Selasa, 17 April 2018

Janji Ilahi dan Pengharapan


Perbincangan delapan mata yang kami lakukan malam itu sangat berkesan hingga saat ini. Satu hal yang selalu beliau ajarkan adalah untuk meluangkan waktu mengamati perkembangan keadaan sosial masyarakat, khususnya dalam media.  Tentu dengan dosis yang pas ya. Karena membaca Al-Qur’an sudah tentu wajib, mentadabburi, mengamalkan, dan mendakwahkannya.

Mengapa ini penting? Tentu fenomena yang terjadi di tengah-tengah umat ini kita harus carikan solusi dan sudut pandang yang tepat. Kami malam itu berbicara tentang kondisi negeri ini dan bagaimana cara yang tepat menyikapinya.

Saya memahami dengan baik, di tengah kondisi yang dianggap sebagian orang tahun politik saat ini. Kita tanpa sadar di bawah untuk saling membenci, saling menghujat, akhirnya terprovokasi tanpa sadar. Kecuali hamba-hamba Allah yang mendapatkan bimbingan dan hidup di bawah naungan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Faktanya di lapangan, sebagian masyarakat mudah termakan isu yang di jual oleh musuh-musuh islam yang tidak sedang dengan kemajuan islam. Saat itulah, dalam menyikapi gejolak yang terjadi di tengah masyarakat, ada yang terlalu ekstrem menyikapi dengan berlebihan dan ketakutan dan ada juga yang tidak peduli sama sekali dengan kondisi bangsa. Merasa bahwa bangsa ini akan aman dan terus ada sampai hari kiamat. 

Baca juga: Moral dan Peradaban Menurut Ibnu Khaldun

Bagaimana menyikapinya?

Di sinilah Ustadz Abdulrahman meminta saya untuk membuka Al-Qur’an dan membaca surat an-nuur ayat 55. Setelah membaca ayat tersebut, kami mendiskusikan secara garis besar maksud dan tujuan ayat ini.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (٥٥)

“Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (Q.S. An-Nuur: 55)

Tiba-tiba ketenangan itu timbul tanpa di undang. Ayat ini memberikan sebuah pengharapan dan janji Allah kepada orang-orang beriman. Di tengah arus informasi yang tidak menentu kejelasan sumbernya. Tetapi, Al-Qur’an dengan mukjizatnya selalu memberikan sudut pandang yang mencerahkan.

Pertemuan itu berakhir pukul 22.00, setiba di rumah, saya belum bisa tidur dan menggali lebih dalam apa maksud ayat di atas. Membaca beberapa kitab tafsir untuk melihat lebih luas dan dalam tujuan ayat ini diturunkan.

Ayat 55 ini adalah inti tujuan perjuangan hidup. dan inilah janji dan pengharapan yang telah dikemukakan Allah subhanahu wata’ala bagi setiap mukmin dalam perjuangan menegakkan kebenaran dan keyakinan di permukaan bumi ini.

Saya meyakini satu hal, bahwa kesuksesan itu selalu meninggalkan jejak. Jika kita konsisten untuk mengikuti jejak itu, kita akan sampai di tujuan.

Dan pokok pendirian mesti dipegang teguh dan sekali-kali jangan dilepaskan, baik keduanya atau salah satu di antara keduanya.

Pertama, ialah iman, atau kepercayaan.
Kedua, amal saleh, perbuatan baik, bukti dan bakti.

Kalau iman tidak ada pedoman pekerjaan, tidaklah tentu arahnya entah berakibat baik ataukah berakibat buruk. Iman sebagaimana telah berkali-kali diterangkan adalah pelita yang memberi cahaya dalam hati, menyinar cahaya itu keluar dan dapatlah petunjuk, sehingga nyatalah apa yang akan dikerjakan. Oleh sebab itu, iman dengan sendirinya menimbulkan amal yang saleh.

Banyak pula amalan saleh dikerjakan, tetapi jika tidak timbul dari iman, bercampur aduklah ia di antara yang hak dengan yang batil. Tetapi kalau keduanya telah bersatu padu, amal saleh timbul dari iman dan iman menimbulkan amal, terdapatlah kekuatan pribadi, baik pada individu ataupun pada masyarakat mukmin itu.

Maka kepada orang-orang seperti ini, atau masyarakat seperti inilah Allah  subhanahu wata’ala menjanjikan, bahwa mereka akan diberi warisan kekuasaan  di permukaan bumi ini. kendali bumi ini akan diserahkan ke tangan mereka, sebagaimana dahulu pun Allah telah memberikan warisan seperti itu kepada umat yang terdahulu dari mereka.

Dengan sendirinya, apabila kekuatan iman, amal saleh itu telah bersatu padu dan menimbulkan hasil nyata dalam masyarakat, maka agama yang dipeluk pun menjadi kokoh dan teguh,  berurat ke bumi, bercabang ke langit, tidak dapat diusik dan diganggu orang lagi. Sebab dialah agama yang diridhai Allah.

