Rabu, 30 Agustus 2017

Hikmah dari Tragedi Masjid Ahmad Bin Hambal

Surat Terbuka Untuk Akhil Karim Yazid Jawas Hafizhahullah

Assalamu 'alaikum.warohmatullohhi Wabarokatuh

Ribuan umat Islam hari ini, khususnya dari kalangan NU berdemo menuntut Pemda Bogor agar Masjid Ahmad Bin Hambal yang dipimpin Ustadz. Yazid Jawaz dari kelompok Salafi Roja' ditutup dan dibekukan proses perijinannya.

Wali Kota Bogor Arya Bima seperti terlihat dalam video di bawah ini menyampaikan kepada para pendemo, demi menjaga kesatuan Ummat pemerintah Kota Bogor segera memproses pembekuan IMB Masjid Ahmad Bin Hambal.

Rabu, 23 Agustus 2017

Cara Berbakti Kepada Orang Tua di Perantauan



Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan). Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. (Imam Syafi’i)
Ada yang bertanya kepada seorang Ustadz. Bagaiamana caranya saya berbakti kepada orang tua di perantauan. Sedangkan orang tua menyuruh saya merantau?

Bagi Anda yang sedang merantau saat ini tentu pertanyaan ini mewakili semua hamba Allah yang sedang hidup di perantauan.

Sang Ustadz Menjawab "jika orang tua yang meminta engkau merantau. Maka bentuk kebaktiaan engkau kepada orang tua adalah engkau merantau dan jangan berkhianat". 

"Apa Tujuan orang tua mu menyuruhmu merantau?" Sang Ustadz berbalik bertanya

"Agar paling tidak engkau mendapatkan manfaat dari perantauanmu. Baik berupa harta, ilmu yang bermanfaat, amal sholeh. Maka jangan sampai anak merantau dan berkhianat kepada orang tuanya". Tegasnya  Ustadz Menjawab pertanyaannya sendiri.

***

Bagaimana cara anak berkhianat kepada orang tuanya?

Pengaruh Menyusui terhadap Masa Depan Anak

Konon, para wanita zaman dulu, saat hendak menyusui bayi mengucap basmalah seraya menyusuinya dengan niat agar anaknya menjadi orang besar di kemudian hari. pahlawan pemberani, ilmuwan handal, pemimpin cerdas.. Makanya kakek moyang kita adalah orang-orang besar.

Sementara kebanyakan wanita zaman sekarang menyusui anak-anak mereka dengan niat supaya mereka tidur. Maka jadilah kebanyakan umat tertidur.

Baca juga; Manfaat Asi bagi Tumbuh Kembang Anak

Solusinya? Ketika sedang menyusui perdengarkan hal-hal yang baik di telinganya, seperti bacaan Al-Qur'an, sholawat, doakan ia. bahkan ajaklah ia berbicara. Suasana kebatinan yang dialami oleh seorang ibu  bisa dirasakan oleh seorang anak dengan baik.

Sekarang masikah kita menyusui anak dengan tujuan agar mereka tertidur?

Baca juga: Education In Perspective of Learning and Memory Neurosciences.

Photo Credit: Kabarmekkah

Jakarta, 1 Dzulhijjah 1438 H

Selasa, 22 Agustus 2017

Daya Tarik Seorang Mukmin

Tertariknya bangsa Arab jahiliyyah kepada Islam adalah takkala mereka melihat Al Qur'an yang berjalan pada Rasulullah Muhammad shalaullohhu 'alaihi Wassalam.

Akhlaq yang agung terpancar dari Al Qur'an yang diterapkan Rasulullah Muhammad shalaullohhu 'alaihi Wassalam dalam kesehariannya.

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِين رَءُوفٌ رَحِيمٌ (128)

"Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keamanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin". (QS At-Taubah: 128)

Maka fokuslah kaum muslimin mendidik dirinya, mewarnai dirinya sehingga menjadi ratusan, ribuan, jutaan Al Qur'an yang berjalan.

