Kamis, 23 Februari 2017

Lima Pertanyaan Dalam Novel Rindu Karya Tere Liye Yang Sangat Menyentuh

Novel ini dibuka dengan mukadimah yang unik. Tere Liye menukil fakta sejarah nusantara di tahun 1938. Salah satunya, Indonesia (yang masih bernama Hindia Belanda) mengikuti Piala Dunia di Prancis untuk pertama kalinya. Seterusnya, sosok kapal uap yang akan menjadi saksi seluruh cerita di novel setebal 544 ini mulai digambarkan penulis. Untuk kemudian, Tere Liye menghadirkan satu persatu tokoh-tokoh dalam novel ini.

Bukan hanya berisi tokoh-tokoh yang menarik. Novel Rindu, meski hanyalah potret perjalanan ke Tanah Suci di atas kapal uap milik Belanda, novel ini juga menyajikan beragam konflik yang tidak pernah terduga. Diantaranya tragedi penyerangan kapal oleh bajak laut dari Somalia, kapal yang terancam terkatung-katung di laut lepas, seseorang yang mencoba membunuh Daeng Andipati, serta kasus yang membuat Gurutta di penjara di sel kapal Blitar Holland.

Tere Liye, dalam novel ini, sekaligus menyinggung beberapa isu, diantaranya seputar toleransi beragama. Dikisahkan dalam perjalanan dari Kolombo menuju Jeddah, para kelasi mengadakan perayaan Natal. Sebagaimana yang terjadi di masyarakat tentang polemik Natal bersama dan mengucapkan selamat Natal. Dalam sebuah dialog antara Daeng Andipati dengan Anna, Tere Liye menegaskan makna toleransi dari sudut pandang yang lain.

“…tanpa menghadiri acara itu, kita tetap menghormati mereka dengan baik, sama seperti Kapten Philips yang sangat menghormati agama kita. Pun tanpa harus mengucapkan selamat, kita tetap bisa saling menghargai. Tanpa perlu mencampur adukkan hal-hal yang sangat prinsipil di dalamnya.” (hal. 499)

Di bagian yang lain, Tere Liye juga mengkritisi tentang kisah-kisah takhayul serta beragam pemberitaan hoax yang berceceran di media-media. Di mana diantara kaum Muslimin menelan mentah-mentah berita seputar bayi lahir dengan Al-Quran kecil, bayi lahir bisa bicara, ada asma Allah di awan, dan lain-lain sehingga mereka lupa bahwa mukjizat paling besar ada di rumah mereka. Diletakkan di lemari, di meja, dibiarkan berdebu tanpa pernah dibaca. (hal. 394)

Tiap lantunan misteri kehidupan, pasti akan menjemput tanya. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi jantung dari novel ini. Lima pertanyaan kehidupan yang meraup banyak hikmah diungkap secara apik oleh penulis. Pertanyaan-pertanyaan tentang hakikat penyesalan, kebencian, perpisahan, kecintaan, dan pembuktian. Inilah satu kekuatan dan kelebihan yang dimiliki novel ini.

Pertanyaan pertama berbicara tentang penyesalan. 

Penyesalan Bounda Upe dan suami tercinta. Masa lalu yang ia jalani secara terpaksa, yang semakin lama semakin mengikis rasa bahagianya. Masa lalunya sebagai mantan seorang Cabo (pelacur) yang membayangi dan terus menggerus rona bahagianya. Masa lalu yang membawanya pada penyesalan mendalam, hingga rasa itu memuncak dan menghadirkan tanda tanya besar seiring perjalanan penting dalam hidupnya, “Apa yang akan orang-orang pikirkan jika mereka tahu perihal masa lalunya? Akankah ibadah hajinya kelak diterima?” 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab dengan lugas oleh Gurutta Ahmad Karaeng lewat tiga nasehat sederhana: 

Yang pertama, kita keliru sekali jika lari dari sebuah kenyataan hidup. Yang kedua, kecemasan kita terhadap orang lain itu tidaklah berguna. Hanya kitalah yang tahu persis apakah tawa kita itu bahagia atau tidak. Hal ini tidak relevan dengan penilaian orang lain. Yang ketiga, sebuah haji diterima atau tidak itu hak Allah sepenuhnya. Kita hanya bisa berharap dan takut. Selalu berlaku baik adalah kuncinya. Maka semoga esok lusa, ada satu perbuatan baik yang menjadi sebab dosa kita diampuni.

Tampaknya Penulis menguasai teknik berkomunikasi dengan baik dengan memberikan tiga point jawaban agar mudah diingat oleh orang yang dinasehatinya.

Pertanyaan kedua berbicara tentang kebencian. 

Daeng Andipati, pedagang termashyur pada zamannya yang memiliki kisah memilukan di balik topeng dirinya kini yang nampak berbahagia. Sebuah kebencian mendalam, akan sebuah hubungan yang seharusnya menghadirkan kebahagiaan. Batinnya terus menjerit, meski kisah itu kini hanyalah berupa masa lalu. Ayah yang dibencinya, yang merampas hari bahagianya sedari kecil telah 5 tahun lalu meninggal dunia. Hingga kini muncul pertanyaan yang terus menggentayangi, “Apa yang salah dengan dirinya? Akankah perjalanan suci ini diterima, dengan membawa bongkahan kebencian yang terus membelenggu dirinya?” 

