Sabtu, 14 April 2018

Berlakulah Adil , Walau Pada Dirimu Sendiri !


Salah satu pesan khotib yang disampaikan dalam setiap jum'at salah satunya adalah Allah memerintahkan kita untuk bersikap adil dan ihsan. Salah satu tema yang jarang dimaknai dan dilaksanakan dengan baik oleh sebagian besar umat Islam, bahkan orang yang sering mengucapkan kata adil. Seperti yang kita tahu, Islam datang untuk menegakkan keadilan di bumi Allah. 
 
Allah menjelaskan bahwa tujuan diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab suci adalah demi terwujudnya keadilan diantara manusia.
 لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

“Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil.” (QS.Al-Hadid:25)

Saudaraku, salah satu kekeliruan yang sering terjadi ketika kita mendapatkan ilmu atau pencerahan adalah kita selalu mengukur dan menakar kesalahan orang lain dengan ilmu yang kita miliki. tentu ini tidak salah, akan tetapi  hendaknya kita juga harus ingat bahwa yang wajib mengamalkan ilmu itu adalah diri kita sendiri.
 
Sering kita menuntut keadilan pada hal-hal yang berkaitan dengan diri kita. akan tetapi, jika kita mau berkata jujur kepada diri sendiri.  jawablah dua pertanyaan berikut:

Apakah saya sudah berlaku adil kepada diri sendiri?

Apakah kita sering acuh bahkan berbuat dzalim pada urusan yang berkaitan dengan orang lain?

Artinya, Islam mengajarkan untuk menegakkan keadilan walau dengan menyalahkan dirimu sendiri. Dengan demikian, semoga keadilan yang kita tegakkan kepada diri kita sendiri. maka akan mewujud dan menyebar luas di tengah masyarakat karena kita menjadi sosok yang benar-benar patut di contoh.

Mengapa?

Karena sikap dan tindakan seseorang yang berlaku adil, lebih banyak memberikan inspirasi dan menggerakkan orang lain daripada puluhan retorika.

Mungkin hal ini terlalu abstrak, bagaimana contoh adil terhadap diri sendiri?

 Kita ambil contoh yang lebih spesifik, seorang muslim dengan dirinya sendiri, untuk jasmani misalnya, sudahkah kita berlaku sederhana dalam makan dan minum? berolahraga? berpenampilan bagus?

Urusan akal, sudahkah  kita gemar menuntut ilmu? berkesinambungan menuntut ilmu sampai mati? Khususnya ilmu-ilmu yang wajib diketahui oleh seorang muslim. memiliki wawasan luas?

Terkait Ruhiyah, sudahkah kita mengasah ruh dengan ibadah? berteman dengan orang-orang sholeh dan selalu berada di majelis iman? banyak membaca dan mengulangi doa-doa yang ma'tsur?

jadi, sungguh aneh, seringkali manusia teriak menuntut keadilan hanya pada sesuatu yang menimpa dirinya, keluarganya atau orang-orang yang berkepentingan dengannya. 

Secara lebih luas, mungkin keadilan itu terhadap hubungan seorang muslim dengan Tuhannya, seorang muslim dengan dirinya sendiri, Seorang muslim dengan kedua orang tuanya, seorang muslim dengan istrinya, seorang muslim dengan anak-anaknya, seorang muslim dengan keluarga dan kerabatnya, seorang muslim dengan tetangganya, seorang muslim dengan saudara-saudara dan teman-temannya.

jika Pekerjaan Rumah ini belum beres, tentu kita masih berat untuk beranjak ke arah yang lebih jauh. Karena Allah akan berikan kemenangan kepada para rasul dan sahabatnya, karena kebersihan hati mereka untuk jujur terhadap diri mereka sendiri, berlaku adil kepada orang lain, dan hati yang senantiasa terhubung kepada Rabbnya.

Ia menuntut keadilan dari orang lain, namun enggan untuk berbuat adil kepada orang lain.
Dan sekali lagi Al-Qur’an berpesan, 

“Tegakkan keadilan walau pada dirimu, keluargamu dan siapapun tanpa pandang bulu !”

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu.” (QS.An-Nisa’:135)

Saudaraku, dalam beberapa hal. Demi tegaknya keadilan kita harus tutup mata. Apa maksudnya?
Tutup mata bahwa itu adalah keluarga, kerabat atau orang kaya yang kita hormati, semuanya harus diperlakukan dengan sama dan seadil-adilnya.

Dalam ayat lain Allah menyebutkan bahwa terkadang manusia  tidak berbuat adil karena ada kebencian dalam hatinya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa.” (QS.Al-Ma’idah: 8)

Sering kita tidak berbuat adil karena yang kita hadapi adalah musuh kita atau orang yang tidak kita sukai. Siapapun dia, bila ia dalam posisi yang benar maka kita tetap harus bersikap adil padanya.

Konsep Islam adalah “Tegakkan keadilan walau pada musuh sekalipun !”


Apalagi, keadilan itu kita juga harus terapkan kepada sahabat dan saudara terdekat kita yang berselisih paham dengan kita. Bukankah semuanya nanti akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah?
Karena itu seringkali Allah berpesan,

ۚإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.” (QS.Al-Ma’idah:42)

Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah untuk melapangkan dada kita dan dapat berlaku adil, walau terhadap diri sendiri. Sehingga tegak pula keadilan itu dengan kokoh dan perkasa di tengah-tengah masyarakat kita. Aaamin. (RSP)


Photo Credit: repulika.co.id
Jakarta, 27 Rajab 1439 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih telah singgah! Semoga kita segera berjumpa lagi. Saya memberi hormat atas dedikasi dan komitmen Anda untuk terus tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Saya menantikan suatu waktu untuk dapat berjumpa dengan Anda suatu hari.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...