Selayaknya generasi Al Qur'an yang menerapkan Al Qur'an dalam hidupnya, membentuk dirinya membangun keluarga dengan Al Qur'an pastilah menjadi dambaan masyarakat jahiliyyah modern.

Keindahan keluarga Al Qur'an, masyarakat Al Qur'an menjadi daya tarik dan magnet di tengah jauhnya manusia dari nilai fithrahnya Islam.

Maka Rasulullah Muhammad saw dan para sahabat yang merasakan nikmat Islam yang luar biasa dalam kehidupan mereka perhatian penuh menyampaikan dan menyebarkan Islam kepada manusia.
Mulai dari keluarga, sahabat mereka, tetangga, dan setiap pendatang dari luar kota.

9 Amalan Utama di Bulan Dzulhijjah

Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Demikian sabda nabi.

Dengan nama Allah yang Maha Pengaih Lagi  Maha Penyayang

Tahukah Anda sahabat saat ini kita sudah memasuki penghujung bulan Dzulqoidah. Emangnya kenapa? Artinya kita sebentar lagi memasuki bulan dzulhijjah. Ada apa di bulan dzulhijjah? Silahkan baca : Ada apa dengan Dzulhijjah?

Sahabat, tahukah kita bahwa dari tanggal 1-10 Dzulhijjah plus hari tasyrik adalah hari-hari yang sangat dicintai Allah. Tiada hari yang bisa mengalahkannya kecuali 10 hari terakhir di bulan suci romadhan. So? Amalan yang dikerjakan saat itu sangat berharga di sisi Allah.

Sabtu, 19 Agustus 2017

7 Penyebab Lemahnya Iman dan Solusi mengatasinya

Hidup ini bukan tentang kaya atau miskin sahabat, sakit atau sembuh, tapi tentang bersyukur dan bersabar sepanjang hidup.

Tahukah kita bahwa salah satu tipuan setan adalah membuat orang beragama bukan karena kebutuhan tapi beragama secara musiman. Ketika bulan romadhan orang berbondong-bondong ramai ke masjid, berlalunya romadhan kian sepilah masjid. begitu juga ibadah Haji, di Mekkah dan Madinah gemar ke masjid. setelah tiba di rumah masjid di samping rumah tidak lagi sempat dihampiri.

Ingatlah sahabat, perbuatan baik itu tergantung dengan niat dan awalnya adalah ilmu. Ilmulah yang memupuk iman, ilmu juga yang memberikan kita pemahaman tentang keutamaan dan bahaya yang akan menimpa di kehidupan kita yang akan datang (akhirat).

Tapikan orangnya rajin ke majelis ilmu? sering ngaji? Kenapa masih lemah imannya? Pertanyaan ini sering saya dengar, lihat, dan rasakan secara langsung. Mungkin bisa saja ilmunya sama, gurunya sama, tapi setiap orang memiliki wadah yang berbeda. Wadah itulah yang menentukan seberapa baik ia menyerap dan mengamalkan ilmu yang ia dengar. Apa wadah itu? Hati. Luruskan niat sebelum belajar itu kunci keberkahan dan masukknya ilmu ke sanubari. Selengkapnya baca: Bila Hati Bercahaya.

Kenapa semua itu bisa terjadi? Mari kita bahas ketujuh faktor penyebabnya. Dengan mengetahui sebabnya semoga Allah berikan kita kekuatan untuk mencegahnya.

Senin, 14 Agustus 2017

Menjauhi Prasangka



“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Hujurat: 12)

Akhir-akhir ini masyarakat selalu disuguhkan tontonan yang bisa mengarah menjadi tuntunan yang kurang mendidik. Saling  curiga mencurigai  antara masyarakat dan pemerintah. Bahkan ada kecenderungan pemerintah yang mencurigai masyarakat.

Sejumlah kasus makar, beras maknyus, pembubaran ormas, bahkan media republika pagi ini pemerintah akan membubarkan ormas yang masih dirahasiakan namanya.

“Wahai Orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan daripada prasangka.”