Gurutta Ahmad Karaeng kembali menjadi tokoh yang menandaskan tanya-tanya itu dengan tiga lantunan nasehat: Yang pertama, saat kita membenci orang lain sebenarnya kita sedang membenci diri kita sendiri. Yang kedua, saat kita memutuskan memaafkan seseorang itu bukanlah persoalan orang itu salah atau benar. Kita memutuskan melakukannya karena memang kita layak memperoleh kedamaian dalam hati kita. Yang terakhir, kesalahan itu ibarat coretan pada sebuah halaman kosong. Penghapus secanggih apapun yang digunakan untuk menghapusnya, pasti akan menyisakan bekasnya. Hanya satu yang dapat kita lakukan untuk menghilangkannya, yaitu dengan membuka lembaran kertas putih baru.

Baca selengkapnya bagaimana kisahnya juga untuk menempuh pendidikan tanpa bantuan ayahnya. Dengan bekerja sampingan sambil belajar di negeri orang.

Pertanyaan ketiga berbicara tentang perpisahan 

Salah satu yang menyisakan kepedihan mendalam pada sebuah kebersamaan panjang penuh romantika kehidupan. Perpisahan yang sempat disesali, mengapa harus datang saat puncak dari pundi-pundi bahagia kebersamaan mereka nyaris tergenapi. Ialah Mbah Kakung, yang harus menghadapi kenyataan bahwa sang kekasih hati telah mendahuluinya ke hadapan Ilahi Robbi. Hingga muncul tanya dalam hati, “Mengapa semua itu harus terjadi saat ini?” 

Gurutta Ahmad Karaeng kembali menjabarkan nasehatnya lewat tiga perkara: Yang pertama, Allah memberikan yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Segala hal yang kita anggap buruk, boleh jadi itu baik untuk kita. Begitupun sebaliknya. Kita hanya bisa menerimanya dengan lapang hati. Yang kedua, biarkan waktu yang mengobati kesedihan itu. Ketika kita tidak tahu harus melakukan apalagi, maka itulah saatnya untuk membiarkan waktu menjadi obat terbaik. Yang ketiga, mulailah memahami kejadian ini dari sudut pandang yang berbeda. Lihatlah dari genapnya amal Mbah Putri di dunia, tidak dari satu sudut pandang saja. Apalagi waktu sholatlah yang menjadi akhir dari perjalanan hidupnya.

Pertanyaan keempat berbicara tentang kecintaan.

Kecintaan seorang pemuda yang menyukai seorang gadis bertahta, namun takdir tidak kunjung merestui kebersamaan mereka. Ialah Ambo Uleng, pemuda yang terus lari dari kehidupannya hanya untuk pergi dari rasa cintanya yang mendalam. Namun semakin ia pergi, bayang itupun semakin menghampiri. “Lalu, apakah ini yang disebut dengan cinta sejati?” 

Gurutta Ahmad Karaeng kembali menuntaskan tanya tersebut dengan jawaban sederhana: Yang pertama, cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, semakin tulus kau melepaskannya. Jika wanita itu adalah cinta sejatinya, maka ia pasti akan kembali dengan cara yang mengagumkan. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu (Hal 492). Cinta yang baik selalu mengajari kau agar menjaga diri, tidak melanggar batas, tidak melewati kaidah agama. (Hal 493)

Yang kedua, jika harapan itu tidak kunjung terwujud, maka teruslah memperbaiki diri, dan sibukkanlah diri dengan belajar. Sekali kita mampu mengendalikan harapan dan keinginan memiliki, maka sebesar apapun wujud kehilangan, kita akan siap menghadapi.

Pertanyaan kelima berbicara tentang pembuktian. 

Pembuktian akan adanya iman yang menyala-nyala dalam menegakkan keyakinan dalam hati. Pembuktian akan kuatnya cinta, namun sejauh ini masih terbatas pada doa dan kata-kata saja. Di sana, komitmen juang pun dipertanyakan. 

Pertanyaan kelima justru berasal dari Gurutta Ahmad Karaeng yang sejak awal menjadi sumber penawar gejolak jiwa para tokoh justru menjadi penutup dari tanya-tanya itu. Ambo Uleng, yang dangkal ilmunya, seketika paham. Dia pulalah yang menjawab pertanyaan Gurutta Ahmad Karaeng, "Haruskah ada yang terluka?" Kita tidak akan bisa meraih kebebasan tanpa peperangan, jawab Ambo sederhana. 

Pertanyaan ini sebagai buah dari peristiwa menegangkan yang terjadi di dalam kapal di penghujung jalan cerita novel ini. Sebuah perompakan kapal besar "Blitar Holland" oleh perompak dari Somalia. Hingga akhirnya sebuah strategi jitu perlawanan yang dicetuskan Ambo Uleng berhasil menyelamatkan kapal dari insiden perompakan. Kejadian itu sekaligus pembuktian akan jati diri Ambo sebagai pelaut berpengalaman dan tangguh, bukan pemuda diam tak punya semangat hidup, demikian pandangan orang lain yang mengenal Ambo di dalam kapal. Bagi Gurutta Ahmad Karaeng, hal ini juga sebagai pembuktian dari kutipan kajian yang pernah ia kumandangkan di atas kapal, bahwasanya kita tidak bisa melawan kemungkaran hanya dengan benci dalam hati atau ucapan-ucapan lembut saja.

Jakarta, 26 Jumadil Awal 1438 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih telah singgah! Semoga kita segera berjumpa lagi. Saya memberi hormat atas dedikasi dan komitmen Anda untuk terus tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Saya menantikan suatu waktu untuk dapat berjumpa dengan Anda suatu hari.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...