Senin, 09 April 2018

Membangun Kebesaran Hidup (1)

Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah meraih kebesaran dalam hidup. maksudnya bukan kebesaran dalam ukuran badan ya. Tapi,  kebesaran dalam karya, manfaat, pertumbuhan pribadi, dan kontribusi untuk masyarakat luas.

Akhir-akhir ini dalam meraih kebesaran hidup itu, kita dihadapkan dalam tiga jenis sikap orang dalam memandang kebesaran hidup yang telah dicapai orang lain (apapun etnis, agamanya).
1. iri
2. dengki
3. terinspirasi

Orang-orang yang terinspirasi adalah orang-orang yang terbuka hatinya untuk belajar hal-hal yang baik dari orang yang dilihatnya. Intinya ia mau belajar.

Permasalahannya, terkadang ada saja ganjalan yang menyebabkan kita sulit untuk bergerak maju. Meninggalkan landasan pacu untuk terbang. Kenapa? Dan bagaimana solusinya?

Sahabat, kebesaran hidup seseorang biasanya akan ditentukan oleh tiga hal:

Pertama, Ikhlas melupakan rasa sakit dari masa lalunya, tapi tetap ingat pelajarannya.

Tidak mudah memang bagi orang kebanyakan untuk melupakan rasa sakit yang pernah ia alami di masa lalu. Apalagi orang yang bisa mengambil pelajaran darinya. Hanya orang-orang yang berjiwa besar dan Allah lapangkan dadanya untuk dapat mengikhlaskan masa lalunya.

Bagimana caranya?

Dalam dunia neuro linguistik program (NLP) mungkin seseorang diajarkan bagaimana teknik menghilangkan trauma, rasa takut, melupakan masa lalu, dan memframing pengalaman pahit dari sudut pandang yang berbeda. Bisa jadi, dalam hitungan menit atau jam. Orang bisa sembuh. Tapi, kali ini saya ingin berbagi dari pengalaman pribadi dan dari sudut pandang seorang muslim.

Berhubung saya juga pernah mengalami hal ini, maka cara yang pernah saya tempuh dan masih maknyus untuk kondisi-kondisi genting adalah memohon ampunan kepada Allah dan berperasangka baik atas segala ketetapan-Nya.

Mengapa beristighfar? Karena salah satu makna dan manfaat dari memohon ampunan kepada Allah bukan saja, Allah akan hapuskan dosa-dosa yang pernah kita lakukan, tetapi Allah menghapuskan ingatan-ingatan kita tentang masa lalu. Apalagi masa lalu yang menyakitkan. Sehingga, kita fokus menatap masa depan untuk melangkah maju. Tidak berhenti sampai di sini, tiba-tiba saja ada ide-ide kreatif untuk melakukan aneka amal kebajikan.

Forget the past, but remember the lesson.

Lalu, berprasangka baik maksudnya apa?

Inilah ilmu yang sering terlewatkan dari kita sebagai muslim. Yaitu beriman kepada qoda dan qodar. Mengapa ini penting? Karena terkadang kita selalu memandang kehidupan orang lain. Selengkapnya baca di Berprasangka Baik.

Kenapa si fulan hidupnya enak terus, padahal tidak pernah sholat. Kenapa si A urusannya lancar, padahal jauh dari Allah. Atau ada juga terbesit dari hati kita, kenapa saya juga sama-sama sudah rajin sholat, ngaji, sedekah. Hidup saya juga beum berubah, sedangkan si dia hidupnya enak.

Inilah salah satu indikator buruk sangkanya kita kepada Allah. Izinkan saya bertanya, apakah Allah Maha Baik? Apakah Allah mengetahui kondisi hamba-hamba-Nya? Apakah Allah mengetahui kebutuhan-kebutuhan kita? Apakah Allah berkuasa mengabulkan hajat baik kita? Apakah Allah juga mampu menunda doa kita?


Jika kita terbiasa mengembangkan berprasangka baik kepada Allah, karena kita hamba Allah. Maka fokus kita adalah mengevaluasi keyakinan, pikiran, dan tindakan yang kita lakukan. Hasilnya Allah lah yang Maha Tahu kapan waktu terbaik hajat baik itu akan kita dapatkan.

Demikian dulu ya, semoga  poin kedua dan ketiga kita bahas pada pertemuan selanjutnya. (RSP)

Tulisan Terkait: Membangun Masa Depan

Jakarta, 23 Rajab 1439 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih telah singgah! Semoga kita segera berjumpa lagi. Saya memberi hormat atas dedikasi dan komitmen Anda untuk terus tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Saya menantikan suatu waktu untuk dapat berjumpa dengan Anda suatu hari.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...