Apa itu prasangka? Menurut Buya Hamka dari tafsirnya Al-Azhar. Prasangka ialah tuduhan yang bukan-bukan perasangkaan yang tidak beralasan, hanya semata-mata rahmat yang tidak pada tempatnya saja. “karena sesungguhnya sebagian daripada prasangka itu adalah dosa”. Prasangka adalah dosa karena dia adalah tuduhan yang tidak beralasan dan bisa saja memutuskan silaturahim di antara dua orang yang barbaik.

Bagaimana perasaan yang tidak mencuri lalu disangka orang bahwa ia mencuri, sehingga sikap kelakuan orang yang telah berlainan kepada dirinya. beras yang bagus dibilang beras subsidi, kutuan, tapi di jual sebagai beras premium. Orang yang terhormat dibilang melakukan tindak kejahatan.

Rosululloh sangat mencegah perbuatan prasangka yang sangat buruk itu dengan sabdanya,

“sekali-sekali janganlah kamu berburuk sangka karena sesungguhnya buruk sangka adalah perkataan yang paling bohong. Dan janganlah kamu mengintai-ngintai dan janganlah kamu merisik-risik dan janganlah kamu berganding-gandingan dan janganlah kamu berdengki-dengkian dan janganlah kamu berbenci-bencian dan janganlah kamu berbalik-belakangan dan jadilah kamu seluruh hamba Allah bersaudara” (HR. Bukhori)

Dan sabda Rasululloh pula,

“Tidaklah halal bagi seorang islam untuk menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari" (HR. Muslim)

Dan Sabda Nabi,

“Tiga macam membawa krisis bagi umatku memandang kesialan, dengki, dan jauh sangka.” (Hr.  Ath-Thabarani)

Suatu hadist lagi yang patut dipikirkan oleh orang-orang islam yang memegang jabatan pemerintahan, sabda Rasululloh sholaullohhu ‘alaihiwassalam,

“Apabila engkau buntuti aurat manusia (kesalah-kesalahan mereka), niscaya engkau telah merusakkan mereka atau nyarislah engkau merusakkan mereka”. (Hr. Abu Daud)

 “Sesungguhnya seorang pemegang pemerintah apabila dia telah suka menaruhkan ragu-ragu kepada manusia, niscaya dirusakkannyalah manusia itu.” (Hr. Abu Dawud)

Artinya bahwa orang-orang yang memegang kuasa jangalah lekas cemburu kepada rakyat yang dia perintah. Apabila dia telah memulai cemburu, mulai banyak pulalah badan badan penyelidik, atau yang di zaman modern ini disebut intelejen. Dengan banyak menanam intelijen itu, menurut nubuwwah daripada Rasululloh sendiri, bukanlah si penguasa tadi hendak berbuat baik kepada rakyatnya, melainkan cemburulah yang disebarkannya. Apabila cemburu telah mulai tumbuh dalam satu negara, tanda mulailah kerusakan datang ke negeri itu.

Pendapat Buya Hamka dalam tafsirnya tampak kontekstual dengan kondisi yang kita alami di negeri ini. sebuah kecemburuan yang mengakibatkan tidak sedikitnya kasus selidik menyelidiki lawan politik bahkan orang yang dianggap bisa menghambat jalan seseorang menuju panggung kekuasaan. Niat baik menciptakan perdamian malah berubah mencari saling curiga di tengah masyarakat.

Maka di dalam hadist yang telah kita tuliskan di atas tadi telah mulailah tersebut tajassasu yang berarti  mengintip-ngintip, badan penyelidik; dan tahassasu yang berarti badan merisik-risik, meraba-raba mencari-cari. Kian lama kian banyak tukang selidik, tukang raba ini diangkat. Orang-orang ini takut kalau sedikit berita yang disampaikan ke atas, mereka tidak akan mendapat pujian. Sebab itu selalulah mereka melapor, sampai yang kecil sebesar sampah dibuat dalam laporan sebesar gunung.

