakan, dia akan merasakan sebagai sesuatu yang berat. Perintah harus berlaku ikhlas terdapat dalam firman Allah yang artinya : Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan penuh keihlasan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan supaya mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus (QS. 98:5).

Kedua, Hubungan Yang Dekat Kepada Allah
Da’i adalah pembawa misi dari Allah. Karena itu mutlak bagi seorang da’i untuk memperkokoh hubungan kepada Allah, apalagi da’wah itu sendiri memang bermaksud mendekatkan manusia kepada Allah.

Hubungan yang dekat dari seorang da’i kepada Swt Allah adalah dalam bentuk tumbuhnya perasaan pada dirinya akan selalu merasa dilihat atau diawasi oleh Allah Swt. Tumbuhnya perasaan ini membuat seorang da’i  tidak berani melakukan penyimpangan atau penyelewengan dari jalan yang telah ditentukan Allah Swt, ini yang memang dikehendaki oleh-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an yang artinya : Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) dari suatu urusan, maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui (QS 45:18).

Untuk bisa menumbuhkan perasaan dekat kepada Allah itulah,  ajaran Islam seperti shalat, puasa, zakat, haji serta bentuk-bentuk peribadatan lainnya seperti tilawah Al-Qur’an, wirid/dzikir pagi dan petang (dalam setiap kondisi dan keadaan) dan sebagainya  harus dilaksanakan oleh seorang muslim apalagi da’i.

Ketiga, Sabar dalam berbagai keadaan
Da’wah merupakan tugas yang secara duniawi bisa merasakan ada enak dan ada tidaknya. Da’wah menjadi enak dari sisi duniawi apabila banyak orang yang mengikutinya, para pengikut itu kemudian memberikan penghormatan kepada sang da’i, baik dari segi status sosial sampai kepada materi sehingga tidak sedikit para da’i yang telah mencapai kelebihan materi. 

Namun sebaliknya da’wah adakalanya memperoleh hal-hal yang tidak menyenangkan, hal-hal yang tidak enak seperti caci maki, permusushan, pemboikotan sampai kepada pembunuhan.

Terlepas dari enak dan tidak enak, seorang da’i yang baik akan selalu sabar menghadapinya, sabar dalam arti tetap berpendirian pada yang benar. Kesulitan tidak membuatnya putus asa dari kemungkinan mencapai keberhasilan da’wah dan kesenangan tidak membuat lupa diri hingga tidak berani lagi mengatakan dan menegakkan yang haq (benar). 

Kesabaran seperti inilah yang membuat seorang da’i akan memperoleh keberuntungan dunia maupun akhirat, Allah berfirman yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung (QS. 3:200).

Keempat, Menggunakan Pembicaraan Yang Baik
Tugas utama dari da’wah adalah penyampaian ajaran Islam, salah satu bentuk penyampaiannya adalah melalui pembicaraan. Karena itu seorang da’i harus berbicara dengan kata-katanya yang baik, baik menyangkut isi pembicaraan, pilihan kata yang tetap sampai kepada gaya bicara yang sesuai dengan misi da’wahnya.

Kemampuan seorang da’i menggunakan pembicaraan yang membuat dia termasuk orang yang mampu membuktikan keimannya kepada Allah Swt dan hari akhir, dalam kaitan ini Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata yang baik atau diam.

Kelima, Memiliki Kesungguhan Dalam Berda’wah
Da’wah sebenarnya tugas yang berat karena itu tidak sedikit oarang yang telah berjatuhan dari jalan da’wah, baik berjatuhan karena hal-hal yang menguntungkan dirinya seperti pengaruh di masyarakat yang semakin besar, penghormatan masyarakat kepadanya yang kadangkala berlebihan maupun jatuh karena hal-hal yang merugikan dirinya seperti beban dan tanggung jawab yang terlalu besar dan sebagainya.

Dalam kaitan ini seorang da’i sangat dituntut untuk memiliki kesungguhan dalam berda’wah sebab dengan kesungguhan itulah jalan yang licin dan mulus bisa dilalui dengan baik tanpa melakukan penyimpangan atau hal-hal yang tidak wajar dan hal-hal yang tidak menyenangkan bisa dihadapi dengan hati-hati tanpa harus berputus asa.

Manakala seorang da’i telah bisa memiliki kesungguhan, maka dia akan memiliki menanggung segala resiko. Kesungguhan membuat seorang dai akan berjuang dengan sebenar-benarnya, hal ini karena dia memang yakin bahwa Allah berfiman yang artinya: Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan (QS. 22:78).

Dari gambaran diatas. Kita semakin menyadari bahwa da’wah itu tidak hanya semata-mata menyampaikan ajaran Islam, tapi juga ada konsekuensi dari penyampaian itu, yaitu memiliki integritas pribadi seorang da’i yang tidak diragukan. 

Syakhshiyyah da’iyah (kepribadian seorang da’i) inilah yang membuat pesan-pesan da’wah menjadi “berat” dan bisa tenggelam ke dalam lautan hati manusia sehingga dari sinilah umat manusia akan tergerak untuk mewujudkan Islam dalam kehidupan mereka.

Gambar: Google
Jakarta, 27 Rabiul Akhir 1438 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih telah singgah! Semoga kita segera berjumpa lagi. Saya memberi hormat atas dedikasi dan komitmen Anda untuk terus tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Saya menantikan suatu waktu untuk dapat berjumpa dengan Anda suatu hari.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...