Rabu, 25 April 2018

Mengimani Takdir dengan Sepenuh Jiwa


Hidup membawa berbagai warna dan rasa dalam kehidupan manusia. Hampir semua manusia merasakan semua variasi kehidupan. Berbagai musim sudah kita lewati dengan suasana yang beragam. Mungkin saat ini kita sedang menikmati musim yang berbeda. Setiap orang menyikapi pergantian musim dengan cara yang berbeda pula.

Saudaraku, beriman kepada takdir adalah salah satu ilmu penting agar kita lebih tenang menjalani hidup. akan tetapi, ternyata kekuatan itu selama ini belum dipahami sepenuhnya oleh umat muslim, sehingga muncul banyak pertanyaan, kebingungan yang tidak berdasar, puncaknya buruk sangka terhadap ketetapan Allah.

Lalu, apa yang harus diketahui oleh seorang muslim terkait beriman kepada takdir?

Selasa, 24 April 2018

Cara Memperkuat Jiwa


Beberapa waktu yang lalu, kita sudah membahas tentang Janji Ilahi dan Pengaharapan.  Sebagai umat Nabi Muhammad shalaullahhu 'alaihi wassalam, kita tidak boleh putus asa. Untuk mendapatkan warisan yang dijanjikan Allah tentu kita harus memperkuat jiwa dalam memikul syaratnya. untuk menguatkan pribadi menghadapi segala kesulitan dan penderitaan mencapai tujuan itu, hendaklah selalu jiwa dikuatkan, sehingga tahan kena badai dan iman serta amal saleh itu tidak luntur.

Bagaimana cara memperkuat jiwa itu?

Bukankah Jodoh sudah digariskan, Mengapa Masih Sendiri?


Salah satu ikhwah bertanya kepada Ustadz Oemar Mita, beliau menyampaikan selama ini beliau sudah berproses untuk mencari jodoh. Tetapi jodoh belum datang dan belum bertamu dalam kehidupannya. Bagaimana menyikapiya? Padahal semua ikhtiar sudah beliau berikan untuk mendapatkan jodoh.

Yang pertama, sebelum menyampaikan jawaban, Ustadz Oemar Mita, Doa kita semoga yang bertanya, semoga Allah mempertemukan beliau dengan jodoh untuk menghabiskan waktu bersamanya di sisa waktu hidupnya.

Hal penting yang harus dipahami adalah kita beriman bahwasannya takdir itu telah ditentukan oleh Allah, 50 .000 tahun sebelum kita hidup dan 50.000 sebelum langit dan bumi dicipatakan, Allah telah menetapkan banyak kehidupan kita dengan berbagai takdir yang Allah tetapkan. Bagian dari takdir itu, Allah mengerti kapan Allah memberikan kepada kita, kapan waktunya?

Ingat!  Allah tidak pernah salah menempatkan waktunya dan memilih waktunya. Serta memilihkan siapa yang layak bersama dengan kita.

Kalau hari ini Anda sudah berproses dan berikhtiar untuk mendapatkan jodoh, tetapi jodoh itu juga belum nampak di pelupuk mata Anda dan belum hadir di teras kehidupan Anda. Maka yang harus Anda pahami, pasti ada hikmahnya.

Allah itu tidak mungkin salah di dalam memilih waktu. Layaknya mereka yang pintar tidak salah memilih waktu ketika mereka ahli dalam suatu perkara. Allah itu mustahil salah di dalam memlih waktu. Makanya, Anda ketika hari ini belum menjumpai mereka yang akan menjadi jodoh Anda. Berarti waktunya Anda harus bersabar. Karena waktu dihadapan Anda dengan waktu dihadapan Allah itu berbeda. Dan kita hanya berprasangka yang baik.

“Sesungguhnya Allah belum memberikan jodoh kepada seseorang, karena Allah ingin memberikan sebuah hikmah”

Mungkin hikmahnya inilah yang harus kita gali:

Pertama,  Mungkin Allah menginginkan supaya Anda bertambah dekat kepada Allah

Jadi Allah ingin Anda banyak bersujud, banyak berdoa kepada-Nya. Dengan doa-doa itu menambah kebaikan Anda. Dan Allah semakin memberikan jodoh yang terbaik untuk Anda.

