Family For Family

Terinspirasi cerita kemuliaan keluarga kaum anshar membantu keluarga muhajirin di Madinah saat hijrah, Pemkot Bandung sedang memulai gerakan sosial sederhana dimana satu keluarga mapan mengasuh satu  keluarga tidak mampu.

Program memiliki konsep kail multidimensi. Anaknya diurus, ibunya diberdayakan, bapaknya dicarikan atau dibantu modal kerja, dll. Hingga suatu hari, keluarga-keluarga tidak mampu ini akan naik derajat menjadi mandiri lahir batin.

Berdasarkan data yang diperoleh, ada 50 ribu keluarga tidak mampu di Bandung, atas izin Allah Pemkot sedang ikhtiar mencari 50 ribu keluarga mapan yang dermawan.

Pemkot Bandung percaya sesungguhnya masalah kemiskinan di negeri ini akan selesai cepat jika masyarakat ikut turun tangan menyelesaikan dengan kesetiakawanan sosial. Inilah definisi masyarakat madani.

Family for Family ini dijalankan oleh SDM anak-anak muda yang mensurvey, mewawancara problem riil, dan membuatkan aplikasi.

Sehingga keluarga asuh bisa cek via handphone, kemajuan bulanan keluarga yang diasuhnya. Kenapa namanya pake bahasa inggris? Menurut Walikota Bandung Ridwan Kamil, karena suatu hari gerakan ini akan mendunia dimana kebaikannya akan lintas batas negara, dan mengikis kemiskinan dunia dengan kemanusiaan. Jadi suatu hari bisa saja keluarga miskin di Suriah diasuh secara virtual oleh satu keluarga mapan di Singapura. Allah  selalu bersama mereka-mereka yang bekerja dan berupaya.

Ada yang mau bergabung?


Sebenarnya, kebiasaan Family For family ini sudah membudaya di masyarakat kita sejak lama. Di keluarga besar saya pun, Kakek dan Nenek ketika di Jakarta  memiliki anak asuh/ keluarga/ Saudara yang di sekolahkan, dikuliahkan, dicarikan pekerjaan. Bahkan ada yang sampai menjadi Kepala Kantor. Saya tidak tahu persis apa yang sudah mereka lakukan, tetapi selama tinggal di Jakarta saya mendapatkan sambutan yang hangat, akses ilmu, wisata, tempat tinggal, dan banyak kebaikan yang tidak bisa saya tuliskan satu per satu.

Yang menariknya apa yang dilakukan oleh Pemkot Bandung tentu memiliki impact yang besar, mengandung daya kejut dan daya jangkau yang lebih luas.
 
Berbicara mengenai kebiasaan berbagi. Sebenarnya Islam menawarkan standar yang lebih tinggi, coba kita baca dan pahami ayat berikut ini,
“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tak membebani seseorang melainkan (sesuai) dengan yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.” (Q.S. At-Talaq(65):  7).

Barangkali ada sebagian orang yang selama ini salah kaprah (kesalahan yang secara umum dianggap tidak salah) bahwa memberi nafkah, bersedekah, berinfak, atau menolong orang yang sangat memerlukan itu hanya perintah untuk orang kaya. Di sinilah sekali lagi kekuatan Wahyu (Al-Qur’an) meluruskan cara berpikir manusia yang seringkali bengkok dalam memandang sesuatu.

Ayat ini luar biasa. Mengapa luar biasa? Sebab, orang yang terbatas rezekinya pun wajib berlatih bersedekah. Dan, kedermawanan memang perlu dilatih. Sifat mulia ini tidak datang ujug-ujug, tiba-tiba. Tentu saja pemberian yang dimaksud sesuai dengan kemampuannya kerena Allah tidak akan membebani seseorang melebihi kesanggupannya.

Luar biasa ajaran Islam yang tertulis pada ayat ini. Orang yang terbatas rezekinya saja dianjurkan untuk melatih dirinya menjadi dermawan. Pengalaman memperlihatkan bahwa sifat kedermawanan, juga sifat-sifat yang baik lainnya, perlu dilatih. Semakin dini (sejak usia kanak-kanak) latihan itu semakin bagus.

Tetapi sayangya, kita melihat di tengah-tengah keluarga dan masyarakat kita. Sikap kedermawanan ini sering kali dibunuh secara tidak langsung oleh orang-orang sekitar. Bagaimana mau bantu orang, jika kita saja tidak berpunya, jangan sok bantu-bantu orang nanti jatahmu berkurang, dan aneka pernyataan yang melemahkan tekad untuk berbagi. Inilah sesungguhnya mental miskin. Selalu merasa kurang dan kurang.

Dari ayat ini kita dapat memahami mengapa tidak sedikit muslim yang kaya sering sulit dimintai sumbangan untuk kemajuan umat. Rupanya, mereka kurang mendapat latihan kedermawanan sejak dini.  Apalagi yang dari kecil memiliki kesulitan ekonomi.

Karena itu, mulai saat ini ayo kita melatih kedermawnan anak atau cucu kita sejak dini. Kelak apabila generasi muda muslim banyak yang sukses dan sekaligus dermawan, kita baru bisa mengumpulkan dana yang cukup untuk membiayai kebangkitan Islam.

Terakhir, kita akan menutup diskusi ini dengan firman Allah,
Sungguh, usahamu memang beraneka macam. Maka, barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan) (QS Al-Lail(92): 4 - 7).

Apa saja usahamu, entah saudagar atau tukang rumput. Jadi menteri atau jadi supir menteri, jadi nelayan  atau nahkoda, jadi petani atau jadi buruh, semuanya adalah lumrah, karena usaha memang bermacam-macam.  Maka di dalam usaha yang bermacam-macam itu, Allah memberikan pedoman untuk keselamatan diri manusia.

Di dalam ayat di atas bertemu tiga syarat yang harus kita penuhi. 

Pertama, suka memberi kepada sesama manusia, suka bederma, menolong orang yang susah. Itulah tanda hati yang terbuka. 

Kedua, Hendaklah takwa selalu kepada Allah, pelihara hubungan dengan-Nya pada malam dan siang hari.

Ketiga, Mengakui adanya nilai-nilai baik di dunia ini, yang terpuji oleh sesama manusia. Kalau ketiganya ini telah dipegang teguh, pemurah, takwa dan menjunjung tnggi kebaikan, diberilah jaminan atau janji oleh Allah.
maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan) (ayat 7)

Artinya akan dilapangkan Allah menghadapi perjalanan hidup, teguh pertalian jiwa dengan sesama manusia, dan teguh pula pertalian jiwa dengan Allah. Dan ilham atau petunjuk akan selalu diberikan oleh Allah, sehingga segala langkah maju di dalam hidup itu tidak ada yang sukar.

Artinya meskipun ada kesukaran terbentang di hadapan, akan ada-ada saja petunjuk Allah untuk mengatasi kesukaran itu.

Melihat kepada jalan yang di gariskan Allah dengan ayat ini, kita diingatkan bahwa kekayaan batin sejati ialah silaturahim dengan masyarakat, takwa kepada Allah dan cinta akan kebaikan.

Bagaimana pendapat Anda, apakah sudah semakin kuat untuk bergabung?

Foto: Rumah Bersama, Cibentang, Kuningan, Jawa Barat, Indonesia.

Jakarta, 27 Rabiul Akhir 1438 H

Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...