Kalau sekiranya selama ini dada rasanya berdebar, cemas ditimpa oleh takut, rasa-rasa akan ditimpa oleh bahaya juga, rasa-rasa agama ini akan diancam orang/kelompok yang tidak suka, sehingga keamanan dalam hati tidak pernah ada, namun apabila janji warisan itu telah dikabulkan Allah subhanahu wata’ala, rasa ketakutan itu akan hilang dengan sendirinya dan keamanan tercapai sebagai ganti dari ketakutan.

mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik. (ujung ayat 55)

Tentunya, semua yang dijanjikan Allah, memiliki persyaratan.

tetapi pokok keamanan itu diperingatkan kembali oleh Allah subhanahu wata’ala, yaitu sifat-sifat dan kelakuan yang dipunyai oleh umat beriman dan beramal saleh itu, yaitu mereka hanya beribadah kepada Allah. Mereka tidak mempersekutukan Allah subhanahu wata’ala dengan yang lain. Selama hal ini masih dijaga terus dan dipelihara, selama itu pula janji pewarisan itu tidak akan dicabut oleh Allah subhanahu wata’ala. Tetapi, kalau sesudah itu mereka kafir lagi, menolak dan ingkar lagi, niscaya mereka pun telah terhitung menjadi orang fasik. Jangan kecewa jika janji itu dicabut oleh Allah subhanahu wata’ala.

Sebagaimana telah kita ketahui bersama, surah An-nuur turun di Madinah setelah Nabi dan sahabat-sahabatnya itu berhijrah dari Mekah, menderita selama tiga belas tahun, berperang  dengan kaum musyrikin, padahal kaum musyrikin itu sebagian besar memiliki hubungan darah dan keluarga dengna mereka. Seakan-akan tidak terbuka sedikit juga pintu pengharapan. Malahan Nabi sendiri pun hendak dibunuh orang. Sekarang mereka telah berpindah ke Madinah. Pindah atau hijrah karena keyakinan bukanlah perkara mudah. Harta benda, rumah tangga, kampung halaman tempat diri dilahirkan, ditinggalkan karena menuruti suara keyakinan, suara iman.

Dan sesampai di Madinah tidak pula segera muncul sesuatu yang dicita-citakan itu berdiri. Ada halangan dari orang Yahudi, ada ejekan dari kaum munafikin dan ada pula ancaman dari kaum senegeri yang telah ditinggalkan itu, yaitu kaum musyrikin Mekah senantiasa hendak membalas dendam. Ditambah lagi dengan faktor yang keempat, yaitu orang Rum yang berkuasa telah hampir tujuh ratus tahun di bagian Palestina. Mereka pun cemas melihat kebangkitan umat baru ini.

Kadang-kadang seakan-akan gelaplah alam sekeliling, seakan-akan tidak ada titik terang dari luar. Maka datanglah ayat ini memberi peringatan kepada kaum muslimin, bahwa titik terang itu bukan di luar tempatnya dan bukan dari luar datangnya. Titik ternag itu ada dalam diri kita sendiri.

Masih adakah kita mempunyai kepercayaan? Iman?
Masih adakah kesanggupan beramal saleh? Berbuat baik?

Kalau keduanya ini masih ada, inilah dia kekuatan dan tenaga vital bagi seorang Muslim atau bagi suatu masyarakat islam. Karena kekuatan sejati itu bukanlah pada harta benda. Harta benda hanya alat untuk mencapai tujuan. Dan bukan pada banyaknya jumlah pengikut, karena banyaknya pengikut tidak ada manfaatnya  kalau kekuatan batin kosong melompong. Golongan yang banyak tidak mempunyai cita-cita, sebentar saja dapat dikalahkan oleh golongan yang sedikit yang mempunyai cita-cita. Dan bukan pula pada senjata. Kekuatan yang sebenarnya ialah pada yang berdiri di belakang senjata. Tetapi yang berdiri di belakang senjata itu pun tidak kuat, kalau jiwa yang memegang senjata itu tidak mempunyai arah tujuan.

Kehidupan di dunia ini adalah laksana lautan, tidak sekali ada laut yang tenang. Airnya beriak terus dan bergelombang dan berombak.

Kesusahan terletak dalam kemudahan dan kemudahan pun terletak dalam kesusahan.
Tanyailah dirimu sendiri, adakah engkau berbekal? Adakah engkau tahan menderita?

Di dalam ayat ini dijanjikan dengan tegas, asalkan iman dan amal saleh, artinya keteguhan jiwa dan daya karya usaha masih sejalin jadi satu dalam jiwamu, warisan itu pasti engkau terima.

Engkau bukan seorang umat Muhammad Shalaullahhu ‘alaihi wassalam kalau engkau berputus asa, dan engkau bukan umat Muhammad Shalaullahhu ‘alaihi wassalam kalau hidupmu tidak mempunyai pengharapan.