Kamis, 19 April 2018

Amalan Kecil dan Bermanfaat, Agar Dunia Mengejarmu


Daripada sibuk mengejar dunia, lebih baik sibuk mengejar Allah. Sehingga Dunia yang akan sibuk mengejar-ngejar kita.

Tarikan dunia inilah salah satu faktor yang membuat seseorang gagal untuk berhijrah. Makanya kita seharusnya selalu meminta perlindungan kepada Allah agar dunia tidak menarik kita sampai menjerumuskan kita kepada kelalaian.

Sehingga kita jauh dari cahaya iman dan takwa. Jauh dari rahmat dan cinta Allah. Oleh karena itu, penting sekali untuk membekali generasi muda mulai dari sangat dini untuk mengenal Rabbnya dengan baik. Karena faktanya, orang dewasa banyak yang terseret arus deras dunia. Akhirnya, mengabaikan penciptanya.

Lalu solusinya apa?

Selasa, 17 April 2018

Janji Ilahi dan Pengharapan


Perbincangan delapan mata yang kami lakukan malam itu sangat berkesan hingga saat ini. Satu hal yang selalu beliau ajarkan adalah untuk meluangkan waktu mengamati perkembangan keadaan sosial masyarakat, khususnya dalam media.  Tentu dengan dosis yang pas ya. Karena membaca Al-Qur’an sudah tentu wajib, mentadabburi, mengamalkan, dan mendakwahkannya.

Mengapa ini penting? Tentu fenomena yang terjadi di tengah-tengah umat ini kita harus carikan solusi dan sudut pandang yang tepat. Kami malam itu berbicara tentang kondisi negeri ini dan bagaimana cara yang tepat menyikapinya.

Saya memahami dengan baik, di tengah kondisi yang dianggap sebagian orang tahun politik saat ini. Kita tanpa sadar di bawah untuk saling membenci, saling menghujat, akhirnya terprovokasi tanpa sadar. Kecuali hamba-hamba Allah yang mendapatkan bimbingan dan hidup di bawah naungan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Faktanya di lapangan, sebagian masyarakat mudah termakan isu yang di jual oleh musuh-musuh islam yang tidak sedang dengan kemajuan islam. Saat itulah, dalam menyikapi gejolak yang terjadi di tengah masyarakat, ada yang terlalu ekstrem menyikapi dengan berlebihan dan ketakutan dan ada juga yang tidak peduli sama sekali dengan kondisi bangsa. Merasa bahwa bangsa ini akan aman dan terus ada sampai hari kiamat. 

Baca juga: Moral dan Peradaban Menurut Ibnu Khaldun

Bagaimana menyikapinya?

Senin, 16 April 2018

Perbincangan Delapan Mata


Cuaca saat itu sangat terik. Jalanan penuh dengan berbagai pemandangan unik dan menarik untuk dinikmati. Sambil menikmati audio motivasi dan ditemani buku bacaan saya sangat menikmati perjalanan menggunakan bus transjakarta. Ini adalah salah satu keputusan yang saya buat 2 tahun yang lalu ketika mendapatkan tugas belajar di Ibukota Negara.

Ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan hari itu, seminar yang harus saya ikuti, dan janji yang harus saya penuhi. Salah satunya adalah pertemuan dengan sosok yang tidak lagi asing di mata dan sanubari saya. Ia yang menjembatani saya untuk lebih merasakan manisnya iman, nikmatnya menjadi seorang mukmin sejati, mengenalkan kepada Robb yang Maha Memelihara, Maha Mendidik, dan Maha Memberi Rezeki.