Orang berkumpul berbisik-bisik bertiga, dilaporkan ke atas bahwa ada rapat gelap orang mau berontak (istilah kekinian MAKAR). Kian hari kian banyaklah perkabaran demikian, sehingga kian hari cemaslah pemegang pemerintahan terhadap rakyat dan kian sehari pula kian hilang kepercayaann mereka kepada rakyat. Akhirnya banyaklah timbul penangkapan dan tuduhan. Setelah diperiksa dengan seksama, ternyata bahwa laporan itu tidak betul, laporan palsu.

Mungkin masih segar dalam ingatan masyarakat terkait kasus makar yang ditujukan kepada beberapa tokoh. Yang akhirnya terbukti tidak bersalah dan dibebaskan. Dampak dari penangkapan itu, beberapa tokoh tetap istiqomah dalam menyerukan kebenaran, sebagian lagi tampak terdiam dan beralih ke isu lain yang lebih aman.

Rakyat banyak bertambah takut, sesudah tak bertambah hilang kepercayaan kepada pemerintah. Mereka seakan-akan dipaksa mesti cinta kepada pemerintah. Padahal tidaklah ada suatu cinta paksaan yang murni! Itulah kata Rosululloh tadi; Afsadat-hum!  Artinya: pemerintah sendiri yang merusakkan rakyatnya!

“Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain”.  Mengorek-ngorek, kalau-kalau ada si anu dan si fulan bersalah, untuk menjatuhkan maruah si fulan di muka umum. Sebagaimana kebiasaan yang terpakai dalam kalangan kaum komunis sendiri apabila mereka dapat merebut kekuasan pada satu negara. Segala orang yang terkemuka dalam negara itu dikumpulkan “sejarah hidupnya”, baiknya dan buruknya, kesalahannya yang telah lama berlalu dan yang baru, jasanya dalam negeri dan perlawatannya ke mana saja.

Di beberapa media nasional kita tidak perlu heran jika sekelas Pak Dahlan Iskan yang sudah mapan secara ekonomi dan terbukti integritasnya masih di jerat kasus yang bisa mencemarkan nama baiknya. Belum lagi ada kasus Ibu Siti Fadilah yang membela tanah airnya dengan tidak memberikan vaksin kepada negara tertentu malah menjadi tersangka di KPK. Setiap pejabat publik seolah terjerat dengan masa lalu dan tinggal tunggu tanggal mainnya saja untuk di bongkar masa lalunya. Ini tontonan yang kurang mendidik yang dilakukan oleh aparatur negara.

Sampai juga kepada segala kesukaannya, baik kesukaan yang terpuji maupun yang tercela. Maka orang yang dianggap perlu untuk dipakai bagi kepentingan negera, segeralah dia dipakai dengan berdasar kepada “sejarah hidup” itu. Tetapi kalau datang masanya dia hendak didepak dan dihancurkan, akan tampillah ke muka orang-orang yang diperintahkan buat itu, lalu mencaci maki orang itu dengan membuka segala cacat dan kebobrokan yang bertemu dalam sejarah yang telah dikumpulkan itu.

“dan janganlah sebagian kamu mengunjing sebagian yang lain”. Menggunjing ialah membicarakan aib dan keburukan seseorang sedang dia tidak hadir, sedang dia berada ditempat lain. Hal ini kerap kali sebagai mata rantai dan kemunafikan. Orang asyik sekali membongkar rahasia kebusukan seseorang ketika seseorang itu tidak ada. Tiba-tiba saja, dia pun datang maka pembicaraan pun terhenti dengan sendirinya, lalu bertuar sama sekali dengan memuji-muji menyanjung menjunjung tinggi. ini adalah perbuatan hina dan pengecut. Dalam lanjutan ayat dikatakan,

“Apakah suka seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?” artinya, bahwasannya membicarakan keburukan seseorang ketika dia tidak hadir, samalah artinya dengan memakan daging manusia yang telah mati, tegasnya makan bangkai yang busuk. Begitulah hinanya! Kalau engkau seorang manusia yang bertanggung jawab, mengapa engkau tidak mau mengatakan di hadapan orang itu terus terang apa kesalahannya, supaya diubahnya kepada yang baik?

“dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allaa adalah penerima tobat, lagi maha penyayang”. (Ujung ayat 12)

Artinya, jika selama ini perangai yang buruk ini ada pada dirimu, mulai sekarang segeralah hentikan dan bertobatlah daripada kesalahan yang hina itu disertai dengan penyesalan dan bertobat. Allah senantiasa membuka pintu kasih sayang-Nya, membuka pintu selebar-lebarnya menerima kedatangan para hamba-Nya yang ingin menukar peruatan yang salah dengan perbuatan yang baik, kelakukan yang durjana hina dengan kelakukan yang terpuji sebagai manusia yang budiman.

Saya yakin diantara yang jahat, di antara pejabat negara masih ada orang-orang yang bersih, memiliki komitmen yang tinggi untuk menegakkan kebenaran. Walaupun jabatan dan nyawa menjadi taruhannya. Semoga pihak-pihak yang berwenang dapat memberikan contoh dan teladan yang baik bagi masyarakat. sehingga kedamaian dan keharmonisan hadir di tanah air Indonesia.

Photo  Credit: wajibbaca.com

Jakarta, 21 Dzulqoidah 1438 H

Secara garis besar tulisan ini diadopsi dari Tafsir Al-Azhar Jilid 8 Karya PROF. DR. Hamka (2015). Jakarta: Gema Insani. Hal. 428-429


Selasa, 08 Agustus 2017

Kekuatan Niat dan Cita-cita

Biasakanlah berniat dan bercita-cita yang baik, dengan begitu kamu akan meraih kesuksesan dalam setiap usahamu.

Ada sebuah ungkapan yang menyatakan niatnya seorang mukmin itu terkadang lebih baik dari amalnya. Karena dengan niat yang kuat walaupun seseorang belum jadi/ terhalang beramal bisa jadi ia mendapatkan pahala atas niatnya. Tetapi orang yang beramal tanpa niat yang baik/ benar maka sia-sialah amalnya.

Membaca, menghafal, dan mendengar setoran hadist pertama di kitab Arbain Imam Nawawi selalu memberikan perspektif baru tentang kehidupan yang kita jalani. Jika kita sedang lemah dan lesu menjalani aktifitas coba tanya apa niat kita melakukannya? Jika kebaikan kita tidak dianggap orang, coba tanyakan kepada diri sendiri, apa niat saya?

Sahabat, tahukah kita. Bisa jadi penolakan, tidak dianggapnya kebaikan yang kita lakukan di mata orang lain adalah salah satu sarana latihan untuk menjadikan kita beramal/ bekerja semata-mata untuk Allah ta’ala.

Mendidik Anak dari Rumah

Secara umum ada tiga ekosistem pendidikan anak yaitu masyarkat, sekolah, dan keluarga. Hari ini kita melihat bagaimana sekolah belum maksimal melahirkan anak-anak yang unggul dari segala sisi dimensi manusia. 

Mencari lingkungan yang baik pun di rasa sulit di tengah gempuran budaya pop yang tidak menentu. Keluarga sekali lagi ada benteng terakhir untuk menyelamatkan anak dari mara bahaya di masa depan. Baik untuk dunia maupun akhiratnya.

Mari kita simak kisah dari seorang ayah yang berani mengambil keputusan berat dan penuh resiko demi mempersiapkan generasi emas di masa yang akan datang. Cerita ini saya ambil dari kisah Bapak Muhammad Setiawan.

Senin, 07 Agustus 2017

Kisah Sukses Aa Gym : Dakwah dan Bisnis

“Kalau kita mau sukses, kunci pertama adalah jujur, dengan bermodalkan kejujuran, orang akan percaya kepada kita. Kedua, professional. Kita harus cakap sehingga siapapun yang memerlukan kita merasa puas dengan yang kita kerjakan. Ketika, inovatif, artinya kita harus mampu menciptakan sesuatu yang baru, jangan hanya menjiplak atau meniru yang sudah ada.” K.H. Abdullah Gymnastiar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...