Ayat 55 surah an-Nuur inilah pegangan Nabi Muhammad  Shalaullahhu ‘alaihi wassalam bersama sekalian pengikutnya dari Muhajirin dan Anshar, selama sepuluh tahun di Madinah. Ayat inilah bekal Abu Bakar menundukkan kaum murtad, pegangan Umar bin Khaththab meruntuhkan dua kerajaan besar, yaitu Persia dan Rum.

Kekuasaan pasti diserahkan ke tangan kita dan agama kita pasti tegak dengan teguhnya dan keamanan pasti tercapai. Asal iman dan amal saleh juga dilepaskan dari pendirian.

Hidup itu adalah perjuangan, sekali ombak naik, sesekali ombak turun. Kadang-kadang kita memukul dan kadang-kadang kita terpukul.
Maka daya tahan kita ialah pada iman dan amal saleh.

Sekali Muhammad al-fatih, pahlawan Turki telah menyeberangi Tanduk Emas dan merebut Konstatinopel dan meruntuhkan sisi terakhir dari kerajaan Byzantium di tahun 1453, seluruh dunia islam bersorak mengucap syukur. Tetapi sekali pula kaum Muslimin diusir besar-besaran dan masjid-masjid dijadikan gereja, menaranya diambil penggangtungan lonceng oleh Raja Spanyol suami istri di tahun 1429.

Di tahun 1258 masuklah tentara Mongol dan Tartar ke negeri Baghdad, sesudah menghancur-leburkan, membunuhi dan membakar  negeri-negeri Islam di Asia Tengah. Mereka hancur-leburkan Baghdad, mereka bakari istana, mereka lemparkan beribu-ribu jilid, kitab-kitab pengetahuan Islam ke Sungai Dajlah, sehingga berubah air sungai itu jadi hitam karena tinta yang luntur, dan mereka bunuh khalifah.

Musuh islam menyangka, bahwa habislah Islam dengan runtuhnya Baghdad dan terbunuhnya khalifah. Tetapi, dalam masa setengah abad saja sesudah kejadian itu, cucu dari tentara Mongol penakluk itu sendirilah yang masuk ke dalam Islam, dan cucu-cucunya pula yang mendirikan kerajaan Islam Mongol di India.

Sejak tahun 1511 bangsa-bangsa Barat Kristen telah menjajah negeri-negeri Islam. Bangsa Kristen Belanda telah menguasai Indonesia selama 350 tahun. Orang menyangka habislah sudah Islam di Indonesia. Rupanya karena pengaruh ayat 55 surah an-nuur ini, tenaga  Islam bangkit kembali dan penjajahan terhapus sirna.

Negeri-Negeri Kristen membantu berdirinya Negara Israel di pusat kebudayaan dan peradaban Arab, yaitu Palestina. Lebih satu juga orang Arab penduudk asli Palestina, terusir dari kampung halamannya. Tetapi kejadian ini pulalah yang menjadi perangsang buat kebangkitan baru pada tanah-tanah Arab yang mengelilingi Palestina agar bersatu padu.
Di samping terusirnya satu juga umat Islam dari Palestina dan hidup menumpang-numpang di negeri tetangganya, 75 juta umat Islam di Indonesia mencapai kemerdekaan dan 75 juta umat Islam pula di Pakistan dapat mendirikan negara.

Di dalam memperjuangkan iman dan amal saleh tidaklah selalu kita menemukan jalan yang datar disirami minyak wangi. Kadang-kadang kita terbentur, sebagaimana Nabi dan para sahabatnya pun pernah terbentur. Kalau kita gagal sekali atau dua kali, ataupun kalau kita kalah, bukanlah berarti, bahwa yang kita tuju dan kita cita-citakan tidak benar, mungkin cara kita mencapai tujuan yang tidak kena jalannya.

Perjuangan menegakkan cita Islam, mencapai tujuan menjadi penerima waris di atas bumi, bukanlah kepunyaan satu generasi, dan jumlahnya bukanlah sekarang, melainkan menghendaki tenaga sambung bersambung.

Ayat inilah sumber inspirasi buat bangkit.

Tulisan terkiat: Teguhkan Pribadimu

Maka untuk menguatkan pribadi menghadapi segala kesulitan dan penderitaan mencapai tujuan itu, hendaklah selalu jiwa dikuatkan, sehingga tahan kena badai dan iman serta amal saleh itu tidak luntur.

Bagaimana cara memperkuat jiwa itu?
Bersambung.

Photo Credit: connaissanceetpartage.net

Jakarta, 1 Sya’ban 1439 H
Hamba Allah yang Mengharapkan Ridho dan Ampunan-Nya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih telah singgah! Semoga kita segera berjumpa lagi. Saya memberi hormat atas dedikasi dan komitmen Anda untuk terus tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Saya menantikan suatu waktu untuk dapat berjumpa dengan Anda suatu hari.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...