Sabtu, 14 April 2018

Selamat dan Bertumbuh menjadi Konsumen Cerdas di Era Digital


Mari kita awali tulisan ini dengan sebuah pertanyaan, siapakah yang hidupnya ingin berubah dan bertumbuh setiap harinya? Adakah yang aktivitas hariannya sama hampir setiap harinya? Jika pertanyaan pertama, kita menjawab ya dan pada pertanyaan kedua kita menjawab sama. Ternyata inilah sebuah kontradiksi antara keinginan dan realita. Karena tidak akan ada perubahan dalam hidup, jika kita selalu melakukan hal yang sama. Begitu juga dengan menjadi konsumen cerdas di era digital.

Tahukah Anda, Pertumbuhan social media di sisi jumlah pengguna juga menarik disimak. Statista.com memprediksi tahun 2021, jumlah pengguna media sosial di seluruh dunia akan mencapai 3,02 miliar pengguna, atau setara dengan sepertiga jumlah populasi dunia.

Dalam konteks indonesia ada sekitar 132 juta pengguna internet di Indonesia. Ini angka yang sangat funtastik. Sementara hampir setengahnya adalah penggila media sosial atau berkisar di angka 40%. Dan angka ini meningkat lumayan dibanding tahun 2016. Di tahun 2017, Tetra Pak Index mencatat ada lebih dari 106 juta orang Indonesia menggunakan media sosial setiap bulannya. Bayangkan 106 juta orang. Dimana 85% diantaranya mengakses sosial media melalui perangkat seluler.

Berlakulah Adil , Walau Pada Dirimu Sendiri !


Salah satu pesan khotib yang disampaikan dalam setiap jum'at salah satunya adalah Allah memerintahkan kita untuk bersikap adil dan ihsan. Salah satu tema yang jarang dimaknai dan dilaksanakan dengan baik oleh sebagian besar umat Islam, bahkan orang yang sering mengucapkan kata adil. Seperti yang kita tahu, Islam datang untuk menegakkan keadilan di bumi Allah. 
 
Allah menjelaskan bahwa tujuan diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab suci adalah demi terwujudnya keadilan diantara manusia.
 لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

“Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil.” (QS.Al-Hadid:25)

Saudaraku, salah satu kekeliruan yang sering terjadi ketika kita mendapatkan ilmu atau pencerahan adalah kita selalu mengukur dan menakar kesalahan orang lain dengan ilmu yang kita miliki. tentu ini tidak salah, akan tetapi  hendaknya kita juga harus ingat bahwa yang wajib mengamalkan ilmu itu adalah diri kita sendiri.
 
Sering kita menuntut keadilan pada hal-hal yang berkaitan dengan diri kita. akan tetapi, jika kita mau berkata jujur kepada diri sendiri.  jawablah dua pertanyaan berikut:

Apakah saya sudah berlaku adil kepada diri sendiri?

Apakah kita sering acuh bahkan berbuat dzalim pada urusan yang berkaitan dengan orang lain?

Artinya, Islam mengajarkan untuk menegakkan keadilan walau dengan menyalahkan dirimu sendiri. Dengan demikian, semoga keadilan yang kita tegakkan kepada diri kita sendiri. maka akan mewujud dan menyebar luas di tengah masyarakat karena kita menjadi sosok yang benar-benar patut di contoh.

Mengapa?

Karena sikap dan tindakan seseorang yang berlaku adil, lebih banyak memberikan inspirasi dan menggerakkan orang lain daripada puluhan retorika.

Kamis, 12 April 2018

Kebijakan Pemimpin Bangsa


Sahabat, adakah diantara kita yang bercita-cita menjadi seorang pemimpin? Tentu pemimpin-pemimpin dunia mengasa jiwa kepemimpinannya tidak dalam satu malam. Jika berbicara pemimpin, tidak selalu identik dengan pimpinan. Karena banyak orang yang mendapatkan jabatan sebagai pimpinan suatu perusahaan,  pemerintahan, tetapi mereka tidak benar-benar memimpin.


Mungkinkan ada rakyat yang tidak mencintai pemimpinnya? Atau pemimpin yang tidak mencintai rakyatnya?

Ada suatu uangkapan yang belum lepas dari ingatakan saya beberapa tahun yang lalu. Kalimat ini diucapkan oleh Ridwansyah Yusuf Achmad, seorang mahasiswa dan aktivis dakwah dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ketika kami bertemu di Ambon.
“Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnya, akan tetapi Anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya.”
Ada cerita yang tercecer dalam perjalanan hijrah Nabi Muhammad saw dari Makkah ke kota Yatsrib yang kemudian dikenal dengan al-Madinah al-Munawarah.

Nabi Muhammad shalaullahhu ‘alaihi wassalam yang dalam perjalanan itu didampingi oleh tiga orang, yaitu  Abu Bakr as-Shiddiq radhiallahhu ‘anhu, seorang hamba sahaya milik Abu Bakr radhiallahhu ‘anhu yang bernama Amir bin Fuhairah, dan seorang penunjuk jalan non muslim yang bernama Abdullah bin Uraiqit, bermaksud membeli bahan makanan di sebuah kedai milik seorang wanita tua bernama Ummu Ma`bad.

Selasa, 10 April 2018

Membangun Kebesaran Hidup (2)


Bagaimana kabarnya hari ini sahabat?

Baiklah, sahabat. Mari kita lanjutkan pembahasan kita kemarin. Masih ingat? Ya, yang berlalu biarkan berlalu, ambil pelajaran dari setiap episode kehidupan yang pernah kita lewati.

Simak dan perhatikan pesan ini baik-baik, tidak ada satu pun kejadian yang terjadi, melainkan semua atas izin Allah dan tidak ada satu pun yang terjadi menimpa kita, melainkan pasti untuk membuat kita menjadi lebih baik, lebih kuat, lebih sabar, lebih halus perasaan kita, dan semuanya bermuara agar kita semakin dekat dan kembali kepada-Nya.

Mengapa ini penting? Agar ringan langkahmu, ringan rezekimu, dan sehat badanmu. Karena banyak orang yang sakit hari ini karena memendam dendam, kebencian, ketidakterimaan atas takdir yang telah berlalu.

    Baca juga: Membulatkan Tekad

Sejauh apa pun engkau melangkah dan berpetualang, jika perasaanmu masih berada di tempat yang sama. Maka seindah apa pun pemandangan yang engkau nikmati, maka Anda akan tetap merasakan hal yang sama. Oleh karena itu, tidak ada cara terbaik kecuali mengiklaskan dan menerima ketentuan dari-Nya. Lalu, kita akan siap memasuki langkah selanjutnya,

Senin, 09 April 2018

Membangun Kebesaran Hidup (1)

Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah meraih kebesaran dalam hidup. maksudnya bukan kebesaran dalam ukuran badan ya. Tapi,  kebesaran dalam karya, manfaat, pertumbuhan pribadi, dan kontribusi untuk masyarakat luas.

Akhir-akhir ini dalam meraih kebesaran hidup itu, kita dihadapkan dalam tiga jenis sikap orang dalam memandang kebesaran hidup yang telah dicapai orang lain (apapun etnis, agamanya).
1. iri
2. dengki
3. terinspirasi

Orang-orang yang terinspirasi adalah orang-orang yang terbuka hatinya untuk belajar hal-hal yang baik dari orang yang dilihatnya. Intinya ia mau belajar.

Permasalahannya, terkadang ada saja ganjalan yang menyebabkan kita sulit untuk bergerak maju. Meninggalkan landasan pacu untuk terbang. Kenapa? Dan bagaimana solusinya?

Sahabat, kebesaran hidup seseorang biasanya akan ditentukan oleh tiga hal:

Pertama, Ikhlas melupakan rasa sakit dari masa lalunya, tapi tetap ingat pelajarannya.

Tidak mudah memang bagi orang kebanyakan untuk melupakan rasa sakit yang pernah ia alami di masa lalu. Apalagi orang yang bisa mengambil pelajaran darinya. Hanya orang-orang yang berjiwa besar dan Allah lapangkan dadanya untuk dapat mengikhlaskan masa lalunya.

Bagimana caranya?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...